Selasa, 09 Juli 2013

Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Rabu, 3 Juli 2013



Hari ketiga mengikuti Bulan Pastoral di Wisma de Mazenod Condong Catur ini kujalani dengan lancar. Pada hari ketiga,  kursus diawali dengan Perayaan Ekaristi secara berbeda oleh Romo Kieser, bertepatan dengan Hari Raya Rasul Thomas. Dalam perayaan ekaristi, kami diajak untuk merefleksikan perutusan Thomas, yang percaya pada Kristus. Aku agak tidak dapat mengikuti perayaan itu karena aku demikian ngantuk, dan entah kenapa seolah aku masih saja merasa enggan untuk terus bersemangat. 

Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Selasa, 2 Juli 2013



Kursus Bulan Pastoral hari kedua. Pagi hari, aku mengawali dengan mengikuti Perayaan Ekaristi di Kapel, yang kumengerti dimulai pada pukul 06.00. Tetap saja ada kemalasan yang tertinggal di dalam jiwaku ini, yang akhirnya mengajak tubuhku untuk tidak segera beranjak dari tempat tidur. Meski tidak terlambat, namun terasa begitu tergesa. Dalam perayaan Ekaristi pun, aku tidak begitu fokus karena masih terasa demikian ngantuk. Tetapi aku bersyukur karena aku boleh mengalami semua peristiwa ini, boleh berjumpa dengan teman-teman pastor dari berbagai tempat di Indonesia ini. 

Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Senin, 1 Juli 2013




Hari ini aku mengawali keterlibatanku di dalam Bulan Pastoral yang akan berlangsung selama satu bulan  (Juli- Agustus). Aku berangkat dari Sragen dengan agak malas, karena merasa belum mempersiapkan apa-apa. Aku merasa kekurangan waktu dengan segala hal yang harus kulakukan. Dan aku tak tahu kenapa begitu. Ada banyak kegagalan yang terjadi pada diriku ini. Aku berangkat dari Sragen sekitar pukul 13.00. Setelah makan siang bersama dengan Patrick, aku berangkat dengan Megapro ke Bayat bersama dengan Patrik. Sesampai di Bayat, sekitar pukul 15.00, aku langsung bertemu dengan keluarga Bpk  Widodo dan juga mas Sapari yang mengantarkan barang-barangku. Aku merasa tidak sangat yakin dalam memasuki peristiwa baru ini. Ada banyak pekerjaan yang rasanya belum selesai, namun sudah harus kutinggalkan.

Kamis, 28 Maret 2013

Yesus Sang Guru Sejati (Renungan Untuk Kamis Putih)



Perayaan Hari Kamis Putih adalah perayaan pemberian diri Tuhan bagi manusia.  Marilah kita memahami peristiwa yang ditulis dalam Kitab Suci tentang Perjamuan Terakhir dan tentang Pembasuhan Kaki para murid ini dengan pemahaman yang sederhana. Yesus yang adalah  Sang Guru Sejati telah mengetahui bahwa diriNya akan disalib, memberikan ajaran terakhirNya bagi manusia. Ajaran itu bukanlah sebuah ajaran yang sulit diterima oleh nalar, namun sangat sederhana. Bahkan ajaran yang diberikan oleh Yesus pun tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Ajaran itu adalah Kasih hingga akhir. Kasih itu diwujudkan dengan penyerahan diri, menjadi pelayan bagi sesamanya, khususnya bagi mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Sebagai seorang guru, Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai wujud hakikatnya yang sejati sebagai seorang Guru.

Rabu, 27 Februari 2013

Doa Syukur dan Permohonan Untuk Gereja Katolik Semesta Atas Penggembalaan Bapa Suci Benedictus XVI dan pemilihan Sri Paus yang baru



Para Rama, Rama Paroki, Suster/Bruder/Frater serta saudari-saudara terkasih, seperti sudah kita ketahui bersama, Bapa Suci Benediktus XVI pada tanggal 11 Februari 2013 mengumumkan secara resmi pengunduran dirinya. Pengunduran diri Bapa Suci berlaku secara efektif mulai hari Kamis, 28 Februari 2013 pada pukul 20.00 waktu Roma atau Jumat, 1 Maret 2013 sekitar pukul 02.00 WIB.
Dalam kerangka pengunduran diri Bapa Suci Benediktus tersebut, kami mengajak seluruh umat di Keuskupan Agung Semarang untuk ikut ambil bagian dalam dinamika Gereja Semesta. Di tengah aneka issue pengunduran diri tersebut, kita ingin secara khusus berdoa bagi Gereja secara bersama-sama. Ajakan ini berangkat dari tulisan Paus Yohanes Paulus II yang terdapat dalam Dominicae Cenae: “Gereja dan dunia sungguh memerlukan kebaktian kepada Ekaristi Mahakudus. Yesus menantikan kita dalam Sakramen Kasih-Nya ini. Marilah kita tidak berhemat dengan waktu kita. Marilah kita tidak hitung-hitung dengan waktu kita untuk menjumpai Tuhan dalam Adorasi dan kontemplasi yang penuh iman dan siap memberi silih bagi dosa besar dan kejahatan dunia. Semoga adorasi kita tak akan pernah berhenti!”. Tuhan Yesus sendiri menegaskan dan mengajak kita menjadi penyembah-penyembah yang benar pada jaman ini “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian” (Yoh. 4:23).

Jumat, 18 Januari 2013

Orang-Orang Indonesia Semakin Irasional?


Miris mendengarkan dan menyaksikan berita akhir-akhir ini di media-media tentang berbagai macam kejadian di Indonesia. Kejadian-kejadian itu seakan menunjukkan betapa negara ini tengah dilanda oleh virus   irasonalitas. Salah satu contoh misalnya: oleh sekelompok Ormas, banjir di Jakarta yang terjadi pada tahun ini disebabkan oleh karena patung telanjang di Istana Negara, lantas adanya peraturan yang meyatakan larangan membonceng mengangkang bagi perempuan, penutupan sekolah-sekolah yang tidak mau menerapkan aturan walikota, pemerkosaan oleh ayah kandung sendiri,  kisruh persepakbolaan nasional dan masih banyak lagi. Virus irasionalitas itu muncul ketika ide dan gagasan sekelompok orang tertentu itu hendak dipaksakan ke dalam komunitas masyarakat umum, atau ketika jawaban solusi tidak menyangkut sama sekali dengan akar persoalan. Mungkin orang-orang Indonesia sekarang ini terlalu tergesa dengan hidupnya, atau mungkin sudah lelah untuk mencari mana akar persoalan yang terjadi.
Ketika jawaban spontan, reaksioner dan diskriminatif itu dijadikan kata akhir, maka irasionalitas mulai tampak. Proses komunikasi politik yang sebenarnya adalah tindakan rasional, demi kepentingan umum tidak lagi berjalan normal. Yang ada hanyalah suara mayoritas yang ternyata justru jauh dari masuk akal. Dan anehnya, hal-hal itu justru menjadi berita besar dalam hidup bangsa ini. Mau sampai kapan, Indonesia akan terkungkung dalam irasionalitas ini? Mau sampai kapan golongan minoritas dan marginal akan terus terpinggirkan?
Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang rasional, visioner dan juga tidak sekedar pencitraan. Sehingga kepentingan umum menjadi dasar yang hakiki dari setiap proses politik, bukan sekedar suara mayoritas. Jika mengandalkan suara mayoritas, bisa jadi Indonesia ini ibarat sekumpulan orang bodoh yang mengarahkan kapalnya ke pusaran air besar karena dipahami bahwa pusaran air besar itu adalah pintu surga. Mengapa kebodohan itu terus dijadikan suara mayoritas. Mengapa suara hati yang unik, murni dan baik itu kalah dengan suara mayoritas yang seringkali justru membungkam hati nurani?
Tidak perlu menyalahkan siapapun dalam situasi ini, tetapi marilah kita mulai kritis dari diri sendiri. Menyikapi segala bentuk irasionalitas dengan daya nalar yang masih utuh, disertai dengan hati nurani yang masih bersih. Semoga, dengan begitu, irasionalitas dapat dikikis dan digantikan dengan rasionalitas berdasarkan hati nurani bersih. Jangan sampai negeri ini terperosok ke dalam lubang kehancuran, karena  kebodohan mayoritas, dan mayoritas yang bodoh.

Jumat, 07 Desember 2012

Ketika Tuhan Bungkam (Sebuah Puisi)


Sekerat daging tumbuh dalam bisu
Menjadi besar dalam hening
Bermandikan hujan pertanyaan
Bernafaskan misteri

Tawa dan tangislah bahasanya awal mula
Sebab terlampau banyak kata-kata yang akhirnya sirna
Ia merengek, Ia terkekeh dalam waktu yang terus melaju
Matanya menangkap kerlip bintang dan sorot mentari
Berdiri mengangkang sebagai saksi berjuta tragedi

Lalu bibirnya melafalkan litani kepedihan
Mengapa seolah Tuhan bungkam, diam
Seperti malam kelam, menyergapnya dalam gelap yang lebam

Dimanakah Kau Tuhan, ketika kegelapan ini seolah kekal?
Ketika namaMu dikumandangkan sebagai mantra pembinasaan,
Ketika jiwa-jiwa tersesat dalam kerakusan yang mengkristal,
Ketika kebencian mencuat sebagai nada dasar kehidupan,
Ketika penindasan berjaya dengan tahta kesewenangannya,
Dimanakah Engkau Tuhan?

Mengapa Engkau seolah diam, Tuhan?
Adakah Engkau tertidur?
Atau mabuk anggur, karena lelah mendengar  jutaan celoteh doa, yang tampak seperti tuntutan

Adakah Engkau menangis ketika dunia menjerit?
Adakah Engkau menjawab setiap pertanyaan
Yang mengalir dari kepongahan kenyataan?

Ya, mungkin memang Kau telah bisu
Telinga-Mu tuli karena bertubinya permohonan menggetarkan gendangnya
Mata-Mu tak lagi melihat kisah bermilyar jiwa yang semuanya ingin Kau menyaksikannya

Dan biarlah semuanya tetap seperti adanya
Hanya saja, sekerat daging yang bernafas itu tak mampu berdiam
Ketika ia menyaksikan sesosok tubuh manusia kurus kering
Berlumur darah, bermahkota duri.
Tangan-Nya terentang, terpaku kayu palang
Merengkuh surga dan bumi, menyatukan yang sementara dan abadi
Kaki-Nya terpatri pada kayu yang menghunjam bumi.

Tanpa suara dari mulut-Nya, 
hanya tetes-tetes darah yang mengalir membasuh tanah
Setiap tetes itulah jawaban, dari setiap pertanyaan
Jawaban yang lebih agung dari untaian kata-kata indah.




Sragen, 6 Desember 2012