Senin, 22 April 2019

GAME OF THRONES DI PEMILU INDONESIA 2019



Di tahun politik ini, tahun 2019, Indonesia tengah melangsungkan Pesta Demokrasi dengan adanya Pemilu 2019. Pemilu kali ini amat berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya karena diadakan secara serentak antara Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden. Tentu tension (tegangan) politiknya semakin terasa pada Pemilu 2019 dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya. Meski tegangan politiknya terasa meningkat, namun pelaksanaan kampanye dan Pemilu sendiri yang berlangsung pada tanggal 17 April 2019 dapat berjalan dengan lancar. Meski setelahnya tentu ada beberapa kekurangan, hal itu masih akan terus disempurnakan hingga KPU (Komisi Pemilihan Umum), lembaga negara penyelenggara Pemilu,  mengumumkan hasil Pemilu secara resmi pada tanggal 22 Mei 2019.


Pasca Pelaksanaan Pemilu tanggal 17 April 2019, KPU dengan dibantu beberapa lembaga survey yang ditunjuk secara resmi oleh pemerintah telah menyampaikan hasil penghitungan cepat atau Quick Count. Menanggapi hasil Quick Count ini, ada berbagai macam reaksi yang muncul dari masing-masing kontestan yang ikut dalam Pemilu, baik kontestan partai, calon legislatif, maupun Calon Presiden dan Wakil Presiden. Ternyata suara rakyat menjadi semacam senjata pamungkas yang diperebutkan oleh berbagai kontestan tersebut agar bisa “terpilih” dan “duduk” di pemerintahan, baik di DPR maupun sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Dengan demikian, mereka tidak ingin jika senjata pamungkas itu ternyata abal-abal ataupun dipecundangi oleh pihak lawan sehingga “kursi” itu diduduki oleh pihak lawannya. Maka banyak reaksi lantas muncul untuk mengamankan “senjata pamungkas” itu.

Pasca Pemilu, suasana yang terjadi dikalangan elit politik di Indonesia ini persis dengan apa yang sering aku saksikan dalam sebuat tayangan serial amat terkenal dari HBO yakni Serial Game Of Thrones (GOT). Partai kontestan Pemilu, calon anggota legislatif, dan calon presiden serta wakil presiden saling merasa menang atas suara rakyat. Tujuan mereka adalah “kursi” pemerintahan. Jika diibaratkan dalam Game Of Throne, partai-partai itu adalah klan-klan yang berusaha survive di tengah perebutan The Iron Thrones yang diperebutkan oleh pemimpin-pemimpin klan. Sebagaimana GOT, Iron Throne atau Penguasa Tujuh Kerajaan (King of Seven Kingdoms) di Indonesia adalah kursi jabatan Presiden dan Wakil Presiden. Di dalam GOT, setiap orang yang merasa sebagai pewaris The Iron Throne tidak pernah menyerah untuk bisa menduduki Tahta Penguasa Tujuh Kerajaan itu. Demikian juga di Indonesia. Baru saja pemilu usai dan dilakukan Quick Count, para kontestan segera mengklaim kemenangan untuk memuluskan jalan menuju istana. Dan akhirnya, semua klan tetap memiliki kepentingan masing-masing, demikian juga pemimpin klan yang menghendaki Tahta. Seperti misalnya: Cersei Lannister, Sang Ratu yang menguasai The Iron Throne telah mencelakai banyak klan dan pemimpin hanya demi mendapatkan tahta, bahkan saudaranya sendiri diusir agar tidak menghalanginya menduduki tahta. Demikian juga saudara dari raja terdahulu (Robert Baratheon) yang dikudeta oleh klan Lannister yakni klan Baratheon atas nama Stanis Baratheon mengangkat senjata untuk merebut The Iron Throne. Masih ada pula Daenerys Targaryen yang adalah putri dari Aerys Targaryen, penguasa The Iron Throne sebelum Robert Baratheon, menghimpun kekuatan untuk mengklaim kembali kekuasaannya atas The Iron Thrones. Pada saatnya mereka saling berjuang, setiap klan itu juga memiliki kepentingannya sendiri-sendiri yakni supaya kekuasaan masing-masing klain itu berjaya.
           


Tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Pasca Quick Count diadakan, masing-masing partai dan capres mulai melihat kemungkinan apakah masih bisa mendapatkan kekuasaan, atau paling tidak bisa mendapatkan “kursi” baik di DPR maupun di Pemerintahan dengan menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Persekutuan antar klan memang beberapa kali terjadi, namun pengkhianatan juga beberapa kali terjadi. Demikian juga di Indonesia. Ada yang partainya mempercayai hasil Quick Count untuk partainya, tapi tidak mempercayai hasil hitungan bagi Pilpres. Ada partai yang setelah melihat hasil sementara dari Quick Count lantas memberikan statement untuk tidak melakukan tindakan yang melanggar konstitusi, sementara partai lain mengusulkan adanya People Power. Yang menjadi aneh di sini, jika mereka tidak percaya Quick Count, kenapa mereka tidak sabar menunggu Real Count dari KPU dan begitu tergesanya melontarkan reaksi yang justru menampakkan kekhawatiran akan kekalahan? Kekhawatiran akan kekalahan justru memperkuat bahwa keinginan para kontestan itu bukannya menyelamatkan negeri ini tetapi menguasai negeri ini. Apa beda dengan intrik para pemimpin haus kekuasaan di dalam Game Of Throne yang memperebutkan The Iron Thrones?



Ketika para politisi itu sedang disibukkan dengan perebutan The Iron Throne yakni kekuasaan atas Republik ini, mungkin begitu sedikit yang menyadari bahwa The Winter is Coming (Musim dingin telah tiba) bagi bangsa ini. Jika di dalam GOT, The Winter is Coming adalah kiasan untuk datangnya ancaman dari Night King dengan pasukan White Walker-nya yang adalah mayat hidup dari balik The Wall. Night King akan menyerang dunia orang hidup, termasuk Westeros atau Ibu Kota Tujuh Kerajaan. Di Indonesia, ancaman Night King ini terjadi ketika persatuan bangsa dan sesama serta dasar negara Pancasila diusik oleh kepentingan-kepentingan, baik itu kepentingan berdasarkan SARA, ataupun kepentingan politik, ekonomi, dan keadilan sosial. Adakah pemimpin yang menyadari bahwa The Winter is Coming?


Di dalam GOT, ada pemimpin yang menyadari akan datangnya serangan Night King yakni Jon Snow yang ternyata dia adalah Aegon Targaryen, keturunan terakhir laki-laki dari Aerys Targaryen, penguasa The Iron Thrones sebelum dikudeta Robert Baratheon yang bekerjasama dengan klan Lannister. Namun Jon Snow tidak menghendaki tahta. Ia hanya ingin melindungi manusia dari serangan Night King beserta pasukan White Walkers-nya. Lalu bagaimana kelanjutan cerita dari GOT setelah Night King datang? Ya tidak tahu karena serialnya baru tayang untuk Final Season-nya di HBO sejak tanggal 14 April 2019 lalu. Jika pertanyaan itu dikaitkan dengan GOT yang ada di Indonesia, bagaimanakah kelanjutan akhir dari Pemilu 2019? Ya tentu jawabannya juga tidak tahu hingga nanti terjawab pada tanggal 22 Mei 2019. Maka, sebaiknya kita sebagai bangsa Indonesia melihat lebih jauh seperti Jon Snow. 
 

Sebenarnya musuh kita bukanlah lawan politik, partai-partai sesama kontestan, lawan capres dan wapres, tetapi musuh kita adalah ancaman pecah belah bangsa, ancaman ketidakadilan bangsa, ancaman rongrongan terhadap Pancasila dan cita-cita bangsa. Dan apakah ada calon pemimpin yang sadar akan hal itu lalu mengajak segenap rakyatnya untuk bersama-sama berjuang menjaga bangsa Indonesia yang super  indah dan kaya ini? Dan ingat, GOT dengan Westerosnya hanyalah fiksi, sementara Indonesia itu real. Jangan sampai Night King dan White Walkers justru menyerang Indonesia.

Salam Persatuan

Yohanes Ari Purnomo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar