Minggu, 04 Februari 2018

APA ITU KEBENARAN? (6)


Suatu kali ada seorang OMK bertanya kepadaku: kenapa orang begitu mudah melihat kejelekan atau kesalahan orang lain, sementara jarang yang berani mengakui kesalahan dan kejelekan diri sendiri. Lalu aku pun menjawab bahwa setiap orang pasti lebih mudah untuk mementingkan diri sendiri. Dengan membicarakan kejelekan orang lain atau pun kesalahannya, seolah diri sendiri mendapatkan kebenaran dan tidak lebih buruk dari orang lain. Itu kecenderungan yang alamiah, seperti ketika kebanyakan orang akan mencari keselamatan sendiri ketika kapal yang ditumpanginya karam. Jarang ada orang yang merelakan pelampungnya untuk dipakai orang lain agar orang itu selamat.  Itulah manusia, maunya selalu menjadi pemilik kebenaran dan dengan begitu terselamatkanlah dirinya. Tapi apakah itu kebenaran?


APA ITU KEBENARAN? (5)


Kebenaran itu sesuatu hal yang menggelisahkan. Pernyataan ini mungkin ada sebagian orang setuju, namun ada juga yang tidak setuju. Aku pun tidak ingin mempertentangkan pernyataan itu. Aku hanya ingin merenungkan kembali tentang betapa berlikunya jalan kebenaran itu. Mungkin di sepanjang segala abad, kebenaran akan terus mengambil jalan berliku. Hal ini bisa dilihat dengan beragamnya agama agama yang muncul di tengah-tengah dunia ini yang semuanya mengklaim bahwa yang dibawanya adalah sebuah kebenaran. Klaim itu pun kadang disertai dengan tindakan-tindakan kekerasan yang membuat kebenaran seolah berdiri gagah dengan taring dan kuku-kuku mengerikan. Bahkan tidak segan-segan kebenaran yang diklaim oleh berbagai macam agama itu menyerang, mencakar, menggigit, menendang, serta memakan klaim kebenaran lainnya dan mengatakan bahwa kebenaran di luar klaim agamanya adalah sebuah kebenaran palsu. Kita tahu, bagaimana jalan kebenaran itu begitu berliku, ketika Martin Luther menyatakan diri meninggalkan Gereja Katolik dan membangun gerejanya sendiri. Kita pun tahu, bagaimana jemaat Ahmadiah dikatakan sesat oleh orang-orang Muslim. Pun ada juga pertentangan antara Sunni serta Syiah dalam kebenaran muslimin (Islam). Belum lagi aliran budhisme Hinayana, Mahayana. Mereka pasti punya klaimnya sendiri tentang kebenaran, bahkan akhirnya muncul para atheis yang juga pasti punya klaim kebenarannya sendiri.

APA ITU KEBENARAN? (4)



Dalam perkawinan Katolik, dikenal dan diterapkan prinsip unitas dan indisollubilitas (kesatuan dan ketakterceraian). Selain itu, dalam perkawinan Katolik tidak mengenal apa itu poligami dan poliandri. Banyak orang Katolik setuju dan menjalankannya dengan setia prinsip-prinsip itu, namun pada kenyataannya, ada juga yang memilih untuk dicederai atau mencederai prinsip itu. Ada beberapa pasangan Katolik yang akhirnya berpisah, ataupun memiliki selingkuhan. Jika prinsip pertama disebut sebagai kebenaran, tentu tindakan dicederai dan mencederai prinsip itu adalah tindakan mengabaikan kebenaran. Dalam ranah ini, kebenaran adalah bagi mereka yang mampu dengan setia berpegang pada prinsip itu, sementara yang akhirnya tak mampu setia, ia termasuk bagian dari mereka yang tidak benar. Tetapi apakah dalam situasi dicederai dan mencederai itu tidak terkandung kebenaran? Kenapa perkawinan di luar Katolik mengenal perceraian dan itu dianggap wajar? Mengapa sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran dianggap sebagai suatu hal yang wajar? Apakah karena kebenaran juga “ada” dalam sisi lain prinsip itu sehingga dianggap hal wajar?


APA ITU KEBENARAN? (3)


Suatu ketika Sunan Kalijaga berdiri di tepi pantai, dalam hati ia sangat merindukan bisa pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Keinginan pergi ke Mekah ini sebenarnya adalah perintah dari gurunya, Sunan Bonang. Maka dengan cara apapun, Sunan Kalijaga akan berjuang melaksanakan perintah gurunya itu. Ia kemudian terjun ke laut, dan berenang menyeberangi laut. Ketika mencapai tengah samudera, Sunan Kalijaga melihat ada seseorang berjalan di atas air, dengan tenang menghampirinya dan menyapanya. Orang itu adalah Nabi Khidir. Nabi Khidir pun menunjukkan kepada Sunan Kalijaga bahwa segala tindakan dalam hidup ini haruslah direnungkan dengan sungguh-sungguh maksud serta tujuannya. Ia menjelaskan bahwa tidak ada gunanya ke Mekah jika Sunan Kalijaga hanya ingin mengunjungi Ka’bah yang terbuat dari batu, tanah dan kayu. Kabah sesungguhnya adalah Kabatullah (Ka’bah Allah), dan itu letaknya di dalam hati setiap orang. Nabi Khidir menunjukkan bahwa setiap hati manusia adalah Ka’bah Allah.



APA ITU KEBENARAN? (2)


Berbicara tentang kebenaran, mungkin memang memerlukan berjuta-juta kata untuk menjelaskannya, namun mungkin juga tanpa kata. Yang paling mudah dikatakan, adalah kebenaran itu sebuah misteri. Sebagaimana Yesus yang tetap diam ketika Pilatus menanyakan tentang kebenaran kepadaNya.  [Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku." Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?" (Yoh 18:37-38)].

Aku setuju dengan komentar salah satu temanku, bahwa kebenaran itu relatif sekaligus absolut. Seperti istilah: “Perubahan adalah ketidakberubahan itu sendiri”, di dalam perubahan yang terus terjadi, di sanalah terdapat ketidakberubahan. Atau dengan kata lain, ketidakberubahan itulah perubahan yang terus menerus terjadi. Ketika kita mengabsolutkan kebenaran, maka kebenaran itu akan menjadi begitu miskin; namun jika kita merelatifkan kebenaran, kita tengah menyangkal keberadaan Sang MahaBenar yakni Tuhan Allah itu sendiri. Lalu bagaimana pertanyaan Pilatus hendaknya dijawab? Bahkan Yesus pun diam seribu kata. Ia hanya menunjukkan kebenaran dengan keberanianNya memilih taat dalam cinta kepada Allah dan manusia. BagiNya, kebenaran itu menyatukan, meski realitas yang ada dalam dunia ini tetap berbeda-beda. Ia seperti bangunan Candi Borobudur, yang terdiri antara Kamadhatu (lambang nafsu  tak teratur), Rupadhatu (relief yang menggambarkan tentang usaha untuk melepaskan diri dari nafsu namun masih terikat pada rupa dan bentuk), serta Arupadhatu (pencerahan tertinggi ketika manusia hanya tertuju pada Nirwana). Ketiga hal itu tak dapat dipisahkan, jika kita hendak berbicara tentang kebenaran dalam ranah manusia. Meski demikian, gambaran itu pun tentu masih begitu miskin dibandingkan dengan hakikat kebenaran.


APA ITU KEBENARAN? (1)


Setelah menonton Film Silence, adaptasi dari Novel berjudul sama karangan seorang novelis Jepang, Shusako Endo, terbersit dalam benakku sebuah pertanyaan: apa itu kebenaran? Pertanyaan ini terlahir dari secuil pemahaman bahwa ternyata pewartaan iman Kristen telah melukai hati sebagian orang Jepang. Lantas dari luka itu, otoritas yang berkuasa mengambil kebijakan untuk menyerang balik dengan memotong akar pewartaan iman Kristen. Bagi mereka, tindakan memotong akar ini adalah sebuah kebenaran, sama halnya pewartaan para misionaris bagi orang Jepang. Pada akhirnya, kebenaran tetap menjadi sebuah pertanyaan. Ketika beberapa imam, bahkan imam terakhir yang berkarya di Jepang akhirnya berujung pada kemurtadan, di sisi lain tidak sedikit orang Jepang yang rela mati sebagai martir demi iman Kristen, kebenaran tetap menjadi sebuah misteri. Inilah kegelisahan para pastor yang akhirnya murtad itu. Kenapa kebenaran begitu berliku jalannya, kenapa keberadaannya begitu tersembunyi? Bagi orang Jepang yang memurtadkan para imam itu, tindakan kemurtadan para imam merupakan jalan penuh rahmat yang mengantar pada Tuhan, sementara bagi para martir asli Jepang, kemartiran merupakan jalan menuju Firdaus (Paraiso). Dan kebenaran tetaplah bungkam, sehening Kristus yang tidak melawan ketika dibawa ke penyaliban. Itukah kebenaran?

KONTROVERSI KELAPA SAWIT


Melalui tulisan ini, aku hendak sedikit curhat tentang keberadaan perusahaan perkebunan sawit yang ada di daerah dimana aku tinggal sekarang. Aku tak hendak menilai, apalagi menghakimi, atau membuat analisis tentang itu, aku hanya ingin curhat saja. Memang ketika muncul sebuah perusahaan tertentu, selalu ada pro dan kontra yang menyertai. Bagi yang pro dengan munculnya perusahaan, ini pasti terkait dengan majunya infrastruktur, terciptanya lapangan pekerjaan, dan juga pertumbuhan ekonomi akibat dari keberadaan perusahaan tersebut. Tapi bagi mereka yang kontra, ini lebih terkait dengan dinamika tetang bagaimana perusahaan tersebut dijalankan, sesuai dengan prinsip keadilan atau justru penindasan. Yang kutemui di lapangan, kedua hal ini selalu ada.