Jumat, 20 Januari 2012

Bagaimana Kisah Mempengaruhi Sistem Keyakinan

Beberapa hari ini, aku menemukan sebuah buku menarik yang ditulis oleh Anthony de Mello yang berjudul The Way to Love. Buku ini merupakan kumpulan tuntunan meditasi terakhirnya yang berjumlah 31 butir tuntunan. Membaca butir-butir awal, aku sungguh merasa terpesona dengan model berpikir Anthony de Mello. Anthony mengajak setiap pembaca bukunya untuk melihat kembali akan konsep-konsep diri yang telah tertanam sedemikian rupa. Ia menunjukkan bahwa konsep-konsep itu membuat hidup kita terbelenggu karena harus mengikuti dan memenuhi segala macam tuntutan di dalamnya. Kebahagiaan kita pun sering atau bahkan justru tergantung dari konsep-konsep yang telah kita buat sendiri. Kita akan bergembira dan bersukacita apabila realitas yang kita hadapi sesuai dengan konsep-konsep kita, sementara jika realitas itu berbeda dengan konsep yang ada pada diri kita, kita pun terpuruk dan tidak bahagia. Dengan demikian, kebahagiaan kita ditentukan oleh hal-hal di luar diri kita. Apakah memang demikian sebenarnya kebahagiaan kita?

Jumat, 13 Januari 2012

Mencintai Hingga Sakit

Aku berjanji, aku akan mulai menulis lagi. Tulisanku ini untuk meredam segala luka hati yang entah untuk kesekian kalinya mesti kualami. Aku bersyukur atas itu semua karena dulu aku pernah meminta kepada Tuhan bahwa biarkanlah penderitaanku terus ditambah. Jika Tuhan mengabulkan, mengapa sekarang aku justru mengingkarinya? Aku mau menerimanya dan membiarkan rasa sakit ini menyatu di dalam seluruh realitas diriku. Aku punya harapan, untuk boleh merasakan cinta sejati, seperti Tuhan yang rela disakiti karena kasihNya. Dan meski aku merasa sakit, aku tidak akan pernah melihatnya sebagai akibat dari seseorang ataupun hal yang aku cintai itu, aku akan melihatnya sebagai konsekuensi dari mencintai.

Mencintai Hingga Sakit

Aku berjanji, aku akan mulai menulis lagi. Tulisanku ini untuk meredam segala luka hati yang entah untuk kesekian kalinya mesti kualami. Aku bersyukur atas itu semua karena dulu aku pernah meminta kepada Tuhan bahwa biarkanlah penderitaanku terus ditambah. Jika Tuhan mengabulkan, mengapa sekarang aku justru mengingkarinya? Aku mau menerimanya dan membiarkan rasa sakit ini menyatu di dalam seluruh realitas diriku. Aku punya harapan, untuk boleh merasakan cinta sejati, seperti Tuhan yang rela disakiti karena kasihNya. Dan meski aku merasa sakit, aku tidak akan pernah melihatnya sebagai akibat dari seseorang ataupun hal yang aku cintai itu, aku akan melihatnya sebagai konsekuensi dari mencintai.

Mencintai hingga sakit. Aku sering mendengar kata-kata ini, namun aku tak sungguh-sungguh mengerti maknanya, hingga aku sendiri mengalaminya. Mencintai hingga sakit itu seperti halnya kasih ibu. Seorang ibu rela menderita demi kehidupan dan pertumbuhan anak-anaknya. Itu yang bisa kulihat, selain itu aku belum tahu.

Saat ini aku benar benar merasa sakit, atas segala kenyataan yang kuhadapi. Ketika perjuangan dan keinginan tidaklah selalu sesuai dengan kenyataan. Perasaan kesia-siaan itu muncul dan ini amat menyakitkan. Aku tak akan pernah merasa bahwa cinta yang hadir dalam perjuangan ini berakhir sia-sia. Tidak sama sekali. Sebab justru ketika aku belajar untuk tidak lagi memikirkan keinginan diri sendiri, dan membiarkan kesia-siaan menyambutku, aku tengah menemukan dan berjumpa dengan makna cinta yang sesungguhnya. Sebagaimana salib pun akhirnya  dipilih dan dijadikan tahta Sang Kasih, Yesus Kristus. Segala macam perjuangan dan cita-cita dunia seolah berakhir sia-sia di atas salib, namun salib pula yang menjadi wujud suatu keagungan cinta. Di saat pengharapan itu seolah menguap tak berbekas, aku justru dihadapkan pada suatu keyakinan bahwa itulah cinta yang abadi, ketika kita bahkan sampai berani mengorbankan pengharapan kita demi cinta. Dan itulah arti ‘kehilangan nyawa’ untuk memperoleh kembali ‘nyawanya’.

Secara manusiawi, hal ini amat sulit untuk dimengerti dan diterima. Sebab manusia itu rapuh dan berdosa. Ia selalu lekat dengan keinginan-keinginan, dan itu pula yang mencambuknya untuk kesekian kali. Setiap keinginan itu akan meninggalkan bekas luka yang tidak mudah untuk dihapus begitu saja. Namun aku percaya, pengorbanan ini bukanlah suatu kesia-siaan. Itulah arti mencintai hingga sakit. Dan jika kita hanya berfokus pada kesakitan diri sendiri, itu juga belum merupakan kasih yang sempurna karena kita masih mementingkan diri sendiri. Mencintai hingga sakit berarti harus berani pula untuk merasakan serta memahami penderitaan orang yang dicintainya itu, dan berjuang untuk membasuh luka mereka tanpa memperdulikan penderitaan diri sendiri. Dan dengan demikian, mencintai hingga sakit tidaklah berkesudahan. Ia tidak akan pernah menyerah untuk selalu mencinta karena satu-satunya hal yang bisa dilakukannya hanyalah mencinta. Mencintai hingga sakit selalu jujur dengan kenyataan dan berusaha menerima kenyataan itu dengan hati terbuka. Dan mencintai hingga sakit itu, tidak pernah kehabisan pengharapan. Ia akan menerima mati raga itu seperti korban bakaran yang dipersembahkan untuk Tuhan bagi keselamatan jiwa-jiwa. Ia seperti jembatan yang merelakan dirinya diinjak-injak orang agar orang sampai ke tujuan kebahagiaannya. Dan di dalam penderitaannya, ia akan selalu bahagia. Sebab dengan begitu, ia bisa selalu setia dalam alur panggilannya yang sejati. Marilah kita berani mencintai hingga sakit.

Senin, 19 Desember 2011

Keindahan Sakramen Tobat

Setelah menerima sakramen Tobat, aku selalu merasa damai, bahagia dan penuh harapan. Meski di depan aku tidak tahu apakah akan jatuh dalam dosa lagi, namun aku sungguh merasakan betapa Tuhan mengasihiku. Dengan demikian, aku tak takut lagi mengungkapkan segala kerapuhanku kepada romo yang melayani sakramen Tobat.  Saat menghadap romo tersebut, aku sungguh merasakan kehadiran Tuhan yang menyapa lembut dan penuh kasih. Aku merasakan kehadiran Tuhan yang berkenan menerimaku dengan segala kedosaan yang ada padaku. Ibaratnya aku ini telah terjatuh di lumpur yang kotor dan bau, namun Tuhan berkenan memandikanku dan membuatku bersih kembali. Saat itulah aku memiliki kesempatan untuk memohon kepadaNya kekuatan kembali untuk bangkit dari segala keterpurukanku. Sebab tanpa kekuatanNya, aku tak mampu bangkit dari segala kedosaan ini.

Sabtu, 17 Desember 2011

Seminaris Pertama : Catatan dari Aquila Tahun 1962

Bagaimanakah bangkitnya keinginan anak Djawa yang pertama-tama untuk menjadi pastor? Hingga tahun 1909 di Misi hanya ada pastor-pastor Belanda yang dalam pandangan anak Djawa betul-betul masih gagah dan kuat. Tetapi usianya paling muda 45 tahun, seperti R. V. Lith, Mertens, dan van Thiel. Di mata orang luar biasa hidupnya, mengherankan kalau dibanding dengan hidup umum. Tetapi tidak menarik keinginan kita: meniru menjadi pastor.

Minggu, 11 Desember 2011

Biarlah diriku dipeluk oleh-Mu Tuhan.................

Tuhan, aku sangat merindukanMu. Telah banyak waktu aku buang begitu saja demi kepentinganku sendiri. Aku tidak sungguh-sungguh menghayati panggilan ini semestinya. Terlalu banyak dosa yang sengaja kubuat, bahkan dengan bebas itu aku memilihnya. Badan dan jiwaku letih karenanya. Aku ingin kembali padaMu. Ketika tidak banyak hal lagi yang kuinginkan selain memelukMu selalu. Namun masih banyak dosa yang melekat di diriku ini. Sungguh aku tak pantas karenanya. Namun aku sungguh rindu padaMu. Ingin segera beristirahat di dalam pelukanMu. Hatiku begitu sakit karenanya setelah melihat betapa rapuh dan bodohnya aku, betapa berdosanya aku.

Senin, 05 Desember 2011

Menjadi Saksi Kedatangan Sang Terang

Natal tahun 2011 segera tiba. Hari natal bagi kita adalah hari yang istimewa karena Tuhan Yesus, Sang Sabda Allah, berkenan tinggal di tengah-tengah kita. Inkarnasi Sabda Allah di dalam pribadi Yesus terungkap dalam peristiwa Natal. Pada saat itulah, Tuhan menyatakan diri berpihak pada kita, manusia yang rapuh dan berdosa ini untuk diangkat ke martabat sebagai putera-puteri terkasihNya oleh kelahiran Kristus. Pada saat itu, manusia yang hidup dalam dunia kegelapan telah mendapatkan Terang Sejati yakni Tuhan kita Yesus Kristus. Setiap kali kita merayakan Natal, kita merayakan kedatangan dan keberpihakan Tuhan yang telah mengirimkan Terang Sejati untuk menerangi manusia yang hidup dalam kegelapan karena dosa.