Kursus Bulan Pastoral pada hari
ini cukup menarik. Tema yang diangkat adalah soal dialog dengan agama Islam.
Setelah kemarin mencoba mengenali tantangan-tantangan dialog sosial
anthropologis budaya yang sering kali menjadi konflik serta pertikaian, hari
ini diajak untuk mengerucut lagi tentang persahabatan dengan saudara-saudari
kita muslim yang tentu memiliki pandangan beranekaragam dalam menghayati
imannya serta dalam memandang agama non-muslim. Hari ini, kita semua dibantu
oleh ibu Fatimah Husein, seorang ibu dosen UIN Kalijaga dan juga UGM tentang
kajian Islam di Indonesia. Pada awal pemaparannya, ibu Fatimah mengajak kita
semua (para peserta Bulpas) untuk menelusuri kembali hal-hal sejarah yang masih
menjadi alasan bagi saudara muslim untuk tetap tidak toleran dengan saudaranya
yang non muslim. Salah satu hal tersebut adalah sejarah dihapusnya 7 kalimat
dalam Piagam Jakarta.
Selasa, 09 Juli 2013
Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Jumat, 5 Juli 2013
Acara Kursus Bulan Pastoral pada
hari ini memiliki tema tentang Pluralitas di Indonesia dan juga tentang
Pastoral lingkungan hidup. Dalam mengikuti acara demi acara, aku mengalami saat
dimana ketertarikan terhadap tema serta kenyataan kemampuan akal budiku terasa
memiliki rentang yang begitu jauh. Aku ingin mengerti, namun pemahamanku
terkadang tidak cukup untuk mencerna dan menginternalisasikannya. Ada semacam
keterasingan dalam diri, ketika menyadari beratnya tugas serta tantangan yang
hendak dihadapi. Kesadaran akan kenyataan diri ini terkadang membuat gamang
akan segala yang akan dilalui.
Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Kamis, 4 Juli 2013
Pada hari ini, kursus Bulan
Pastoral 2013 membicarakan tentang persoalan diskriminasi berdasarkan gender di
masyarakat. Dengan narasumber Ibu Yustina Rostiawati, kami para peserta diajak
untuk memahami tentang gender dan juga segala realitas yang tinggal, mengemuka,
serta kompleks di dalamnya. Pada awal pembicaraan, aku merasa agak tidak bisa
mengikuti, karena alur yang dibuat menjadi sedemikian rumit. Kita disuruh
mendiskusikan tentang nilai-nilai serta ajaran tradisi yang muncul pada saat
masa kecil, remaja hingga dewasa. Nilai-nilai dan ajaran serta tradisi itu
ditelaah sebagai bagian dari proses pembagian peran-peran yang dikonstruksikan
oleh masyarakat tentang pria dan wanita. Di dalam konstruksi tersebut, terdapat
hal-hal yang membelenggu kaum tertentu dan telah sedemikian terkristalisasi
hingga berciri diskriminatif.
Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Rabu, 3 Juli 2013
Hari ketiga mengikuti Bulan
Pastoral di Wisma de Mazenod Condong Catur ini kujalani dengan lancar. Pada
hari ketiga, kursus diawali dengan
Perayaan Ekaristi secara berbeda oleh Romo Kieser, bertepatan dengan Hari Raya
Rasul Thomas. Dalam perayaan ekaristi, kami diajak untuk merefleksikan
perutusan Thomas, yang percaya pada Kristus. Aku agak tidak dapat mengikuti
perayaan itu karena aku demikian ngantuk, dan entah kenapa seolah aku masih
saja merasa enggan untuk terus bersemangat.
Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Selasa, 2 Juli 2013
Kursus Bulan Pastoral hari kedua.
Pagi hari, aku mengawali dengan mengikuti Perayaan Ekaristi di Kapel, yang
kumengerti dimulai pada pukul 06.00. Tetap saja ada kemalasan yang tertinggal
di dalam jiwaku ini, yang akhirnya mengajak tubuhku untuk tidak segera beranjak
dari tempat tidur. Meski tidak terlambat, namun terasa begitu tergesa. Dalam
perayaan Ekaristi pun, aku tidak begitu fokus karena masih terasa demikian
ngantuk. Tetapi aku bersyukur karena aku boleh mengalami semua peristiwa ini,
boleh berjumpa dengan teman-teman pastor dari berbagai tempat di Indonesia ini.
Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Senin, 1 Juli 2013
Hari ini aku mengawali
keterlibatanku di dalam Bulan Pastoral yang akan berlangsung selama satu
bulan (Juli- Agustus). Aku berangkat
dari Sragen dengan agak malas, karena merasa belum mempersiapkan apa-apa. Aku
merasa kekurangan waktu dengan segala hal yang harus kulakukan. Dan aku tak
tahu kenapa begitu. Ada banyak kegagalan yang terjadi pada diriku ini. Aku
berangkat dari Sragen sekitar pukul 13.00. Setelah makan siang bersama dengan
Patrick, aku berangkat dengan Megapro ke Bayat bersama dengan Patrik. Sesampai
di Bayat, sekitar pukul 15.00, aku langsung bertemu dengan keluarga Bpk Widodo dan juga mas Sapari yang mengantarkan
barang-barangku. Aku merasa tidak sangat yakin dalam memasuki peristiwa baru
ini. Ada banyak pekerjaan yang rasanya belum selesai, namun sudah harus
kutinggalkan.
Kamis, 28 Maret 2013
Yesus Sang Guru Sejati (Renungan Untuk Kamis Putih)
Perayaan
Hari Kamis Putih adalah perayaan pemberian diri Tuhan bagi manusia. Marilah kita memahami peristiwa yang ditulis
dalam Kitab Suci tentang Perjamuan Terakhir dan tentang Pembasuhan Kaki para
murid ini dengan pemahaman yang sederhana. Yesus yang adalah Sang Guru Sejati telah mengetahui bahwa
diriNya akan disalib, memberikan ajaran terakhirNya bagi manusia. Ajaran itu
bukanlah sebuah ajaran yang sulit diterima oleh nalar, namun sangat sederhana.
Bahkan ajaran yang diberikan oleh Yesus pun tidak perlu dijelaskan dengan
kata-kata. Ajaran itu adalah Kasih hingga akhir. Kasih itu diwujudkan dengan
penyerahan diri, menjadi pelayan bagi sesamanya, khususnya bagi mereka yang
kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Sebagai seorang guru, Yesus membasuh kaki
murid-muridNya sebagai wujud hakikatnya yang sejati sebagai seorang Guru.
Langganan:
Postingan (Atom)