Rabu, 17 April 2019

FENOMENA ITU BERNAMA JOKOWI


Beberapa saat lalu sebelum pemilu berlangsung, aku mendapat sebuah kiriman video tentang sejarah hidup singkat Bapak Jokowi, calon presiden nomer 01 di tahun 2019. Dalam video tersebut, Pak Jokowi bercerita tentang sejarah singkat hidup beliau yang digambarkan dengan animasi kartun. Sekilas video itu tampak sederhana dan tak ada sesuatu yang istimewa. Tidak ada prestasi yang amat menonjol dari hidup seorang Pak Jokowi. Tapi aku tertarik dengan salah satu kisah yang beliau ceritakan saat kuliah dulu.  Cerita itu adalah saat beliau jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Iriana, yang sekarang adalah istri beliau. Diceritakan oleh beliau bahwa demi bertemu Iriana, Jokowi muda yang tengah berkuliah di UGM rela bolak-balik Jogja-Solo menggunakan angkutan umum. Dalam video, ditampilkan gambar bus dengan tulisan Mira, bus antar kota antar propinsi Jurusan Jogja-Surabaya. Sebagai seorang anak yang terlahir di Klaten dan bapakku berasal dari Jogja, jalan Jogja-Klaten menjadi begitu istimewa bagiku. Hingga akhirnya aku kuliah di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta pun, jalan Jogja-Klaten selalu kulalui ketika aku hendak pulang kampung ataupun kembali ke kampus di Jogja. Aku juga sering menggunakan angkutan umum bus antar kota-antar propinsi. Cerita Pak Jokowi ini begitu membuatku terharu, karena ternyata jalan yang sering kulalui, juga dulu sering dilalui oleh Pak Jokowi yang sekarang ini adalah Presiden Indonesia ke-7 dan tengah maju ke Pilpres tahun 2019-2024. Cerita sederhana beliau menyentuh sisi emosionalku, bahwa seorang Presiden Indonesia ternyata tidak jauh berbeda dari rakyat kecil sepertiku. Aku juga merasa, ternyata seorang rakyat kecil macam Pak Jokowi pun bisa jadi pemimpin negara besar, bangsa besar, bangsa Indonesia ini.


Aku sebenarnya bukanlah fans Pak Jokowi, namun aku merasa kehadiran beliau di tengah bangsa Indonesia ini begitu fenomenal. Beliau berasal bukan dari golongan bangsawan ataupun keturunan orang-orang besar negeri ini, tapi beliau ternyata mampu menyentuh hati segenap warga Indonesia. Jika ada kekurangan dalam memimpin, tentu bisa dimaklumi karena beliau baru menjabat selama kurang lebih 4,5 tahun di negara sebesar dan sekompleks Indonesia ini. Maka ketika muncul video Sexy Killer yang mengkritik tentang abainya pemerintah terhadap kesusahan rakyat kecil akibat pertambangan batubara, aku tidak langsung ikut menghujat beliau Pak Jokowi. Bagiku menjadi begitu aneh jika meletakkan kesalahan hanya kepada beliau sementara negara ini telah disusun begitu rupa dari tahun ke tahun, dari masa ke masa oleh kebersamaan dan persatuan bangsa. Menyalahkan pemerintah ataupun orang-orang pelaku bisnis yang bekerjasama dengan pemerintah untuk pembangunan tidak akan memberi solusi yang nyata bagi perubahan bangsa ini. Memang kritik sangat diperlukan, tetapi menyalahkan bukanlah bagian dari perjuangan untuk kebaikan bangsa ini. Lagi pula, kita anak-anak negeri yang akan menikmati hasil pembangunan. Dan terkadang kita sendiri yang tidak sungguh bisa uga hari saat menggunakan hasil pembangunan. Pemerintah itu perlu dikritik, dikawal, namun tidak perlu dengan menyalahkan, sebab kadang kita juga yang membuat mereka bertindak salah.

Kenapa aku menyebut Pak Jokowi itu fenomenal? Ya menurutku Pak Jokowi itu sosok yang biasa saja, sosok seperti kebanyakan rakyat biasa, yang menjadi pemimpin dari karya-karyanya, bukan dari retorika dan kotbah-kotbahnya. Bagiku itu sebuah hal yang fenomenal. Sebab Pak Jokowi selalu mengatakan optimis bagi setiap yang dikerjakannya, nyaris tanpa kepentingan. Ia tidak pernah membujuk rakyat untuk percaya kepadanya melalui kata-kata, melalui janji-janji, tetapi melalui karya. Dan apakah karya itu akan berhasil sempurna? Sekali lagi beliau tidak mengatakan bahwa karya itu berhasil sempurna, tetapi ada tekanan optimisme yang beliau perlihatkan dengan ketekunan bekerja. Dan bagiku, bukti nyata dari kerja beliau telah banyak berhasil membungkam bahkan menjungkirbalikkan niat-niat tertentu dari orang maupun golongan yang hendak memecah belah bangsa ini dengan narasi-narasi bagus tapi sepi makna dan relevansi.

Bagiku, hal itu sungguh fenomenal karena niat Pak Jokowi dulu hanyalah sebagai seorang walikota Solo yang baik. Beliau tidak pernah menghendaki untuk menjadi presiden dari diri beliau sendiri. Tetapi ketika suara rakyat menghendaki disambung lidahnya oleh beliau, maka tanpa keraguan beliau terima itu dan jalankan dengan tanpa rekayasa. Pak Jokowi yang adalah seorang Presiden, tetap sama ketika beliau sebagai seorang bapak dan kakek yang baik bagi keluarga, seorang walikota Solo yang baik, seorang Gubernur DKI yang baik. Tidak ada yang direkayasa dari beliau.  Jika ada yang bilang bahwa setiap tindak-tanduk beliau adalah pencitraan, beliau menjawab dengan karya nyata. Jika ada yang kurang, tentu saja dimaklumi sebab mengelola negara sebesar Indonesia ini tidak semudah mengelola sebuah keluarga kecil. Dasar beliau sebenarnya sederhana yakni mengajak segenap bangsa ini untuk menjadi diri sendiri, menjadi orang yang benar-benar bertanggungjawab atas pilihan nasib yang ditunjukkan Tuhan kepada dirinya, entah sebagai apapun itu. Pak Jokowi bukanlah seorang yang istimewa, beliau itu orang biasa. Dan itulah yang ditampilkan Pak Jokowi hingga saat ini jadi Presiden Indonesia sekalipun. Beliau juga mengatakan bahwa saat masih muda, beliau juga suka naik gunung, suka mendengarkan musik-musik keras, dan juga berambut gondrong, seperti kebanyakan anak muda yang tengah mencari jati diri. Hampir tidak ada yang istimewa dari hidup beliau, bahkan sebagai seorang karyawan perusahaan kayu dan pengusaha kayu pun, beliau tetap seperti adanya, tanpa rekayasa. Lalu apakah beliau menghendaki untuk jadi Presiden dari diri beliau? Aku kok yakin, jika tanpa suara rakyat, beliau tidak pernah menghendaki jabatan itu. Jangankan Presiden Republik Indonesia, jadi walikota dan Gubernur pun sebenarnya bukan cita-cita beliau. Beliau hanya ingin keluarganya rukun, baik dan  sejahtera. Demikian pula ketika dipercaya untuk menjadi bapak bagi sebuah kota, propinsi, dan kemudian sebuah negara. Bukanlah hal itu amat biasa saja?

Ya, itu biasa saja, tak ada yang istimewa. Namun bagiku, justru itulah yang fenomenal. Orang Indonesia itu sering punya mimpi besar, cita-cita selangit, namun lupa bahwa mimpi dan cita-cita itu dibangun melalui proses untuk menjalani tahap yang biasa-biasa saja. Maka sering kali orang Indonesia itu gagal secara prematur karena tanpa menjalani proses itu. Sebagai contoh misalnya timnas kita, ataupun tim-tim sepakbola yang menghendaki juara tapi tanpa menjalani proses latihan yang berat dan rutin demi meningkatkan skil serta strategi yang jenius nan sportif. Bagiku, Pak Jokowi itu fenomenal, bukan karena prestasi beliau, tetapi karena ketekunan beliau, kesederhanaan beliau, keyakinan beliau, dan ketaatan beliau menjalankan amanah rakyat. Meski mungkin memang Pak Jokowi itu seorang yang jenius, tapi itu adalah hasil dari ketekunan, kesederhanaan, kejujuran, keyakinan dan ketaatan beliau dalam menjalankan amanah.

Bagiku, Pak Jokowi itu fenomenal, karena seorang yang pada masa mudanya dulu berdesak-desakan di bus antar kota, tanpa dikenal siapa-siapa, hilir mudik Jogja-Solo, mau mengemban amanah dari segenap rakyat yang menitipkan suaranya agar Indonesia ini tetap Bhinneka, tetap jujur, tetap optimis, tetap bersatu, tetap berdasarkan Pancasila, tetap gotong-royong, tetap berbenah dari waktu ke waktu, dan tetap saling mengampuni. Inilah yang menurutku fenomenal. Pak Jokowi, dari perawakannya saja, mirip dengan tukang becak, sederhana, cenderung kurus dengan wajah orang ndeso-nya, tapi mampu menjadi penyambung lidah rakyat. Dan ketaatannya kepada amanah rakyat ini bukan tanpa dasar, beliau melakukannya dengan sungguh karena beliau adalah bagian dari rakyat yang telah ditempa oleh proses perjuangan sebagai rakyat kecil. Dari sejak kecil, beliau telah sungguh mengalami apa itu sejatinya sebagai rakyat, sebagai bagian dari bangsa ini tanpa pernah dicemari oleh keinginan untuk berkuasa. Sebab sejatinya, amanah itu bukan kekuasaan, amanah itu adalah tanggungjawab untuk menyambung lidah rakyat.

Bagiku, Pak Jokowi itu fenomenal, karena kehadiran beliau mengusik pemikiran dan niat yang hendak meraih kekuasaan dengan mengatasnamakan perjuangan pembelaan kepada rakyat. Bagi orang yang hendak menguasai Indonesia, jelas keberadaan orang seperti Pak Jokowi yang berdiri teguh hingga titik darah penghabisan untuk membela rakyat ini adalah sebuah ancaman. Dan terbukti, kegigihan beliau Pak Jokowi membela jati diri bangsa ini telah membuat orang-orang itu kelimpungan. Dengan sendirinya, Indonesia ini mulai dibuka satu persatu niat-niat orang yang ada di dalamnya, sebab rakyat Indonesia belum sepenuhnya menjadi orang Indonesia sejati. Ada juga yang menggunakan nama Indonesia untuk kepentingan dirinya sendiri. Apa yang dilakukan Pak Jokowi untuk memfilter bangsa dari segala kepentingan itu pun begitu sederhana, yakni dengan menyerahkan seluruh waktunya untuk kepentingan rakyat. Bisa dilihat, berapa jam sehari waktu yang diberikan untuk diri sendiri dan keluarga, bisa dibilang begitu minim. Ketika Pak Jokowi mengatakan “ya” kepada amanah itu sejak menjadi walikota Solo, beliau telah membawa seluruh keluarganya kepada titik kritis karena seisi rumah beliau diminta juga untuk siap dikorbankan. Tapi sekali lagi keluarga Pak Jokowi bukanlah keluarga yang mudah menyerah pada drama kekuasaan ataupun popularitas karena merasa diajak untuk berkorban. Daripada merasa menjadi korban, anak-anaknya memilih untuk tetap menjalani hidup realnya sebagai seorang penjual martabak dan penjual pisang goreng. Tapi pernahkah kita bermenung bahwa sebenarnya martabak dan pisang goreng itulah yang menyelamatkan bangsa ini?

Bagiku, Pak Jokowi itu fenomenal, karena beliau tetap seperti apa adanya. Di tengah godaan orang Indonesia dengan kesombongan yang meluap-luap, beliau lebih suka untuk tetap bekerja seperti biasa tanpa pernah mencatat dan mengingat apa yang pernah dikerjakannya. Sikap beliau ini telah membuat segenap warga bangsa ini mulai berpikir secara merdeka, bahkan bagi mereka yang jelas-jelas berseberangan dengan prinsip beliau. Jika dahulu mereka tidak terang-terangan mengungkapkan, sekarang ini mereka mengungkapkan karena seolah-olah mendapatkan kontrasnya. Kehadiran Pak Jokowi dengan segala kesahajaannya ini telah menuntun Indonesia kepada suatu masa dimana bak gabah diinteri, setiap orang di negara ini mulai menampakkan siapakah dirinya, niatnya, dan juga ketakutan-serta kesombongannya. Di samping itu juga, semakin banyak orang-orang baik yang mulai berani mengungkapkan kesediaannya untuk bergandeng tangan dengan beliau membangun negeri ini. Gabah dipisahkan dari gabah yang berisi dan yang kosong.

Bagiku, Pak Jokowi itu fenomenal. Beliau fenomenal bukan karena kehebatannya dalam kacamata manusia biasa, tetapi karena kesahajaan beliau. Selama Indonesia ini berdiri, sudah ada 7 Presiden yang memimpin bangsa ini. Semua Presiden yang telah memimpin bisa dibilang orang yang luar biasa, kecuali Pak Jokowi. Presiden Indonesia pertama yakni Ir. Soekarno, adalah seorang keturunan bangsawan Bali dan Jawa, lalu Presiden kedua: Presiden Soeharto, meskipun juga seorang anak rakyat biasa, namun beliau adalah seorang Jendral TNI, tentu hal ini prestasi yang amat membanggakan. Selanjutnya adalah Presiden Habibie, juga adalah seorang yang istimewa dengan bakat intelektualitasnya. Selanjutnya adalah Presiden Gus Dur, beliau istimewa karena adalah putera dari Kyai Besar di Bangsa ini dan pemimpin NU yang merupakan kelompok umat Muslim yang besar di negara ini. Setelah Presiden Gusdur, selanjutnya adalah Presiden Megawati Soekarnoputri yang adalah putri dari Sang Presiden pertama bangsa ini. Presiden ke enam adalah Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono yang juga adalah seorang Jendral TNI. Sementara presiden ke-7, Pak Jokowi, apakah yang bisa dibanggakan dari beliau? Menurut kacamata orang biasa, tentu sulit untuk melihat keistimewaan beliau. Tapi menurutku, Bapak Jokowi itu istimewa justru karena ia tidak memiliki keistimewaan itu. Beliau adalah rakyat biasa, orang biasa, bagian dari bangsa Indonesia. Dan akupun tidak membandingkan beliau dengan presiden presiden sebelumnya, sebab jika dibandingkan, lalu apalah artinya membangun Indonesia. Sebab Indonesia itu bukan untuk dikuasai dengan keistimewaan, tetapi dilayani dengan kesahajaan dan ketekunan serta keikhlasan. Semua presiden yang pernah memimpin bangsa ini adalah istimewa, termasuk Pak Jokowi. Dan semoga, dengan kesahajaan beliau, tidak terulang kembali kesedihan para pahlawan bangsa ini ketika melihat Indonesia ini seperti kue yang harus dibagi-bagi dan dikuasai. Tentu kita ingat, lengsernya Presiden Soekarno adalah munculnya Orde Baru, seperti dilengserkan oleh kekuatan saudaranya sendiri, lalu berturut-turut: Pak Harto dilengserkan oleh Gerakan Reformasi 1998, Pak Habibie, Gusdur dan Megawati yang menjabat tidak terlalu lama sebagai konsekuensi lahirnya demokrasi. Syukurlah setelah itu lalu mulai ada pembatasan dua periode jabatan presiden. Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono berhasil menuntaskan amanah rakyat hingga dua periode, meski kesan untuk berkuasa itu tetap saja masih ada dengan adanya kelompok-kelompok yang ingin mempertahankan status quo. Baru mulai Pak Jokowi itulah muncul sosok rakyat kecil yang dipilih sebagai pelayan bangsa ini. Beliau Pak Jokowi bukanlah seorang ketua umum partai, bukanlah seorang yang punya posisi strategis di bangsa ini seperti TNI atau milyuner. Beliau hanyalah seorang kampung yang diminta untuk melayani negeri ini. Ditempa dari perusahaan mebelnya, sebagai walikota Solo, Gubernur DKI, dan akhirnya dipercaya untuk menanggung tanggungjawab yang lebih besar lagi, sebagai Presiden Republik Indonesia.

Beliau bisa ke istana tanpa strategi, tanpa niat berkuasa, tanpa akar kebangsawanan yang diakui rakyat, tapi beliau menjalankan amanat rakyat dengan sederhana, dengan gigih, dengan tulus, dengan tanpa banyak bicara, tanpa menghitung jasa, tanpa melihat Indonesia ini seperti kue yang bisa dijarah dan dikuasai. Tetapi beliau memandang Indonesia ini seperti bapak memandang anak-anaknya.

Terima kasih Pak Jokowi, karena Bapak pun dulu sering hilir mudik Solo-Jogja lewat jalan Jogja-Klaten yang sering saya lalui juga. Saya jadi percaya, bahwa siapapun itu, seorang anak bangsa bisa menjadi seorang yang gigih untuk melayani bangsanya, dengan tulus, dengan sederhana, dan dengan optimis, demi kejayaan keluarga besar kita, INDONESIA.


Yohanes Ari Purnomo

1 komentar:

  1. Maju terus pak Jokowi sebagai anak bangsa yang baik meskipun aku tidak mendukung mu tpi aq selalu menaati peraturan pemerintah mu

    BalasHapus