Jumat, 26 Agustus 2011

Kekuatan Doa

Para sahabatku terkasih, di dalam hidup ini...jalan yang kita lalui tidaklah selalu mulus. Pasti ada hal-hal yang membuat kita lemah dan tak berdaya, menderita dan terpuruk. Meski begitu, kita takkan menyerah, karena Allah telah memberi kepada kita hari yang selalu baru...yang selalu memuat pengharapan....jika kita sungguh merasa penat, lelah, sakit dan tak mengerti akan arti pengalaman kita ini......marilah sejenak kita membiarkan diri digendong, dipeluk, dan akhirnya ditopang olehNya..........di dalam doa-doa kita....doa-doa kita kan membawa kita semakin dekat dengan Allah...segala jawaban atas segala hal yang tak mungkin kita pahami dalam hidup ini....Doa akan mengubah diri kita...semakin dekat dengan Allah...Sumber kebahagiaan sejati....

Selasa, 16 Agustus 2011

Catatan dari Sragen (2)



Ketika hadir di paroki yang sama sekali baru bagi pastor yunior sepertiku (yang baru pertama kali mengalami tugas di paroki), aku mencoba menemukan sosok panutan yang dapat dijadikan referensi dalam menjalankan tugas. Referensiku mengarah pada sosok imam misionaris Jesuit yang bersemangat dalam menjalankan karya misi bagi orang Jawa, Pater van Lith. Aku berusaha menyadari bahwa aku masih muda dan belum berpengalaman dalam karya pastoral paroki. Modalku adalah semangat dan keberanian untuk selalu mau belajar dari apapun juga dalam tugas pewartaan Kabar Gembira Kristus ini. Tidak banyak idealisme yang kubawa selain ingin menjadi sahabat bagi umat di paroki yang kulayani ini, paroki Sragen. Selain juga aku ingin menjadikan tugasku ini sebagai pemurnian diri terus menerus atas diriku yang masih begitu rapuh ini. Dan aku pun mencoba belajar dari sosok Pater van Lith.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Menjamah Yesus Dalam Ekaristi


Berikut ini adalah pengalaman Suster Briege McKenna, OSC, seorang suster yang memiliki anugerah menyembuhkan penyakit melalui doa-doanya. Suster ini memberi kesaksian bagaimana Ekaristi menjadi kekuatan penyembuhan yang luar biasa, sebab dengan mengikuti Ekaristi dan menerima Tubuh Kristus, kita seperti wanita yang sakit pendarahan, dan menjamah jubah-Nya saja telah sembuh. Dengan Ekaristi, kita menerima tubuh Kristus sendiri, Sang Penyembuh yang sejati. Suster ini amat mencintai Ekaristi, bahkan menyisihkan waktunya selama 3 jam setiap hari untuk adorasi kepada sakramen Mahakudus.



Aku ingat sekali lagi akan kisah wanita yang menyentuh jumbai jubah Yesus. Sekarang aku ingin menceritakan beberapa peristiwa yang dapat menjelaskan gagasan Injil ini.
Salah satunya ialah kisah mengenai seorang imam muda. Ia menelepon aku. Dari nadanya tampak bahwa ia sangat cemas dan takut. Ia baru saja tahu bahwa selaput suaranya kena kanker dan dalam tiga minggu ia harus menjalani operasi mengangkat selaput itu. Ia berkata bahwa ia putus asa. Baru enam tahun yang lalu ia ditahbiskan.

Pulang ke HatiMu


Bekerja dengan prinsip ‘asal bapak senang’. Sesuaikah dengan iman Kristiani?



Ilustrasi
Pada zaman dahulu kala, seorang raja ingin menikahkan putrinya dengan seorang pria yang layak. Sang raja lalu mengadakan sayembara bagi para pria yang mampu mencuri sesuatu dari dalam istananya yang dijaga ketat, tanpa ketahuan oleh siapa pun. Pemenangnya berhak untuk menikahi putrinya.  Dalam kurun waktu yang ditentukan, banyak pemuda mengikuti sayembara ini dan menunjukkan kebolehannya. Mereka mengerahkan berbagai kelihaian dan kesaktian untuk menerobos penjagaan ketat di istana. Pada hari penentuan, para peserta dikumpulkan.  Pemuda pertama dipanggil menghadap raja dan ditanya hasilnya, ia menjawab, Saya mencuri batu rubi ini dan tak seorang pun di istana yang mengetahuinya.Raja menjawab, bukan kamu pemenangnya.  Pemuda kedua maju, semalam saya mengambil kereta kencana dan membawanya keluar gerbang, para penjaga saya buat terlelap semua, tak ada yang melihat saya. Raja mempersilakan peserta itu duduk kembali.  Dengan percaya diri, peserta berikutnya menghadap, ampun Paduka, sayalah yang mengambil mahkota Paduka dari kamar Paduka, dan seluruh barisan pertahanan istana tak ada yang menyadarinya. Raja hanya menggeleng.  Semua orang jadi bingung, karena masih saja belum ada yang dinyatakan sebagai pemenang.  Akhirnya, seorang pemuda menghadap dengan tangan kosong dan berkata, saya tidak mendapatkan apa pun. Raja menjawab, mengapa? Pemuda tersebut menjawab, sungguh tidak mungkin kita bisa mencuri tanpa ketahuan oleh siapa pun, karena setidaknya selalu ada satu orang yang mengetahuinya, yaitu diri kita sendiri.  Raja pun tertawa lebar dan menyambut sang menantu barunya. Betapa damai dan membahagiakannya dunia kita ini, jika setiap orang mengindahkan suara hatinya.  Pada dasarnya nurani setiap orang adalah bersih adanya. Di dalam hati kita, setidaknya selalu ada rasa malu untuk berbuat buruk dan rasa takut akan akibat berbuat buruk. Suara hati yang bersih adalah penjaga dunia sejati. Masalahnya, apakah kita memelihara dan mengindahkan suara hati kita atau tidak.

Jumat, 12 Agustus 2011

This Humanity Struggle is Based on Faith

Sejenak aku teringat dengan kata-kata Uskup Romero ketika berkotbah di pemakaman sahabatnya, Pater Rutilio Grande yang meninggal karena ditembak oleh para algojo milik tuan-tuan tanah di El Savador. Uskup Oscar Romero menegaskan bahwa perjuangan kemanusiaan yang diperjuangkan oleh Pater Grande itu berlandaskan pada iman akan Yesus Kristus, bukan berlandaskan pada doktrin Marxist seperti yang dituduhkan oleh rezim penguasa lalim El Savador saat itu. Perjuangan untuk menegakkan keadilan dan kemerdekaan bagi para petani serta orang-orang miskin yang dilakukan oleh pastor sederhana itu berakar kuat pada iman akan Kristus. Umat saat itu sungguh menderita karena menjadi korban kesewenang-wenangan para penguasa yang lalim.

Kamis, 11 Agustus 2011

Kesalahan dan Kegagalan itu juga punya makna

Ketika badan ini mulai lelah dan mata telah merengek untuk dipejamkan, aku menghela nafas sebentar sambil mengingat waktu-waktu yang telah berlalu. Syukur atas waktu-waktu dengan segala ceritanya yang terangkai dalam kisah hidup ini. Kembali kuingat perjalanan hari ini. Kuingat kembali rasa yang telah ada dan akan selalu ada. Kuingat kegelisahan yang menjadikanku hidup. Dan kuakrabi kembali kesalahan demi kesalahan yang tak terelak. Semua itu adalah simphoni hidup yang penuh warna.

Syukur atas apa yang telah berlalu, yang kini tengah berlangsung dan apa yang akan terjadi. Dalam cerita-cerita itu, selalu ada damai, kegelisahan, suka duka, gembira, kerinduan, kecemasan dan berbagai macam hal lainnya. Itu semua datang silih berganti. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk masing-masing rasa itu tinggal dalam realitas diri, semuanya memiliki peran yang penting. Namun kadang orang begitu akrab dengan kesalahan dan kegagalan. Buktinya, ketika kesalahan dan kegagalan itu datang menghampiri, bekasnya akan terus ada, meski sebenarnya mereka juga tidak akan ada selama mungkin di dalam kehidupan seseorang. Kegagalan dan kesalahan itu seperti luka-luka pada tubuh, yang akan sembuh, meski meninggalkan bekas luka. Apa maksud semuanya itu? Mengapa harus ada kesalahan dan kegagalan? Mengapa Tuhan tidak membuat hidup kita ini mulus tanpa ada bekas luka akibat kesalahan dan kegagalan?