Jumat, 18 Mei 2012

Pendidikan Suara Hati (Hati Nurani) sebagai Dasar Pembangunan Moralitas Bangsa


Menyaksikan dan mengalami berbagai carut marut situasi negeri ini yang terkait dengan persoalan moral  rakyatnya, hati saya tergelitik untuk mengungkapkan sesuatu. Saya bukanlah seorang yang ahli moral ataupun seseorang yang memiliki kualitas moral yang tinggi. Namun demikian sebagai bagian dari bangsa ini, saya turut prihatin dengan situasi bangsa ini yang semakin tidak menentu. Berbagai persoalan moral seperti: kasus video porno, korupsi, konflik kepentingan berlatar belakang SARA, dan politik kotor, kekerasan, narkoba dan berbagai macam pelanggaran hak asasi manusia seakan menjadi santapan berita yang kian hari kian biasa. Segala macam wujud  budaya kematian (culture of death) tersebut semakin hari semakin banal, dangkal dan akrab dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan tayangan-tayangan televisi pun seakan penuh dengan pesan-pesan ‘kematian’ tersebut.

Senin, 30 April 2012

Bersama Bunda Maria, Tinggal dalam Kristus dan Berbuah


Dalam tradisi Gereja Katolik, bulan Mei ditetapkan sebagai bulan untuk menghormati Bunda Maria. Direktorium Tentang Kesalehan Umat dan Liturgi: Asas-asas dan Pedoman, yang diterbitkan oleh Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen pada tanggal 17 Desember 2001, menyebutkan bahwa  Kebiasaan adanya ‘bulan Maria’ ini tersebar luas di kalangan Gereja Timur dan Barat. Dalam Ritus Bizantin, liturgi selama bulan Agustus dipusatkan pada hari raya Kematian Bunda Maria (15 Agustus). Sampai Abad ke-12, Agustus dihayati sebagai “bulan Maria”; dalam Ritus Koptik, bulan Maria jatuh pada bulan antara Januari-Februari dan tertata dalam kaitan dengan Natal. Di Barat (Gereja Katolik Ritus Roma), petunjuk-petunjuk mengenai adanya bulan Maria berasal dari Abad ke-16. Sekitar Abad ke-18, bulan Maria-dalam arti modern- dikisahkan bahwa dalam masa ini para gembala jiwa memusatkan usaha-usaha pastoral – termasuk tobat dan ekaristi—tidak pertama-tama pada liturgy, tetapi pada ulah kesalehan, yang jauh digemari oleh kaum beriman (Direktorium, artikel. 190)

Senin, 05 Maret 2012

Katolik Sejati: Semakin Peduli dan Berbagi

Memasuki masa Prapaskah, Gereja Katolik mengajak segenap umatnya untuk menjalankan pantang dan puasa dalam membangun sikap tobat dalam rangka mempersiapkan Paskah. Selama menjalani masa prapaskah ini, segenap umat menjalani masa ‘retret agung’ selama 40 hari. Selama retret agung ini, umat menjalani masa puasa, dan pantang untuk mendukung gladi rohani dalam membangun pertobatan sebelum hari raya Paskah. Selama menjalani puasa dan pantang ini, umat diajak untuk semakin memperbanyak doa dan matiraga untuk semakin membangun sikap tobat dan hidup sesuai dengan sabda Tuhan.

Sabtu, 28 Januari 2012

Menemani Yesus di Taman Getsemani

Pernah suatu kali aku bertanya, mengapa dalam hidup ini, begitu banyak air mata tertumpah karena penderitaan. Penderitaan itu muncul ketika manusia berjumpa dengan ketidaksempurnaan diri dan hidupnya. Setiap kali ia bangkit dan berjuang, setiap kali juga ia jatuh dan terpuruk.  Dan terkadang kita lantas merasa begitu lelahnya karena situasi itu. Membuat kita tak lagi mengerti mengapa harus terjadi. Manusia selalu berdampingan dengan penderitaan, sebab itu sejatinya perjalanan menuju kebahagiaan harus dilalui. Sejak lahirnya, seorang bayi harus menangis karena tidak lagi mengalami kehangatan rahim sang ibu. Ia harus mengalami dingin dan panasnya dunia. Ia harus menggunakan badannya untuk bangkit berdiri dan melangkah.  Semakin besar, ia harus semakin merasa sendirian dan semakin memikirkan yang lain. Ia tidak lagi mengalami kehangatan sebagai anak-anak, namun harus mampu menjadi seseorang yang mampu melindungi anak-anak. Dan perjuangan itu tentu tidak mudah. Harus berkeringat dan merasakan letihnya badan serta jiwa. Itulah inti perjalanan kehidupan.

Jumat, 27 Januari 2012

Hidup adalah Soal Bersahabat dan Bukan Menguasai

Pada suatu ketika, ada serombongan anak sekolah yang ditemani oleh beberapa guru mengadakan rekreasi ke suatu tempat yang indah dengan mengendarai bus. Di sepanjang jalan, terhampar pemandangan yang amat indah. Mereka melewati bukit-bukit, lembah dengan sungai ber-air terjun. Terhampar kebun teh di kanan kiri jalan yang mereka lalui. Sementara itu, di dalam bus, anak-anak tampak sibuk dengan canda tawa mereka. Sebagian ada yang sibuk terpekur dengan handphone-nya, sebagian ada yang menikmati pemandangan alam sambil bercanda dengan teman-teman di dekat tempat duduknya. Beberapa guru tampak bergabung dengan anak-anak yang menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan mereka. Sebagian lagi tampak duduk serius di tempat duduk bus paling depan, sambil sesekali melirik jam tangannya. Ada seorang guru yang hilir mudik membawa pengeras suara, sibuk mengajak anak-anak menyanyi, namun sedikit yang mengikutinya. Sementara itu, dua orang guru sibuk membicarakan tentang rencana perjalanan wisata anak-anak ini dengan mengatur jadwal sedetil mungkin.

Kamis, 26 Januari 2012

Hidup adalah Soal Pengabdian

Dalam hidup ini, kita banyak berjumpa dengan pengalaman-pengalaman menyakitkan dan terasa demikian berat untuk dilalui. Ketika kita sampai pada titik itu, lantas kita mempertanyakan, sebenarnya apa makna hidup kita ini. Kadang kita juga bertanya, mengapa Tuhan tidak adil dengan hidup kita? Pengalaman-pengalaman seperti: kegagalan, kemiskinan, perselisihan, perceraian, sakit, dan perasaan tidak dicintai, seakan-akan memupus semua pengharapan kita akan hidup yang bahagia. Apakah pengalaman-pengalaman itu membuat hidup ini tidak bermakna? Atau pengalaman-pengalaman itu yang membuat kita tidak bisa menjalani hidup dengan bahagia?

Jumat, 20 Januari 2012

Bagaimana Kisah Mempengaruhi Sistem Keyakinan

Beberapa hari ini, aku menemukan sebuah buku menarik yang ditulis oleh Anthony de Mello yang berjudul The Way to Love. Buku ini merupakan kumpulan tuntunan meditasi terakhirnya yang berjumlah 31 butir tuntunan. Membaca butir-butir awal, aku sungguh merasa terpesona dengan model berpikir Anthony de Mello. Anthony mengajak setiap pembaca bukunya untuk melihat kembali akan konsep-konsep diri yang telah tertanam sedemikian rupa. Ia menunjukkan bahwa konsep-konsep itu membuat hidup kita terbelenggu karena harus mengikuti dan memenuhi segala macam tuntutan di dalamnya. Kebahagiaan kita pun sering atau bahkan justru tergantung dari konsep-konsep yang telah kita buat sendiri. Kita akan bergembira dan bersukacita apabila realitas yang kita hadapi sesuai dengan konsep-konsep kita, sementara jika realitas itu berbeda dengan konsep yang ada pada diri kita, kita pun terpuruk dan tidak bahagia. Dengan demikian, kebahagiaan kita ditentukan oleh hal-hal di luar diri kita. Apakah memang demikian sebenarnya kebahagiaan kita?