Senin, 08 April 2019

MENGENANG BAPAK


Suatu ketika, bapakku duduk di ruang tengah keluarga. Beliau tampak sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Aku mencoba untuk lebih dekat, melihat apa yang sedang dikerjakan bapak. Rupanya beliau sedang membuat sebuah sarung senjata. Senjata itu berupa pisau kecil, menyerupai keris kecil yang katanya beliau temukan di sebuah sungai. Senjata itu tampak jelek, kusam dan terlihat kuno. Namun bapak menurut bapak, senjata itu tampak unik dan seperti bertuah. Lalu beliau merawat dan membuatkan sarungnya. Beberapa kali, bapak menggunakan senjata itu untuk menebak angka togel. Tapi selalu saja, bapak tidak pernah berhasil menebak dengan benar angka togel yang keluar. Meski begitu, bapak tetap merawat senjata itu dan setiap kali tampak membersihkannya. Semenjak bapak seda (meninggal) senjata itu pun tak kelihatan lagi, entah dimana sekarang senjata itu.


Kadang aku merasakan kangen dengan bapak yang sudah meninggal ketika usia beliau baru 45 tahun. Ingin sepertinya untuk bisa bercengkerama lebih lama dengan beliau, namun Sang Hyang Hidup telah menyatakan tugasnya di dunia selesai dan harus kembali kepada-Nya. Saat itu aku baru kelas tiga SMP, dan merasa begitu sedih ketika ditinggal bapak untuk menghadapNya. Meski begitu, kenangan-demi kenangan masih tersimpan dalam benakku, meski tidak banyak. Memang, bapak dulu tidak serumah denganku dalam waktu yang cukup lama. Beliau merantau di Jogja, sementara aku tinggal di Klaten. Semenjak aku lahir hingga aku kelas lima SD, bapak bekerja di Jogja. Hanya sesekali beliau pulang ke Klaten, atau aku bersama ibu dan adik berkunjung ke Jogja, ke rumah kakek dimana bapakku tinggal. Selalu saja, pengalaman bersama beliau membuatku mengerti tentang tanggungjawab, kasih sayang dan juga kegembiraan dalam menjalani hidup yang tidak ringan ini.

Setelah aku kelas lima SD, bapak kembali bersatu di rumah Klaten. Beliau mencari pekerjaan di sekitar rumah. Berpeluh dan berjerih lelah untuk memelihara keluarga. Pernah suatu kali aku dan adik dibelikan baju oleh beliau. Bajunya warna biru dan merah, dan aku serta adikku sangat senang menerimanya. Selama itu pula, bapak tidak pernah malu dengan anak-anaknya bahwa dirinya adalah seorang yang tidak punya apa-apa. Selama SD, aku dan adikku jarang sekali dibelikan baju oleh bapak, hanya seragam sekolah dan alat-alat sekolah lainnya. Baju-baju kami adalah pemberian “lungsuran” (baju bekas) dari tetangga yang memiliki anak seumuranku. Aku tetap bersyukur oleh karena itu, dan aku tak pernah menuntut bapak untuk memenuhi segala keinginanku. Sebab aku tahu, bapak tetaplah seorang pekerja keras, meski hasilnya kadang tidak bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga.

Meski begitu, menurutku, bapakku adalah seorang bapak yang benar-benar menyayangi keluarganya. Kesukaan beliau adalah memelihara burung dan membuat sangkar burung. Selepas bekerja sebagai buruh kasar di peternakan ayam, beliau membuat kandang ayam di samping rumah. Lalu sewaktu gajian, beliau membeli sepasang ayam kampung dan berpesan pada ibu serta anak-anaknya untuk memelihara ayam. Karena kesukaan beliau membuat sangkar burung, beberapa kali juga beliau bisa menjual sangkar burungnya, untuk sekedar memberi uang saku untuk aku dan adikku. Biasanya beliau membuat sangkar burung pada malam hari, sementara aku dan adikku belajar, ibu membatik sambil diiringi sandiwara radio. Ah, aku benar-benar kangen saat itu.


Suatu ketika bapak pulang dari pasar selepas gajian, beliau membawa sebuah kotak dengan warna kotak-kotak hitam putih. Hore, bapak membeli catur. Aku dan adikku segera menyukai permainan catur yang diajarkan bapak selepas kami belajar. Biasanya, aku bertanding dulu dengan adik, lalu pemenangnya melawan bapak. Aku selalu kalah dari bapak dan adikku. Namun bapak selalu kalah dengan adikku. Permainan catur menjadi permainan yang begitu mengasikkan jika bersama dengan bapak. Permainan itu menjadi semacam oase di tengah-tengah kelelahan beliau setelah bekerja keras seharian. Sementara kami bermain catur, ibu tetap membatik untuk mendapatkan tambahan pendapatan bagi keluarga.

Aku masih ingat, ketika aku sakit flu dan demam, aku tidak perlu obat-obatan sebab obatku hanyalah dipijit oleh bapak. Ajaibnya, flu yang kuderita cepat sekali pergi setelah dipijit bapak dan minum jamu perasan daun pepaya buatan ibu. Selama hidup beliau, bapak tidak pernah memukul, mencubit, ataupun menendang kami. Sebab ketika bapak marah dan menghardik kami, aku dan adikku langsung takut. Bapak memang tidak pernah memukul, termasuk saat bertengkar sama ibu.

Bapakku bukanlah orang yang hebat. Sekolahnya hanya sampai SD saja. Badannya kurus dan seperti lemah sekali. Namun bapak selalu memiliki kemauan keras dan prinsip yang teguh. Hal itulah yang diwariskan kepada anak-anaknya. Pernah suatu ketika bapak berpesan kepadaku dan adikku, bahwa beliau hanya bisa menyekolahkanku hingga sampai SMA saja, setelah itu, aku dan adikku disuruh berjuang sendiri. Kata-kata bapak itu terpatri dalam dalam di hatiku. Dan benar, bapak akhirnya dipanggil Tuhan sebelum aku lulus SMP. Untuk bisa melanjutkan SMA saja, aku dan adikku sudah harus berpikir sendiri, karena ibu juga tidak mampu untuk menggantikan peran bapak. Namun aku tidak pernah menyalahkan bapak dan ibu. Justru aku berbangga dengan mereka, atas warisan keteladangan hidup yang mereka berikan kepadaku serta adikku. Bapak dan ibu selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki dan diperjuangkan. Bahkan ketika mereka tidak bisa membelikan selalu baju baru kepada anak-anaknya, mereka tidak malu untuk jujur kepada anak-anaknya tentang situasi keluarga.

Soal sekolah, bapak dan ibu tidak pernah memaksakan kehendak kepada anak-anaknya, sebab mereka menyadari bahwa mereka tidak sampai lulus SD. Pesan mereka kepada kami hanyalah supaya menjadi orang yang menaruh hormat pada sesama, menjadi orang baik, jujur dan rendah hati. Petuah bapak ibu ini sekarang kupahami sebagai petuah orang Jawa tulen yang narimo ing pandum (penuh syukur), prasaja (jujur dan sederhana), dan tekun. Jika akhirnya kami berdua berhasil mendapat juara kelas, bapak dan ibu hanya berpesan supaya tetap menjadi orang baik. Mereka tidak terbutakan oleh keinginan agar anaknya jadi orang pintar, tapi menjadi orang baik. Bagi mereka, sekolah tinggi tidak ada artinya apa-apa jika orang tidak menjadi baik dengan kepintarannya. Jadi, sebelum menjadi orang pintar, hendaknya jadi orang baik dulu. Dan jika sudah jadi orang baik, tetaplah dipertahankan dengan tulus, bahkan jika kepintaran menggoda untuk mengorbankan kebaikan.

Maka, setiap kali kami berhasil juara kelas saat di SD, bapak dan ibu tidak akan memberi hadiah yang mewah-mewah, cukup menraktir kami makan mie ayam atau bakso, dan sesekali mengajak kami berdua ke rumah kakek di Jogja saat Sekaten tiba. Jadi, aku dan adikku selalu berlomba untuk bisa makan mie ayam setiap catur wulan (waktu itu sekolah masih menggunakan sistem evaluasi/ujian catur wulan). Meski kalau yang berhasil juara itu hanya aku, adik juga ikut dibelikan mie ayam. Itupun sudah cukup memacu diriku untuk selalu bisa ditraktir mie ayam setiap habis terima raport. Oleh karena itu pula lalu aku mendapatkan beasiswa Supersemar dari pemerintah hingga lulus SMP, karena secara akademik, aku bisa bertanggung jawab, meski tidak selalu menjadi juara. Itu juga karena ajaran dari bapak ibu.

Bapakku memang bukan seorang Katolik yang taat. Beliau jarang berangkat ke gereja, karena pada hari Minggu, peternakan tempat beliau bekerja tidak memperbolehkan libur. Sebab jika libur, lantas ayam ayam itu siapa yang memberi makan. Namun aku tahu, bapak sangat percaya kepada Tuhan. Hal itu ditunjukkan dengan tanggungjawab untuk menghidupi keluarga dan menyayangi anak-anaknya. Pernah suatu ketika aku menitikkan air mata, ketika bapak mulai sakit kakinya (seperti rematik) tetap memaksa diri bekerja sebagai buruh bangunan. Aku mengantar beliau dengan sepeda ke tempat kerja. Dan kulihat bapak menahan sakit sambil menyeret kakinya mengaduk semen dan mengantarnya ke tukang. Hingga akhirnya bapak jatuh lumpuh, tidak pernah kudengar keluhan keluar dari mulut beliau. Demikian juga ketika aku tahu bapak sering bertengkar dengan ibu saat menjelang beliau sakit, akhirnya beliau meminta maaf pada ibu sebelum meninggalnya. Kemarahan bapak pada ibu disadari beliau sebagai bagian dari masa lalu beliau yang harus menderita bekerja sejak kecil karena ditinggal meninggal oleh ibunda beliau (nenekku) saat bapak masih usia SD kelas 1.

Bapak memperlakukanku dan adik seperti seorang sahabat. Diajak main catur, diajak bertemu dengan keluarga besar bapak, dan terkadang pula diajak untuk bekerja membantu beliau. Suatu ketika pas main catur, aku belajar melinting rokok bapak dan merokoknya. Bapak tidak melarang, namun ibu memarahiku. Namun setelah aku terbatuk-batuk, bapak berpesan padaku: “Le (putraku), besok kamu jangan merokok ya, kalau minum (minuman keras) ndak apa-apa”. Aku kaget mendengar penuturan bapakku. Bapak memang seorang perokok berat, namun kenapa aku justru diijinkan kalau minum minuman keras. Aku benar-benar tidak bisa memahami jalan pikiran bapakku ini. Bapak macam apa itu yang malah mengijinkan anaknya minum minuman keras. Namun setelah aku ditahbiskan jadi pastor, aku baru mengerti apa arti pesan bapak itu. Aku sekarang ini jika memimpin misa harian atau misa minggu, aku hampir setiap hari meminum anggur. Sungguh tergetar aku mengenang kembali pesan bapak itu. Namun aku merasa berdosa pada bapak karena tidak bisa menunaikan pesan beliau untuk tidak merokok.

Aku teringat, suatu kali bapak membelikan aku sepeda. Aku senang sekali meski sepeda yang dibeli itu sepeda seken yang sudah tidak begitu bagus. Tapi oleh bapak dipermak jadi sepeda yang kokoh. Aku pun diajari beliau naik sepeda, dan sepeda itu akhirny menemaniku berangkat sekolah hingga aku lulus SMP. Setelah lulus SMP dan aku sekolah di Seminari, sepeda itu tetap dirawat ibu, namun akhirnya dijual karena sudah jarang digunakan.

Dari bapak aku boleh belajar banyak hal, terutama tentang tanggungjawab, tentang persahabatan, tentang kejujuran. Pernah suatu ketika, aku bersama adik diajak untuk bertemu dengan keluarga bapak di sebuah makam leluhur keluarga besar bapak. Pertemuan itu diadakan pada malam hari. Makam dengan rumah tidak begitu jauh, sekitar 1 kilometer. Setelah selesai bertemu dengan keluarga besar, mereka menginap di penginapan sekitar makam sementara kami bertiga pulang ke rumah. Di tengah jalan kampung, kami bertiga berjalan beriringan. Ketika melewati sebuah jembatan dekat rumah yang di dekat jembatan itu tumbuh sebatang pohon gayam, tiba-tiba ada suara seperti benda jatuh mengenai daun-daun gayam kering. Bapak lalu memberitahu kami supaya tidak takut, karena menurut beliau itu hanya buah gayam yang jatuh. Namun setelah beliau berkata demikian, beliau lari duluan menuju rumah. Setelah sampai rumah dengan terengah-engah, aku lantas tanya kepada bapak, kenapa bapak lari duluan kalau itu hanya buah gayam yang jatuh. Dan jawaban beliau pun membuatku tersenyum senyum saat mengingatnya kembali. Beliau menjawab: “aku yo wedi je le” (aku juga takut, nak). Bapak tidak malu mengakui kejujurannya dan kerapuhannya. Dan itu aku maknai setelahnya sebagai wujud rasa persahabatan yang tulus kepada aku dan adikku.

Sekarang bapak sudah damai bersama Sang Hyang Hidup. Namun kenangannya akan selalu abadi di benakku, dan adikku, anak-anaknya. Mungkin secara materi, bapakku bukanlah seorang bapak yang spektakuler seperti bapak-bapak super lainnya, namun sebagai seorang bapak, sahabat dan guru, beliau tetap luar biasa bagiku. Perkataan-perkataan beliau lebih mirip seperti nubuat bagiku meski hidup beliau tidak begitu lama. Pernah ada seseorang dari keluarga bapakku yang menyampaikan kepadaku bahwa bapak dulu sering mengatakan kepada mereka jika kelak aku akan jadi pastor. Dan ketika aku benar-benar boleh ditahbiskan, barulah mereka menyampaikan kepadaku. Tak kusadari, bapak ternyata mendoakanku dan memberiku semacam sugesti untuk tetap percaya kepada alur Sang Hyang Widi tentang perjalanan hidup puteranya. Doa orang tua ternyata begitu luar biasa, meski itu diungkapkan dengan sangat sederhana hanya dikalangan keluarganya sendiri. Aku tak pernah menyadarinya karena saat itu aku masih dalam gendongan ibuku.

Aku hanya ingin mengenang sejenak beliau bapakku. Semoga aku tidak mengecewakan beliau, meski telah melanggar salah satu pesan beliau. Semoga aku tidak lagi melewatkan warisan-warisan beliau yang amat berharga, lebih berharga dari warisan harta benda berlimpah-limpah sekalipun. Bapakku, seorang bapak biasa, seorang desa yang tak pintar dan terpelajar, seorang bapak yang banyak kelemahan, seorang bapak yang berani mengakui kekurangannya, seorang bapak yang ditempa oleh penderitaan di sepanjang hidupnya, seorang bapak yang singkat hidupnya, seorang bapak yang kurus seperti penyakitan, seorang bapak yang tidak ganteng dan pemuja penampilan, seorang bapak yang tak punya ambisi apapun terhadap anak-anaknya, dan akan tetap seperti itu hingga akhir perjalanan hidupnya. Namun bagiku, bapakku adalah guru spiritualku, bapak adalah panutanku, bapak adalah sahabatku, bapak adalah bapakku, bapak adalah pendoaku, bapak adalah pahlawanku.


Aku kangen bapak. Maaf jika aku menulis ini dengan hati mengharu biru hampir menangis. Aku tidak mau menangis lagi, pak. Sebab tangisanku sudah kucurahkan semuanya ketika Sang Hyang Hidup menitahkan SabdaNya untuk memanggil bapak kembali kepadaNya. Tangisanku saat itu adalah tangisan kesedihan, tapi keharuan sekarang adalah rasa syukur kepada Tuhan karena boleh menjadi anakmu. Sekarang, Rudi sudah punya putra, Emmanuel Jendra Wirasena yang dibaptis juga dengan nama baptis Bapak, Emmanuel. Doakanlah kami anak-anakmu, pak.


Mengenang bapak: Emmanuel Prapto Mulyono

Dari anakmu
Yohanes Ari Purnomo
Agustinus Rudi Winarto

2 komentar:

  1. Romo menulis hampir menangis, saya membaca sambil berlinang air mata,terlahir dari keluarga sederhana membuat Romo dan Mas Rudi menjadi orang orang keren namun tetap rendah hati,doa orangtua itu istimewa, dan Allah itu luar biasa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. tetap semangat ya, hormat dan cinta kepada orang tua menjadi bagian dari perjalanan iman...

      Hapus