Rabu, 27 Februari 2013

Doa Syukur dan Permohonan Untuk Gereja Katolik Semesta Atas Penggembalaan Bapa Suci Benedictus XVI dan pemilihan Sri Paus yang baru



Para Rama, Rama Paroki, Suster/Bruder/Frater serta saudari-saudara terkasih, seperti sudah kita ketahui bersama, Bapa Suci Benediktus XVI pada tanggal 11 Februari 2013 mengumumkan secara resmi pengunduran dirinya. Pengunduran diri Bapa Suci berlaku secara efektif mulai hari Kamis, 28 Februari 2013 pada pukul 20.00 waktu Roma atau Jumat, 1 Maret 2013 sekitar pukul 02.00 WIB.
Dalam kerangka pengunduran diri Bapa Suci Benediktus tersebut, kami mengajak seluruh umat di Keuskupan Agung Semarang untuk ikut ambil bagian dalam dinamika Gereja Semesta. Di tengah aneka issue pengunduran diri tersebut, kita ingin secara khusus berdoa bagi Gereja secara bersama-sama. Ajakan ini berangkat dari tulisan Paus Yohanes Paulus II yang terdapat dalam Dominicae Cenae: “Gereja dan dunia sungguh memerlukan kebaktian kepada Ekaristi Mahakudus. Yesus menantikan kita dalam Sakramen Kasih-Nya ini. Marilah kita tidak berhemat dengan waktu kita. Marilah kita tidak hitung-hitung dengan waktu kita untuk menjumpai Tuhan dalam Adorasi dan kontemplasi yang penuh iman dan siap memberi silih bagi dosa besar dan kejahatan dunia. Semoga adorasi kita tak akan pernah berhenti!”. Tuhan Yesus sendiri menegaskan dan mengajak kita menjadi penyembah-penyembah yang benar pada jaman ini “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian” (Yoh. 4:23).

Jumat, 18 Januari 2013

Orang-Orang Indonesia Semakin Irasional?


Miris mendengarkan dan menyaksikan berita akhir-akhir ini di media-media tentang berbagai macam kejadian di Indonesia. Kejadian-kejadian itu seakan menunjukkan betapa negara ini tengah dilanda oleh virus   irasonalitas. Salah satu contoh misalnya: oleh sekelompok Ormas, banjir di Jakarta yang terjadi pada tahun ini disebabkan oleh karena patung telanjang di Istana Negara, lantas adanya peraturan yang meyatakan larangan membonceng mengangkang bagi perempuan, penutupan sekolah-sekolah yang tidak mau menerapkan aturan walikota, pemerkosaan oleh ayah kandung sendiri,  kisruh persepakbolaan nasional dan masih banyak lagi. Virus irasionalitas itu muncul ketika ide dan gagasan sekelompok orang tertentu itu hendak dipaksakan ke dalam komunitas masyarakat umum, atau ketika jawaban solusi tidak menyangkut sama sekali dengan akar persoalan. Mungkin orang-orang Indonesia sekarang ini terlalu tergesa dengan hidupnya, atau mungkin sudah lelah untuk mencari mana akar persoalan yang terjadi.
Ketika jawaban spontan, reaksioner dan diskriminatif itu dijadikan kata akhir, maka irasionalitas mulai tampak. Proses komunikasi politik yang sebenarnya adalah tindakan rasional, demi kepentingan umum tidak lagi berjalan normal. Yang ada hanyalah suara mayoritas yang ternyata justru jauh dari masuk akal. Dan anehnya, hal-hal itu justru menjadi berita besar dalam hidup bangsa ini. Mau sampai kapan, Indonesia akan terkungkung dalam irasionalitas ini? Mau sampai kapan golongan minoritas dan marginal akan terus terpinggirkan?
Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang rasional, visioner dan juga tidak sekedar pencitraan. Sehingga kepentingan umum menjadi dasar yang hakiki dari setiap proses politik, bukan sekedar suara mayoritas. Jika mengandalkan suara mayoritas, bisa jadi Indonesia ini ibarat sekumpulan orang bodoh yang mengarahkan kapalnya ke pusaran air besar karena dipahami bahwa pusaran air besar itu adalah pintu surga. Mengapa kebodohan itu terus dijadikan suara mayoritas. Mengapa suara hati yang unik, murni dan baik itu kalah dengan suara mayoritas yang seringkali justru membungkam hati nurani?
Tidak perlu menyalahkan siapapun dalam situasi ini, tetapi marilah kita mulai kritis dari diri sendiri. Menyikapi segala bentuk irasionalitas dengan daya nalar yang masih utuh, disertai dengan hati nurani yang masih bersih. Semoga, dengan begitu, irasionalitas dapat dikikis dan digantikan dengan rasionalitas berdasarkan hati nurani bersih. Jangan sampai negeri ini terperosok ke dalam lubang kehancuran, karena  kebodohan mayoritas, dan mayoritas yang bodoh.

Jumat, 07 Desember 2012

Ketika Tuhan Bungkam (Sebuah Puisi)


Sekerat daging tumbuh dalam bisu
Menjadi besar dalam hening
Bermandikan hujan pertanyaan
Bernafaskan misteri

Tawa dan tangislah bahasanya awal mula
Sebab terlampau banyak kata-kata yang akhirnya sirna
Ia merengek, Ia terkekeh dalam waktu yang terus melaju
Matanya menangkap kerlip bintang dan sorot mentari
Berdiri mengangkang sebagai saksi berjuta tragedi

Lalu bibirnya melafalkan litani kepedihan
Mengapa seolah Tuhan bungkam, diam
Seperti malam kelam, menyergapnya dalam gelap yang lebam

Dimanakah Kau Tuhan, ketika kegelapan ini seolah kekal?
Ketika namaMu dikumandangkan sebagai mantra pembinasaan,
Ketika jiwa-jiwa tersesat dalam kerakusan yang mengkristal,
Ketika kebencian mencuat sebagai nada dasar kehidupan,
Ketika penindasan berjaya dengan tahta kesewenangannya,
Dimanakah Engkau Tuhan?

Mengapa Engkau seolah diam, Tuhan?
Adakah Engkau tertidur?
Atau mabuk anggur, karena lelah mendengar  jutaan celoteh doa, yang tampak seperti tuntutan

Adakah Engkau menangis ketika dunia menjerit?
Adakah Engkau menjawab setiap pertanyaan
Yang mengalir dari kepongahan kenyataan?

Ya, mungkin memang Kau telah bisu
Telinga-Mu tuli karena bertubinya permohonan menggetarkan gendangnya
Mata-Mu tak lagi melihat kisah bermilyar jiwa yang semuanya ingin Kau menyaksikannya

Dan biarlah semuanya tetap seperti adanya
Hanya saja, sekerat daging yang bernafas itu tak mampu berdiam
Ketika ia menyaksikan sesosok tubuh manusia kurus kering
Berlumur darah, bermahkota duri.
Tangan-Nya terentang, terpaku kayu palang
Merengkuh surga dan bumi, menyatukan yang sementara dan abadi
Kaki-Nya terpatri pada kayu yang menghunjam bumi.

Tanpa suara dari mulut-Nya, 
hanya tetes-tetes darah yang mengalir membasuh tanah
Setiap tetes itulah jawaban, dari setiap pertanyaan
Jawaban yang lebih agung dari untaian kata-kata indah.




Sragen, 6 Desember 2012

Senin, 19 November 2012

Syukur adalah Ketaatan kepada Alur Kehidupan: Sebuah Renungan


Akhir-akhir ini, aku sering bermimpi. Mimpiku itu terkait dengan kerinduanku untuk sekedar duduk diam menikmati keindahan alam. Sejenak melepaskan diri dari detak waktu yang seakan tidak pernah mau memberi sedikit ruang padaku. Aku ingin mengalami moment yang seakan detak waktu pun berhenti, tanpa harus merasa dikejar oleh waktu. Dan aku ingin menghayati persahabatanku dengan semesta, yang sudah semakin tua dan rapuh ini. Sekedar duduk-duduk di lereng gunung, menikmati ketinggian, ataupun di pinggir pantai, menikmati tamparan angin laut. Aku ingin menghayati kesendirianku, ketika aku merasa Tuhan memelukku.

Minggu, 18 November 2012

Cinta itu abadi, hidup itu singkat: Sebuah Renungan


Ketika merenungkan tentang hidup ini, kadang kita berhadapan dengan angka-angka, waktu dan segala macam kisahnya. Namun itu semua hanya sementara. Tidak ada seorang manusia pun yang hidup selamanya di bumi ini, bahkan seorang Highlander atau vampir pun bisa mati. Ketika kematian itu terjadi, semua hal tentang manusia itu seolah-olah berhenti. Tidak lagi tumbuh dan berubah, selain hancur berubah lebur menjadi debu. Dari substansi organik ke substansi anorganik. Kisah manusia itu pun berhenti. Tidak ada lagi impian, apalagi perjuangan. Dan oleh karena itulah, kematian itu tampak sangat menakutkan. Manusia takut mati, takut mengalami kemandegan, takut kisahnya tamat dan badannya hancur tak bersisa lagi. Meski menakutkan, kematian adalah kepastian yang sangat sempurna, diantara segala macam ketidakpastian hidup yang selalu menyisakan tanya. Orang lantas bilang, bahwa hidup itu begitu singkat, dan setelah kematian tiba, hidup pun berhenti. Orang pun mulai menghitung-hitung waktu yang diberikan padanya sebagai kesempatan untuk hidup.

Senin, 12 November 2012

Kekuatan Iman: Sebuah Renungan


Bacaan:  Lukas 7:1-10
Pengalaman ini terjadi pada hari Jumat Agung beberapa tahun yang lalu. Saat itu, saya kebetulan ditugaskan untuk asistensi di paroki Boyolali. Ketika saya sedang berjalan-jalan di depan Gereja, saya bertemu dengan seorang pemuda yang duduk di kursi roda. Pemuda ini cacat sejak lahir. Ia mengalami kesulitan berbicara, dan kedua tangan serta kakinya tidak tumbuh secara normal. Lalu saya mengajak dia kenalan dan ngobrol. Namanya Siswanto. Tiba-tiba saya melihat ada secuil lukisan dirinya di belakang kursi roda. Lalu saya tanya itu lukisan siapa. Ia menjawab bahwa itu adalah lukisan dirinya, yang dilukis oleh dirinya sendiri. Dalam hati saya mengaguminya, sebab dengan tangan yang aneh dan mengenaskan itu, mas Siswanto dapat melukis sedemikian indah dan real. Saya seolah tak percaya. Namun ketika ada seorang yang mengatakan bahwa lukisan-lukisan mas Siswanto ini sudah sering dipamerkan di pameran hasil karya para difabel, saya jadi kagum.

Contoh Modul Rekoleksi Untuk KMK/OMK


Berikut ini adalah contoh sederhana modul pelayanan Rekoleksi Rohani bagi OMK atau KMK. Tema yang hendak diusung adalah Menemukan Kristus dalam Pelayanan dan Kesederhanaan. Modul ini merupakan salah satu contoh saja yang dapat dikembangkan sesuai dengan konteks masing-masing tujuan yang akan diraih. Berikut juga mengenai film yang dicontohkan, dapat dicari sesuai dengan tema yang akan digulati. Semoga dapat sedikit membantu para pendamping OMK dan KMK...

 Tema: Menemukan Kristus dalam Pelayanan dan Kesederhanaan


Skenario I
Belajar dari Pengalaman Iman Chico Mendes (nonton Film)
 Merefleksikan pengalaman Chico Mendes menjadi pengalaman pribadi.

Apakah artinya beriman Kristiani?