Beberapa
tulisan tentang Nabi Khidir menceritakan hal yang sama tentang kisah perjumpaan
dengan Sunan Kalijaga itu. Tetapi ada sesuatu yang membuatku tertarik ketika
ada sebuah tulisan yang mencoba menjelaskan keberadaan dan identitas Nabi
Khidir ini berdasarkan Alquran. Kisah tentang Sang Khidir dalam Alquran
digambarkan dengan sebuah kisah misterius tentang seorang hamba yang oleh Allah
SWT diberi rahmat dari sisiNya dan diberiNya ilmu. Kisah itu terdapat dalam
surah al-Kahfi dimana ayat-ayatnya dimulai dengan kisah Nabi Musa: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada
muridnya: 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua
buah lautan; atau aku akan berjalan-jalan sampai bertahun-tahun." (QS.
al-Kahfi: 60). Musa mengatakan hal itu kepada muridnya karena ia hendak
berjumpa dengan hamba Allah yang diberi rahmat dari sisiNya dan diberi ilmuNya.
Pertemuan dengan hamba Allah itu terjadi disebuah tempat dimana dua buah lautan
bertemu. Mengenai tepatnya dimana tempat itu, tidak ada seorang pun yang tahu.
Alquran pun tak pernah dengan jelas menyebutkan dimanakah tempat itu, demikian
pula nama hamba itu. Al-Qur'an sengaja menyembunyikan pahlawan dari kisah ini.
Allah SWT mengisyaratkan hal tersebut dalam firman-Nya:
Senin, 25 Maret 2019
KEINDAHAN SAKRAMEN TOBAT
Setelah menerima
sakramen Tobat, aku selalu merasa damai, bahagia dan penuh harapan. Meski di
depan aku tidak tahu apakah akan jatuh dalam dosa lagi, namun aku sungguh
merasakan betapa Tuhan mengasihiku. Dengan demikian, aku tak takut lagi
mengungkapkan segala kerapuhanku kepada romo yang melayani sakramen Tobat. Saat menghadap romo tersebut, aku sungguh
merasakan kehadiran Tuhan yang menyapa lembut dan penuh kasih. Aku merasakan
kehadiran Tuhan yang berkenan menerimaku dengan segala kedosaan yang ada
padaku. Ibaratnya aku ini telah terjatuh di lumpur yang kotor dan bau, namun
Tuhan berkenan memandikanku dan membuatku bersih kembali. Saat itulah aku
memiliki kesempatan untuk memohon kepadaNya kekuatan kembali untuk bangkit dari
segala keterpurukanku. Sebab tanpa kekuatanNya, aku tak mampu bangkit dari
segala kedosaan ini.
Jumat, 08 Maret 2019
Global Transformation ( Resensi Buku)
Data Buku
Judul :
Global Transformation
Pengarang :
David Held dan Anthony McGrew (ed)
Penerbit :
Polity Press, Cambridge
Tahun Terbit :
2000
Halaman :
624 hal
Ukuran : 244 x 172
mm, 6.75 x 9.75 in
Bab 1
Globalization
Oleh George Modelski
Bab pertama buku Global
Transformation diisi oleh tulisan dari George Modelski[1] yang
berjudul Globalization. Dalam tulisan
ini, George Modelski hendak memberikan definisi atau cakupan terhadap proses
globalisasi yang terjadi pada dunia saat ini. Menurutnya, masyarakat dunia saat
ini adalah masyarakat global. Proses dimana masyarakat secara historis dibawa ke dalam satu sistem global ini
disebut sebagai globalisasi. Sifat dan bentuk yang dihasilkan oleh proses globalisasi
dalam dunia ini akhirnya juga menjadi
salah satu faktor dasar dari politik masyarakat dunia saat ini.
George
Modelski lantas merunut sejarah masyarakat beserta perkembangan peradabannya
yang menghantar masyarakat kita saat ini hingga sampai kepada proses
globalisasi. Salah satu unsurnya adalah
terjadinya perluasan atas ruang lingkup geografis dari komunitas manusia.
Perluasan ruang lingkup geografis ini pun mengakibatkan terjadinya perkembangan
ruang lingkup dari organisasi sosial. Proses
perluasan ini dimulai sejak enam ribu tahun lalu ketika sebuah ‘Masyarakat Besar’ mengambil bentuk dalam kota-kota di
Mesopotamia yang ruang lingkup wilayahnya mencapai dua atau tiga ratus mil;
hingga ketika Kekaisaran Roma menguasai lembah Mediterania. Hal yang sama
kemudian berlanjut saat kekuasaan Cina dan India mulai merambah kawasan Asia.
Proses perluasan ini terjadi di antara tahun 500 SM hingga 200 M, ketika budaya
Hellenis mulai mencapai India dan Kekaisaran Han mulai mengadakan kontak dengan
India. Situasi ini mungkin menjadi praktik awal munculnya beberapa pola
interaksi dalam masyarakat kuno. Meski secara umum, bagaimana pun juga,
interaksi ini masih bersifat jarang, tidak langsung, non-politik, dan belum
sungguh-sungguh global.
Untuk
merunut asal mulai proses globalisasi, George Modelski menampilkan
periode-periode awal peradaban masyarakat yang mulai menguasai daerah-daerah
lain di dunia. Periode tersebut adalah:
Jumat, 01 Maret 2019
MANUSIA ITU HEWAN?
Suatu ketika, dalam sebuah obrolan, seorang
sahabat berkata bahwa manusia itu juga bagian dari hewan. Manusia terikat dalam
kebutuhan material dan psikisnya untuk memperoleh kenyamanan serta kelangsungan
hidupnya. Ketika manusia didorong oleh kebutuhan itu, maka ia cenderung melihat
dunia ini sebagai arena untuk berlomba dalam memenuhi kebutuhannya, tak peduli
apakah orang lain pun akan berlomba demi kebutuhan yang sama. Dan memanglah,
dunia ini lalu menjadi seperti hutan rimba yang menerapkan prinsip rantai
makanan. Pihak pemenang adalah mereka yang mampu memakan lebih banyak
dibandingkan yang lainnya. Demikianlah pemikiran sang sahabat itu.
Kamis, 28 Februari 2019
INDONESIA ITU TOLERAN TAPI DISKRIMINATIF
Mungkin judul tulisan ini terlalu provokatif
dan menghakimi. Tetapi pemikiran tentang situasi diskriminatif dalam hidup
bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia ini terus mengusikku dan tak tahu
harus diungkapkan seperti apa. Memang untuk mengatakan bahwa bangsa ini masih
tinggi situasi diskriminasinya tentu memerlukan berbagai data. Sebenarnya tidak
tega juga untuk mengatakan hal itu atau menyusun satu persatu data yang
mengungkapkan adanya diskriminasi di negeri ini. Nyesek rasanya, karena
menyaksikan itu dari waktu ke waktu tanpa bisa berbuat sesuatu yang berarti.
Apabila hanya melontarkan penilaian, tentu juga akan sangat menyesakkan jika
tanpa disertai dengan data konkret tentang yang terjadi.
Rabu, 27 Februari 2019
Agama Bukanlah Sebuah Alat Penghakiman
Setiap orang yang pernah hidup di dunia ini
pasti pernah berbuat salah. Semua orang mengakuinya. Dan kesalahan itu akan
menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Oleh karena kesadaran akan kesalahan
itu pula, orang kemudian mencoba untuk tidak jatuh dalam lubang yang sama.
Orang terdorong untuk bergerak ke arah kesempurnaan. Atau dalam bahasa
spiritual, manusia selalu bergerak ke arah pencerahan. Berbagai macam cara
dilakukan untuk memperoleh pencerahan itu, atau paling tidak hidupnya tidak
lagi mudah jatuh ke dalam kesalahan. Apabila ada seseorang yang telah
mencapainya, kemudian banyak orang berbondong-bondong mengikuti agar dirinya
semakin mendekati kesempurnaan itu.
Cinta Sejati itu hanya ada di TV/Film?
Membicarakan cinta, seakan tidak pernah akan ada habisnya topik itu dibicarakan. Berjuta buku, lagu, film, sinetron telah tercipta dengan tema tentang cinta. Sebegitu menarik dan misteriusnyakah cinta itu sehingga di setiap masa, selalu saja ada topik tentang cinta. Kisah-kisah itu terajut dalam sebuah alur yang endingnya berbeda-beda, entah ber-ending happy atau sad. Semuanya mencoba mengungkap apa dan bagaimana cinta itu. Sebagian mengungkapkan adanya cinta sejati, sebagian lagi, menyampaikan tentang begitu dangkalnya cinta karena pasti menyertakan adanya tragedi. Lalu untuk apakah kisah-kisah itu diungkapkan?
Langganan:
Postingan (Atom)
