Kamis, 05 September 2019

ORANG JAWA MESTI BELAJAR DARI ORANG DAYAK

              Wacana dari Presiden Joko Widodo pada tahun 2019 ini tentang perpindahan Ibu Kota Negara Republik Indonesia ke Pulau Kalimantan sempat menyita perhatian banyak pihak. Tentu Presiden dan stafnya tidak asal saja melontarkan wacana tersebut, dan tentu bukan hanya akan berhenti sebagai wacana tetapi merupakan program pemerintah untuk diwujudnyatakan pada tahun-tahun mendatang. Aku pribadi tidak begitu heran dengan wacana tersebut dan mendukung sepenuh hati jika ibu kota negara benar-benar dipindahkan dari Jakarta ke Pulau Kalimantan. Untuk persisnya di provinsi dan kota mana, hal itu belum benar-benar diketahui secara pasti oleh segenap rakyat Indonesia. Namun, di luar adanya pro dan kontra atas wacana tersebut, tentunya segenap bangsa ini akan menyambut baik kebijakan pemerintah tersebut.

Senin, 24 Juni 2019

BENARKAH AGAMA MEMBAWA SELAMAT DUNIA AKHIRAT?


Di Indonesia, agama menjadi salah satu status sosial yang melekat erat dalam setiap diri warganya. Hampir setiap warga negara di Indonesia menganut agama tertentu, hingga di Kartu Tanda Penduduk (KTP)-nya dicantumkan tentang agama si pemiliknya. Meski dalam Pancasila sebagai dasar negara hanya disebutkan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, namun agama tetap mendapatkan tempat yang begitu istimewa. Dengan memiliki identitas agama tertentu, maka setiap orang tergabung dalam sebuah kelompok tertentu yang juga memiliki identitas yang sama. Dengan memiliki agama, orang tidak akan merasa sendirian di negeri ini. Mungkin karena manusia Indonesia ini merasa harus sama dengan yang lainnya, ia tetap memilih agama tertentu untuk menjadi tempatnya berlindung agar tidak sendirian. Manusia Indonesia tetap takut sendirian, entah ia bergabung dalam agama mayoritas maupun minoritas. Agama menjadi isu sosial yang seringkali melanggar area privat seseorang yang benar-benar merdeka.

Minggu, 16 Juni 2019

AGAMA: SEMACAM NARKOBA?


Pernah terlontar dari seorang Karl Marx, filsuf kebangsaan Jerman tentang agama yang disebutnya sebagai opium bagi masyarakat. Ia menulis gagasannya itu dalam sebuah tulisan berjudul: “A Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right”. Ia menulis karyanya ini pada tahun 1843. Konteks tulisan Karl Marx ini adalah sebuah introduksi untuk sebuah buku kecil yang mengkritisi Filsuf Georg Wilhelm Friedrich Hegel yang menulis Elements of The Philosophy of Right pada tahun 1820. Tulisan Marx ini awalnya tidak terkenal karena tidak diterbitkan hingga setelah kematiannya. Tulisan itu diterbitkan dalam sebuah jurnal yang hanya dicetak sebanyak 1000 salinan saja. Kutipan ini mulai terkenal setelah pemikiran Marx banyak diikuti pada sekitar tahun 1930-an.

Perlu dilihat lebih jauh, bahwa kutipan terkenal dari Karl Marx ini lebih sering diambil secara sepotong-potong tanpa menyertakan keseluruhannya. Dalam tulisannya tentang agama sebagai opium masyarakat, Marx sebenarnya tidak bermaksud mengatakan bahwa agama sebagai sebuah hal yang membuat manusia mengalami ketergantungan semacam candu, tetapi lebih melihat sebagai sebuah cara untuk melepaskan diri dari rasa sakit dan penderitaan sebagaimana cara kerja opium. Kutipan Marx ini secara lengkap berbunyi demikian: “


Kamis, 23 Mei 2019

JANGAN HUKUM PARA PERUSUH

Sedih benar menyaksikan terjadinya kerusuhan pasca pengumuman hasil Pemilu Capres dan Cawapres tahun 2019. Pada tanggal 22 Mei 2019, di beberapa tempat di Ibukota Jakarta terjadi kerusuhan antara massa yang mendemo hasil pemilu berhadapan dengan pihak Kepolisian yang mengamankan dan menjaga kantor Bawaslu dan KPU. Kerusuhan itu terjadi ketika massa mulai melempari para petugas kepolisian dengan batu, bom molotov dan juga petasan. Pada tanggal 22 Mei 2019, sejak dini hari, beberapa tempat di Jakarta berubah seperti medan perang. Lemparan batu, petasan dan bom molotov dari para pendemo dibalas dengan tembakan water canon dan gas air mata dari petugas kepolisian. Beberapa mobil yang terparkir di sekitar tempat demo pun tak luput dari pembakaran oleh para pendemo.

Senin, 22 April 2019

GAME OF THRONES DI PEMILU INDONESIA 2019



Di tahun politik ini, tahun 2019, Indonesia tengah melangsungkan Pesta Demokrasi dengan adanya Pemilu 2019. Pemilu kali ini amat berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya karena diadakan secara serentak antara Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden. Tentu tension (tegangan) politiknya semakin terasa pada Pemilu 2019 dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya. Meski tegangan politiknya terasa meningkat, namun pelaksanaan kampanye dan Pemilu sendiri yang berlangsung pada tanggal 17 April 2019 dapat berjalan dengan lancar. Meski setelahnya tentu ada beberapa kekurangan, hal itu masih akan terus disempurnakan hingga KPU (Komisi Pemilihan Umum), lembaga negara penyelenggara Pemilu,  mengumumkan hasil Pemilu secara resmi pada tanggal 22 Mei 2019.

Jumat, 19 April 2019

JANGAN KORBANKAN RAKYAT DEMI AMBISI PRIBADI


Pemilu tahun 2019 usai sudah. Berbagai cerita tentang kampanye dan juga perjuangan untuk menyelenggarakan pemilu sampai di pelosok negeri ini menyisakan sebuah kesan indah. Meski ada beberapa pejuang Pemilu itu yang akhirnya meninggal atau sakit, namun mereka dengan tulus melaksanakan tugas mengawal dan membantu suksesnya Pemilu. Disebutkan pula bahwa tingkat partisipasi rakyat Indonesia pada Pemilu kali ini amat luar biasa karena bisa mencapai lebih dari 80%. Artinya, rakyat Indonesia telah memiliki kesadaran untuk membangun demokrasi di negara ini demi Indonesia Maju. Tidak sedikit pula yang terlibat langsung sebagai Petugas KPPS, Banwaslu, KPU dan juga TNI-Polri yang mengawal dan mengamankan pelaksanaan Pemilu. Mereka melaksanakan itu semua dengan tulus karena mereka mencintai negeri ini.
 (Keterangan Video: kiriman dari seorang teman, Bripda Marselina Oktavianti, PAM TPS, Pengamanan serta pengawalan logistik pemilu 2019 di Desa Kualan Hulu, Kec. Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Beberapa tahun yang lalu saya pernah tinggal di Simpang Hulu dan berkunjung ke desa tersebut)

Rabu, 17 April 2019

FENOMENA ITU BERNAMA JOKOWI


Beberapa saat lalu sebelum pemilu berlangsung, aku mendapat sebuah kiriman video tentang sejarah hidup singkat Bapak Jokowi, calon presiden nomer 01 di tahun 2019. Dalam video tersebut, Pak Jokowi bercerita tentang sejarah singkat hidup beliau yang digambarkan dengan animasi kartun. Sekilas video itu tampak sederhana dan tak ada sesuatu yang istimewa. Tidak ada prestasi yang amat menonjol dari hidup seorang Pak Jokowi. Tapi aku tertarik dengan salah satu kisah yang beliau ceritakan saat kuliah dulu.  Cerita itu adalah saat beliau jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Iriana, yang sekarang adalah istri beliau. Diceritakan oleh beliau bahwa demi bertemu Iriana, Jokowi muda yang tengah berkuliah di UGM rela bolak-balik Jogja-Solo menggunakan angkutan umum. Dalam video, ditampilkan gambar bus dengan tulisan Mira, bus antar kota antar propinsi Jurusan Jogja-Surabaya. Sebagai seorang anak yang terlahir di Klaten dan bapakku berasal dari Jogja, jalan Jogja-Klaten menjadi begitu istimewa bagiku. Hingga akhirnya aku kuliah di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta pun, jalan Jogja-Klaten selalu kulalui ketika aku hendak pulang kampung ataupun kembali ke kampus di Jogja. Aku juga sering menggunakan angkutan umum bus antar kota-antar propinsi. Cerita Pak Jokowi ini begitu membuatku terharu, karena ternyata jalan yang sering kulalui, juga dulu sering dilalui oleh Pak Jokowi yang sekarang ini adalah Presiden Indonesia ke-7 dan tengah maju ke Pilpres tahun 2019-2024. Cerita sederhana beliau menyentuh sisi emosionalku, bahwa seorang Presiden Indonesia ternyata tidak jauh berbeda dari rakyat kecil sepertiku. Aku juga merasa, ternyata seorang rakyat kecil macam Pak Jokowi pun bisa jadi pemimpin negara besar, bangsa besar, bangsa Indonesia ini.