Minggu, 30 Oktober 2011

Adakah Surga dan Neraka itu?

Surga dan neraka itu apakah ada? Jika ada, sebenarnya seperti apakah surga dan neraka itu? Pertanyaan ini sering terlontar di antara kita manusia, yang memang tidak akan sempurna hidup di dunia ini. Kepastian akan kematian telah membuat manusia bertanya tentang hidupnya kelak setelah tidak lagi diperkenankan memiliki tubuh yang rapuh dan tak abadi ini. Apakah memang akan ada kehidupan setelah kematian di dunia ini? Secara logika, kita tidak akan mampu menjawab itu, karena logika mengandalkan suatu pengalaman empiris yang mampu dipahami dan ditangkap oleh manusia biasa. Dan secara logika pula kita bisa mengatakan bahwa setelah kematian, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi; seperti tidur tanpa mimpi.  Saat kita tertidur tanpa bermimpi, dimanakah keberadaan kita? Mengapa bisa kita hidup, meski kita tidak merasakan apun juga, saat tidur kita tanpa mimpi? Apakah itu gambaran kematian, yakni ketika kita tidak tanpa mimpi? Dan apakah saat itu kita telah berjumpa dengan surga atau neraka?

Jumat, 28 Oktober 2011

Mencapai Buah-Buah Pekerjaan Allah (Ngarah Woh Pakaryan Dalem Gusti): Seputar Kunjungan Pastoral Bapak Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang ke Paroki St. Perawan Maria di Fatima Sragen:

Tanggal 27-28 Oktober 2011 merupakan hari yang bersejarah bagi umat Paroki Santa Perawan Maria Di Fatima Sragen sebab pada tanggal itu, Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Johannes Pujasumarta mengadakan Kunjungan Pastoral ke Paroki Santa Perawan Maria Di Fatima Sragen dalam rangka memberikan sakramen Penguatan bagi 242 umat. Penerimaan Sakramen Penguatan sebenarnya dilaksanakan pada hari Jumat, 28 Oktober 2011 pukul 16.00, namun Bapak Uskup berkenan hadir di Sragen pada hari Kamis, 27 Oktober 2011 karena diminta oleh umat Paroki Sragen untuk menutup rangkaian Ekaristi novena di tempat calon Gua Maria Fatima Ngrawoh.
Ekaristi Penutupan Novena (Novena yang ke-9) dilaksanakan di calon Taman Doa dan Gua Maria Fatima Ngrawoh pada pukul 17.00. Dalam situasi agak mendung, umat Paroki St. Maria Di Fatima Sragen berbondong-bondong datang ke Ngrawoh untuk mengikuti Ekaristi yang dipimpin oleh Bapak Uskup, didampingi oleh Romo paroki St. Perawan Maria Di Fatima Sragen, Rm. Robertus Hardiyanto, Pr  dan Rm. Yohanes Ari Purnomo, Pr. Pada kesempatan tersebut, dilantik pula Panitia Pembangunan Taman Doa dan Gua Maria Di Fatima Ngrawoh serta pemberkatan tempat calon Gua Maria Ngrawoh. Ekaristi berjalan dengan lancar dan diikuti sekitar 700 umat. Dalam homili, Mgr. Johannes Pujasumarta mengungkapkan tentang karya Allah dalam menumbuhkan iman di tanah Jawa yang diperjuangkan oleh para misionaris.  Pada awalnya, pewartaan iman di tanah Jawa ini seakan menemui jalan buntu, karena tidak mengalami perkembangan. Hingga akhirnya Tuhan sendiri berkenan berkarya menumbuhkan iman di tanah Jawa ini melalui peristiwa Pembaptisan di Sendangsono. 25 tahun sesudah peristiwa pembaptisan itu, Rm. Prenthaler berinisiatif membangun Sendangsono sebagai tempat peziarahan Maria yang dirasakan begitu dekat dengan orang Jawa. Tempat peziarahan Maria ini menjadi ungkapan kecintaan umat terhadap Bunda Maria yang akan menghantarkan mereka kepada Yesus, Per Mariam ad Iesum.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Menjadi Guru adalah sebuah Perutusan (Renungan untuk Para Guru)

Salah satu kisah tentang kehidupan seorang guru yang begitu mengesan bagi saya adalah kisah Erin Gruwell, seorang guru bahasa Inggris di sebuah SMU di Long Beach, California. Kisah ini dimulai ketika Erin Gruwell bertugas sebagai guru baru di SMU tersebut. Beberapa guru yang sudah terlebih dahulu berada di SMU tersebut tidak percaya bahwa Erin Gruwell akan mampu merubah anak-anak yang memiliki kehidupan keras seperti tawuran antar geng, perdagangan narkoba, pertentangan ras, dan berbagai persoalan lainnya. Kelas yang diajar oleh Erin Gruwell terisi dengan anak-anak seperti itu. Hampir setiap hari terjadi perkelahian diantara mereka. Kelas tersebut selalu kacau setiap hari.
Pada awalnya, Erin Gruwell mengajar dengan gaya konvensional seorang guru, yakni mengajak anak untuk mencoba mengerti materi yang diajarkan. Namun gaya ini tidak banyak membantu perkembangan anak-anak dalam belajar, justru anak-anak ini semakin mengadakan penolakan terhadapnya. Selain itu, anak-anak ini berada dalam ancaman serius karena hidup mereka diwarnai dengan berbagai macam situasi diskriminasi ras, kriminalitas dan juga kekerasan. Berhadapan dengan situasi itu, Erin Gruwell tidak menyerah. Dia terus berusaha untuk menjadi seorang guru yang baik bagi anak-anaknya. Ia percaya bahwa anak-anak didiknya memiliki potensi yang besar, yang bisa dikembangkan bagi masa depan mereka.

Kamis, 20 Oktober 2011

Galau itu tanda Hidup dan Energi tuk Berkarya

Setiap seniman pasti pernah merasa galau. Dan setiap orang pada dasarnya bisa menjadi seorang seniman karena pasti pernah merasa galau. Ada begitu banyak puisi, film, novel tercipta, lagu terdendang, lukisan tertoreh, serta kebijaksanaan terlahir dari kegalauan manusia. Proses memahami, menerima dan akhirnya mensyukuri kegalauan itu adalah proses ‘kehamilan’ suatu karya. Dan suatu karya seni tercipta karena ‘kehamilan’ atas kegalauan ini dilalui dengan baik.

Senin, 17 Oktober 2011

Pergulatan Mgr. A. Soegijapranata, SJ tentang Nasionalisme dan Kristianitas di Indonesia


Sumpah Pemuda telah diikrarkan sejak 83 tahun yang lalu. Saat itu para pemuda saling mempersatukan diri dibawah Panji Indonesia. Mereka mengakui berbahasa, berbangsa dan bertanah air satu, yakni bahasa Indonesia, bangsa Indonesia, dan tanah air Indonesia. Peristiwa ini dapat disebut sebagai embrio kemerdekaan bangsa Indonesia yang terlahir 15 tahun sesudah ikrar itu dikumandangkan. Sumpah Pemuda tahun 1928 dianggap sebagai munculnya gerakan nasionalisme awal bangsa Indonesia. Akan tetapi apakah nilai-nilai nasionalisme bangsa ini baru muncul sejak peristiwa itu ataukah telah muncul sebelumnya? Untuk menelusuri jejak nasionalisme bangsa ini, kiranya sosok seorang Pastor pribumi sekaligus Uskup pertama pribumi di tanah Indonesia  yakni Mgr. A. Soegijapranata, SJ patut dikemukakan. Untuk membantu menilik kembali siapakah Mgr. A. Soegijapranata, SJ serta kiprahnya dalam perjuangan nasionalisme Indonesia, kiranya menarik untuk mencermati Biographi beliau yang berjudul  Soegija: Si Anak Betlehem van Java  karangan Rm. G. Budi Subanar, SJ. Dalam kata sambutan di awal Biographi tersebut, Uskup Agung Semarang, Mgr. I. Suharyo, Pr menulis bahwa Mgr. A. Soegijapranata, SJ adalah seorang tokoh nasional dan mendapat kehormatan sebagai Pahlawan Nasional[1].

Minggu, 16 Oktober 2011

Keagungan Cinta Seorang Ibu

Belum lama ini, saya menyaksikan sebuah film karya anak negeri yang berjudul ‘Perempuan Punya Cerita’. Saya terhenyak selepas menyaksikan film tersebut. Air mata ini hampir tertumpah karena rasa haru yang membuncah. Sesuai judul filmnya, saya menyaksikan cerita-cerita dari perempuan-perempuan yang sering menjadi korban dari kekuasaan kaum pria, yang mungkin merupakan cerita sehari-hari juga dalam hidup harian sekian wanita yang ada di negeri ini. Cerita dalam film itu begitu sederhana, lugas dan apa adanya, tentang penderitaan kaum perempuan yang hidup di bawah penindasan hasrat laki-laki.

Film itu sendiri dibangun oleh empat cerita perempuan dari tempat yang berbeda: Pulau Seribu, Yogyakarta, Cibinong, dan Jakarta. Cerita pertama, yakni Cerita dari Pulau Seribu menampilkan perjuangan seorang bidan muda yang mengidap kanker payudara di sebuah desa nelayan miskin. Bidan muda itu tidak memiliki anak, namun ia menaruh kasih yang besar terhadap seorang gadis remaja cacat mental yang adalah tetangganya. Suatu kali, gadis cacat mental itu diperkosa oleh para kuli angkut barang di pelabuhan. Di tengah perjuangannya melawan penyakit kanker payudara yang mulai stadium tiga, ia berusaha mendapatkan keadilan bagi gadis cacat mental yang diperkosa itu. Namun apa yang didapatnya tidak lebih dari sekedar penghinaan. Para pemerkosa hanya meminta maaf saja kepada nenek si gadis dengan memberi uang, maka urusan pun selesai. Bidan itu tidak bisa berbuat banyak karena jika ia masih mengungkit-ungkit masalah perkosaan itu, ia diancam akan diperkarakan juga karena masyarakat telah mengetahui aborsi yang dilakukannya, meski aborsi itu dilakukan demi menyelamatkan nyawa sang ibu. Gadis itu akhirnya hamil. Oleh karena situasi kemiskinan keluarga gadis cacat mental itu, dengan amat terpaksa, bidan muda itu mengaborsi janin dalam rahim si gadis sebelum ia pindah ke Jakarta. 

Jangan Korbankan Rakyat Kecil!

Menyaksikan anggota keluarga Suparman, korban penyerangan terhadap Jemaah Ahmadiyah Indonesia di Pandeglang, hati ini terusik miris karena sebagian besar adalah ibu-ibu dan anak-anak. Ketika mendengar isu bahwa akan terjadi serangan kembali, mereka diungsikan di Polres Pandeglang dengan situasi mental dan fisik terancam. Mereka, yang sehari-harinya sebagai petani, tak mengerti sama sekali tentang politik, tentang ormas, tentang koruptor, tentang pemerintahan, tentang wakil rakyat, harus menanggung beban derita terlunta-lunta, terusir dari tanah tumpah darah mereka. Mereka juga orang Indonesia, yang sehari-hari menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menumbuhkan padi, ataupun tanaman pangan lainnya. Mereka hanya tahu bekerja dan beribadah, sebab mereka sadar bahwa Tuhanlah yang memberi kecukupan segala sesuatu kepada mereka melalui karya mereka. Mereka hanya ingin hidup damai, hidup rukun meski mereka memiliki cara berbeda dalam menghayati kecintaan mereka pada Tuhan.