Begitu banyak pertentangan di
dunia ini disebabkan oleh karena manusia tidak lagi mencari kebenaran, tetapi
penampakan kebenaran. Ide tentang kehendak Tuhan, itulah penampakan kebenaran.
Dan pertentangan terjadi ketika setiap orang memiliki ide tentang
pengetahuannya terhadap kehendak Tuhan. Orang merasa mengetahui apa yang Tuhan
kehendaki, dan ketika itu diyakini dengan begitu kuatnya, terkadang tak segan
ia “meniadakan” kebenaran lainnya yang juga mengatakan bahwa ia mengetahui apa
yang Tuhan kehendaki. Padahal, siapakah di dunia ini yang benar-benar Tuhan
kehendaki? Dengan klaim bahwa seseorang mengetahui kehendak Tuhan, maka ia
merasa memiliki kebenaran itu. Padahal, yang ia miliki bukan kebenaran, tetapi
hanya penampakannya saja. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang Tuhan
kehendaki, yakni kebenaran itu sendiri.
Minggu, 04 Februari 2018
APA ITU KEBENARAN? (6)
Suatu kali ada seorang OMK
bertanya kepadaku: kenapa orang begitu mudah melihat kejelekan atau kesalahan
orang lain, sementara jarang yang berani mengakui kesalahan dan kejelekan diri
sendiri. Lalu aku pun menjawab bahwa setiap orang pasti lebih mudah untuk
mementingkan diri sendiri. Dengan membicarakan kejelekan orang lain atau pun
kesalahannya, seolah diri sendiri mendapatkan kebenaran dan tidak lebih buruk
dari orang lain. Itu kecenderungan yang alamiah, seperti ketika kebanyakan orang
akan mencari keselamatan sendiri ketika kapal yang ditumpanginya karam. Jarang
ada orang yang merelakan pelampungnya untuk dipakai orang lain agar orang itu
selamat. Itulah manusia, maunya selalu
menjadi pemilik kebenaran dan dengan begitu terselamatkanlah dirinya. Tapi
apakah itu kebenaran?
APA ITU KEBENARAN? (5)
Kebenaran itu sesuatu hal yang
menggelisahkan. Pernyataan ini mungkin ada sebagian orang setuju, namun ada
juga yang tidak setuju. Aku pun tidak ingin mempertentangkan pernyataan itu.
Aku hanya ingin merenungkan kembali tentang betapa berlikunya jalan kebenaran
itu. Mungkin di sepanjang segala abad, kebenaran akan terus mengambil jalan
berliku. Hal ini bisa dilihat dengan beragamnya agama agama yang muncul di
tengah-tengah dunia ini yang semuanya mengklaim bahwa yang dibawanya adalah
sebuah kebenaran. Klaim itu pun kadang disertai dengan tindakan-tindakan
kekerasan yang membuat kebenaran seolah berdiri gagah dengan taring dan
kuku-kuku mengerikan. Bahkan tidak segan-segan kebenaran yang diklaim oleh
berbagai macam agama itu menyerang, mencakar, menggigit, menendang, serta
memakan klaim kebenaran lainnya dan mengatakan bahwa kebenaran di luar klaim
agamanya adalah sebuah kebenaran palsu. Kita tahu, bagaimana jalan kebenaran
itu begitu berliku, ketika Martin Luther menyatakan diri meninggalkan Gereja
Katolik dan membangun gerejanya sendiri. Kita pun tahu, bagaimana jemaat
Ahmadiah dikatakan sesat oleh orang-orang Muslim. Pun ada juga pertentangan
antara Sunni serta Syiah dalam kebenaran muslimin (Islam). Belum lagi aliran
budhisme Hinayana, Mahayana. Mereka pasti punya klaimnya sendiri tentang
kebenaran, bahkan akhirnya muncul para atheis yang juga pasti punya klaim
kebenarannya sendiri.
APA ITU KEBENARAN? (4)
Dalam
perkawinan Katolik, dikenal dan diterapkan prinsip unitas dan indisollubilitas
(kesatuan dan ketakterceraian). Selain itu, dalam perkawinan Katolik tidak
mengenal apa itu poligami dan poliandri. Banyak orang Katolik setuju dan
menjalankannya dengan setia prinsip-prinsip itu, namun pada kenyataannya, ada
juga yang memilih untuk dicederai atau mencederai prinsip itu. Ada beberapa
pasangan Katolik yang akhirnya berpisah, ataupun memiliki selingkuhan. Jika
prinsip pertama disebut sebagai kebenaran, tentu tindakan dicederai dan
mencederai prinsip itu adalah tindakan mengabaikan kebenaran. Dalam ranah ini,
kebenaran adalah bagi mereka yang mampu dengan setia berpegang pada prinsip
itu, sementara yang akhirnya tak mampu setia, ia termasuk bagian dari mereka
yang tidak benar. Tetapi apakah dalam situasi dicederai dan mencederai itu
tidak terkandung kebenaran? Kenapa perkawinan di luar Katolik mengenal
perceraian dan itu dianggap wajar? Mengapa sesuatu yang bertentangan dengan
kebenaran dianggap sebagai suatu hal yang wajar? Apakah karena kebenaran juga
“ada” dalam sisi lain prinsip itu sehingga dianggap hal wajar?
APA ITU KEBENARAN? (3)
Suatu ketika Sunan Kalijaga
berdiri di tepi pantai, dalam hati ia sangat merindukan bisa pergi ke Mekah
untuk melaksanakan ibadah haji. Keinginan pergi ke Mekah ini sebenarnya adalah
perintah dari gurunya, Sunan Bonang. Maka dengan cara apapun, Sunan Kalijaga
akan berjuang melaksanakan perintah gurunya itu. Ia kemudian terjun ke laut,
dan berenang menyeberangi laut. Ketika mencapai tengah samudera, Sunan Kalijaga
melihat ada seseorang berjalan di atas air, dengan tenang menghampirinya dan
menyapanya. Orang itu adalah Nabi Khidir. Nabi Khidir pun menunjukkan kepada
Sunan Kalijaga bahwa segala tindakan dalam hidup ini haruslah direnungkan
dengan sungguh-sungguh maksud serta tujuannya. Ia menjelaskan bahwa tidak ada
gunanya ke Mekah jika Sunan Kalijaga hanya ingin mengunjungi Ka’bah yang
terbuat dari batu, tanah dan kayu. Kabah sesungguhnya adalah Kabatullah (Ka’bah
Allah), dan itu letaknya di dalam hati setiap orang. Nabi Khidir menunjukkan
bahwa setiap hati manusia adalah Ka’bah Allah.
APA ITU KEBENARAN? (2)
Berbicara tentang kebenaran,
mungkin memang memerlukan berjuta-juta kata untuk menjelaskannya, namun mungkin
juga tanpa kata. Yang paling mudah dikatakan, adalah kebenaran itu sebuah
misteri. Sebagaimana Yesus yang tetap diam ketika Pilatus menanyakan tentang
kebenaran kepadaNya. [Maka kata Pilatus
kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau
mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku
datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran;
setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku." Kata
Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?" (Yoh 18:37-38)].
Aku setuju dengan komentar salah
satu temanku, bahwa kebenaran itu relatif sekaligus absolut. Seperti istilah:
“Perubahan adalah ketidakberubahan itu sendiri”, di dalam perubahan yang terus
terjadi, di sanalah terdapat ketidakberubahan. Atau dengan kata lain,
ketidakberubahan itulah perubahan yang terus menerus terjadi. Ketika kita
mengabsolutkan kebenaran, maka kebenaran itu akan menjadi begitu miskin; namun
jika kita merelatifkan kebenaran, kita tengah menyangkal keberadaan Sang
MahaBenar yakni Tuhan Allah itu sendiri. Lalu bagaimana pertanyaan Pilatus
hendaknya dijawab? Bahkan Yesus pun diam seribu kata. Ia hanya menunjukkan
kebenaran dengan keberanianNya memilih taat dalam cinta kepada Allah dan
manusia. BagiNya, kebenaran itu menyatukan, meski realitas yang ada dalam dunia
ini tetap berbeda-beda. Ia seperti bangunan Candi Borobudur, yang terdiri antara
Kamadhatu (lambang nafsu tak teratur),
Rupadhatu (relief yang menggambarkan tentang usaha untuk melepaskan diri dari
nafsu namun masih terikat pada rupa dan bentuk), serta Arupadhatu (pencerahan
tertinggi ketika manusia hanya tertuju pada Nirwana). Ketiga hal itu tak dapat
dipisahkan, jika kita hendak berbicara tentang kebenaran dalam ranah manusia.
Meski demikian, gambaran itu pun tentu masih begitu miskin dibandingkan dengan
hakikat kebenaran.
APA ITU KEBENARAN? (1)
Setelah menonton Film Silence,
adaptasi dari Novel berjudul sama karangan seorang novelis Jepang, Shusako
Endo, terbersit dalam benakku sebuah pertanyaan: apa itu kebenaran? Pertanyaan
ini terlahir dari secuil pemahaman bahwa ternyata pewartaan iman Kristen telah
melukai hati sebagian orang Jepang. Lantas dari luka itu, otoritas yang
berkuasa mengambil kebijakan untuk menyerang balik dengan memotong akar
pewartaan iman Kristen. Bagi mereka, tindakan memotong akar ini adalah sebuah
kebenaran, sama halnya pewartaan para misionaris bagi orang Jepang. Pada
akhirnya, kebenaran tetap menjadi sebuah pertanyaan. Ketika beberapa imam,
bahkan imam terakhir yang berkarya di Jepang akhirnya berujung pada kemurtadan,
di sisi lain tidak sedikit orang Jepang yang rela mati sebagai martir demi iman
Kristen, kebenaran tetap menjadi sebuah misteri. Inilah kegelisahan para pastor
yang akhirnya murtad itu. Kenapa kebenaran begitu berliku jalannya, kenapa
keberadaannya begitu tersembunyi? Bagi orang Jepang yang memurtadkan para imam
itu, tindakan kemurtadan para imam merupakan jalan penuh rahmat yang mengantar
pada Tuhan, sementara bagi para martir asli Jepang, kemartiran merupakan jalan
menuju Firdaus (Paraiso). Dan kebenaran tetaplah bungkam, sehening Kristus yang
tidak melawan ketika dibawa ke penyaliban. Itukah kebenaran?
Langganan:
Postingan (Atom)





