Sabtu, 13 April 2019
SEANDAINYA KAMU JOKOWI ATAU PRABOWO
Jumat, 12 April 2019
MEMBANGUN INDONESIA TIDAK BISA DENGAN KEBENCIAN
Kepada segenap bangsa
Indonesia,
Calon Presiden dan
Wapres Nomer 01 dan 02
Calon Anggota
Legislatif Kabupaten, Provinsi, dan Pusat
Calon Anggota DPD
Para tokoh agama, tokoh
seni budaya, paranormal, tokoh masyarakat
Para Politikus Partai
warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, putih, dst
Para Pendukung Capres
No 01 dan 02, berikut Timsesnya
Para Supporter
Sepakbola Indonesia
Para Penyuka Lagu
Dangdut (baik dangdut lurus, dangdut koplo, campursari, dst)
Saudara-saudari Dari
Sabang Sampai Merauke
Saudara-saudari yang
bersurban, berhijab, sampai yang pakai rok mini, koteka, dan baju tanpa lengan
Saudara-saudari yang
suka film dalam negeri ataupun luar negeri
Saudara-saudari yang
suka selfi dan juga yang gunakan medsos untuk jual beli
Dan saudara-saudari
lainnya yang tak bisa disebut satu satu.
Senin, 08 April 2019
TEKS MISA MINGGU PALMA TAHUN C
HARI MINGGU PALMA
MENGENANG SENGSARA
TUHAN
TAHUN C
(gambar dari amorpost.com)
Pada hari ini Gereja mengenangkan peristiwa Kristus
Tuhan memasuki Kota Yerusalem untuk menggenapi misteri Paskah-Nya. Dalam semua
misa peristiwa ini hendaknya diperingati dengan salah satu cara berikut: 1) perarakan atau 2) upacara masuk meriah sebelum misa utama, 3) upacara masuk sederhana sebelum misa-misa lain. Upacara masuk
meriah, tetapi bukan perarakan, dapat diadakan sebelum salah satu misa yang
biasanya dihadiri oleh banyak umat.
Apabila perarakan atau upacara masuk meriah tidak
dapat diadakan, seyogyanya diselenggarakan perayaan sabda untuk mengenang
peristiwa Tuhan memasuki Kota Yerusalem secara meriah dan untuk mengenang
sengsara Tuhan. Perayaan ini dapat dilaksanakan pada hari Sabtu sore atau hari Minggu
pada jam yang lebih sesuai.
MENGENANG BAPAK
Suatu ketika, bapakku duduk di ruang tengah
keluarga. Beliau tampak sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Aku mencoba untuk
lebih dekat, melihat apa yang sedang dikerjakan bapak. Rupanya beliau sedang
membuat sebuah sarung senjata. Senjata itu berupa pisau kecil, menyerupai keris
kecil yang katanya beliau temukan di sebuah sungai. Senjata itu tampak jelek,
kusam dan terlihat kuno. Namun bapak menurut bapak, senjata itu tampak unik dan
seperti bertuah. Lalu beliau merawat dan membuatkan sarungnya. Beberapa kali,
bapak menggunakan senjata itu untuk menebak angka togel. Tapi selalu saja,
bapak tidak pernah berhasil menebak dengan benar angka togel yang keluar. Meski
begitu, bapak tetap merawat senjata itu dan setiap kali tampak membersihkannya.
Semenjak bapak seda (meninggal) senjata itu pun tak kelihatan lagi, entah
dimana sekarang senjata itu.
Minggu, 31 Maret 2019
KACAMATA KUDA HIDUP BERAGAMA DI INDONESIA
Kasus ditolaknya warga yang beragama Kristen
dimakamkan di tanah wakaf muslim di Mojokerto, pemotongan salib makam di
Pringgolayan, DIY dan juga perusakan makam Kristen di Magelang beberapa waktu
lalu menyisakan sebuah pertanyaan tentang krusial tentang toleransi hidup
beragama di negeri ini. Apakah agama yang sejatinya adalah jalan hidup untuk
mencapai kesempurnaan jiwa justru membuat bangsa ini saling terkotakkan dan
terfragmentasi ke dalam kerangka surga masing-masing? Atau kenapa peristiwa itu
harus terjadi sementara persaudaraan sebagai sesama manusia telah ada jauh
sebelum agama-agama itu muncul? Menjadi semakin miris ketika dogma agama pun
dikenakan bagi mereka yang telah meninggal sebagai sesama manusia? Dimanakah
rasa kemanusiaan? Atau agama telah memperbudak kemanusiaan dan meletakkan
kemanusiaan di sisi tepi yang sewaktu waktu bisa didorong masuk ke jurang?
Lantas siapakah sesamaku manusia? Apakah sesamaku manusia hanyalah mereka yang
se-bangsa, se-agama, se-jenis kelamin, dan se-aliran politik yang sama? Apakah
surga juga sudah ditentukan bagi mereka yang beragama anu, sementara di luar
agama anu semuanya akan menjadi penghuni neraka? Jika memang benar demikian,
apakah ada bukti yang bisa menguatkan argumen tersebut sehingga berhak untuk
mengkotakkan manusia ke dalam kotak-kotak tertentu antara surga dan neraka,
termasuk bagi mereka yang sudah meninggal?
Sabtu, 30 Maret 2019
Iblis Tidak Pernah Mati, Tetapi Harus Selalu Ada Orang yang Melawannya
Judul tulisan ini terinspirasi dari kumpulan
cerita pendek karya Seno Gumira Ajidarma. Aku tidak akan mengulas kumpulan
cerpen tersebut, namun bagiku, penggalan kalimat itu bisa dijadikan inspirasi
bagi kita bangsa Indonesia saat ini, ketika kebenaran seolah-olah menjadi bahan
permainan, dan godaan untuk saling bertikai di antara sesama anak bangsa seakan
diambang pintu. Apakah kita akan membiarkan Sang Iblis itu masuk rumah kita?
Selasa, 26 Maret 2019
Liturgi: Karya Penebusan Umat Beriman
Dalam Konstitusi
tentang Liturgi Suci, Konsili Vatikan II menulis demikian: Sebab
melalui Liturgilah dalam Korban Ilahi Ekaristi, “terlaksanalah karya penebusan
kita”. Liturgi merupakan upaya yang sangat membantu kaum beriman untuk dengan
penghayatan mengungkapkan Misteri Kristus serta hakekat asli Gereja yang
sejati, serta memperlihatkan itu kepada orang-orang lain, yakni bahwa Gereja
bersifat sekaligus manusiawi dan Ilahi, kelihatan namun penuh kenyataan yang
tak kelihatan, penuh semangat dalam kegiatan namun meluangkan waktu juga untuk
kontemplasi, hadir di dunia namun sebagai musafir. Dan semua itu berpadu
sedemikian rupa, sehingga dalam Gereja apa yang insani diarahkan dan diabdikan
kepada yang ilahi, apa yang kelihatan kepada yang tidak nampak, apa yang
termasuk kegiatan kepada kontemplasi, dan apa yang ada sekarang kepada kota
yang akan datang, yang sedang kita cari. Maka dari itu Liturgi setiap hari membangun mereka yang berada didalam Gereja menjadi
kenisah suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh, sampai mereka
mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus. Maka Liturgi
sekaligus secara mengagumkan menguatkan tenaga mereka untuk mewartakan Kristus,
dan dengan demikian menunjukan Gereja kepada mereka yang diluarnya sebagai
tanda yang menjulang diantara bangsa-bangsa. Dibawah tanda itu putera-putera
Allah yang tercerai berai dihimpun menjadi satu, sampai terwujudlah satu
kawanan dan satu gembala. (SC 1).
Langganan:
Postingan (Atom)


