Wacana dari
Presiden Joko Widodo pada tahun 2019 ini tentang perpindahan Ibu Kota Negara
Republik Indonesia ke Pulau Kalimantan sempat menyita perhatian banyak pihak.
Tentu Presiden dan stafnya tidak asal saja melontarkan wacana tersebut, dan
tentu bukan hanya akan berhenti sebagai wacana tetapi merupakan program
pemerintah untuk diwujudnyatakan pada tahun-tahun mendatang. Aku pribadi tidak
begitu heran dengan wacana tersebut dan mendukung sepenuh hati jika ibu kota
negara benar-benar dipindahkan dari Jakarta ke Pulau Kalimantan. Untuk
persisnya di provinsi dan kota mana, hal itu belum benar-benar diketahui secara
pasti oleh segenap rakyat Indonesia. Namun, di luar adanya pro dan kontra atas
wacana tersebut, tentunya segenap bangsa ini akan menyambut baik kebijakan
pemerintah tersebut.
Kamis, 05 September 2019
Senin, 24 Juni 2019
BENARKAH AGAMA MEMBAWA SELAMAT DUNIA AKHIRAT?
Minggu, 16 Juni 2019
AGAMA: SEMACAM NARKOBA?
Pernah terlontar dari seorang Karl
Marx, filsuf kebangsaan Jerman tentang agama yang disebutnya sebagai opium bagi
masyarakat. Ia menulis gagasannya itu dalam sebuah tulisan berjudul: “A Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right”. Ia menulis karyanya ini pada
tahun 1843. Konteks tulisan Karl Marx ini adalah sebuah introduksi untuk sebuah
buku kecil yang mengkritisi Filsuf Georg Wilhelm Friedrich Hegel yang menulis
Elements of The Philosophy of Right pada tahun 1820. Tulisan Marx ini awalnya
tidak terkenal karena tidak diterbitkan hingga setelah kematiannya. Tulisan itu
diterbitkan dalam sebuah jurnal yang hanya dicetak sebanyak 1000 salinan saja.
Kutipan ini mulai terkenal setelah pemikiran Marx banyak diikuti pada sekitar
tahun 1930-an.
Perlu dilihat lebih jauh, bahwa
kutipan terkenal dari Karl Marx ini lebih sering diambil secara sepotong-potong
tanpa menyertakan keseluruhannya. Dalam tulisannya tentang agama sebagai opium
masyarakat, Marx sebenarnya tidak bermaksud mengatakan bahwa agama sebagai
sebuah hal yang membuat manusia mengalami ketergantungan semacam candu, tetapi
lebih melihat sebagai sebuah cara untuk melepaskan diri dari rasa sakit dan
penderitaan sebagaimana cara kerja opium. Kutipan Marx ini secara lengkap
berbunyi demikian: “
Kamis, 23 Mei 2019
JANGAN HUKUM PARA PERUSUH
Sedih benar
menyaksikan terjadinya kerusuhan pasca pengumuman hasil Pemilu Capres dan
Cawapres tahun 2019. Pada tanggal 22 Mei 2019, di beberapa tempat di Ibukota
Jakarta terjadi kerusuhan antara massa yang mendemo hasil pemilu berhadapan
dengan pihak Kepolisian yang mengamankan dan menjaga kantor Bawaslu dan KPU.
Kerusuhan itu terjadi ketika massa mulai melempari para petugas kepolisian
dengan batu, bom molotov dan juga petasan. Pada tanggal 22 Mei 2019, sejak dini
hari, beberapa tempat di Jakarta berubah seperti medan perang. Lemparan batu,
petasan dan bom molotov dari para pendemo dibalas dengan tembakan water canon
dan gas air mata dari petugas kepolisian. Beberapa mobil yang terparkir di sekitar
tempat demo pun tak luput dari pembakaran oleh para pendemo.
Senin, 22 April 2019
GAME OF THRONES DI PEMILU INDONESIA 2019
Di tahun politik ini, tahun 2019, Indonesia
tengah melangsungkan Pesta Demokrasi dengan adanya Pemilu 2019. Pemilu kali ini
amat berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya karena diadakan secara serentak
antara Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden. Tentu tension (tegangan)
politiknya semakin terasa pada Pemilu 2019 dibandingkan pemilu-pemilu
sebelumnya. Meski tegangan politiknya terasa meningkat, namun pelaksanaan
kampanye dan Pemilu sendiri yang berlangsung pada tanggal 17 April 2019 dapat
berjalan dengan lancar. Meski setelahnya tentu ada beberapa kekurangan, hal itu
masih akan terus disempurnakan hingga KPU (Komisi Pemilihan Umum), lembaga
negara penyelenggara Pemilu, mengumumkan
hasil Pemilu secara resmi pada tanggal 22 Mei 2019.
Jumat, 19 April 2019
JANGAN KORBANKAN RAKYAT DEMI AMBISI PRIBADI
Pemilu tahun 2019 usai sudah. Berbagai cerita
tentang kampanye dan juga perjuangan untuk menyelenggarakan pemilu sampai di
pelosok negeri ini menyisakan sebuah kesan indah. Meski ada beberapa pejuang
Pemilu itu yang akhirnya meninggal atau sakit, namun mereka dengan tulus
melaksanakan tugas mengawal dan membantu suksesnya Pemilu. Disebutkan pula
bahwa tingkat partisipasi rakyat Indonesia pada Pemilu kali ini amat luar biasa
karena bisa mencapai lebih dari 80%. Artinya, rakyat Indonesia telah memiliki
kesadaran untuk membangun demokrasi di negara ini demi Indonesia Maju. Tidak
sedikit pula yang terlibat langsung sebagai Petugas KPPS, Banwaslu, KPU dan
juga TNI-Polri yang mengawal dan mengamankan pelaksanaan Pemilu. Mereka
melaksanakan itu semua dengan tulus karena mereka mencintai negeri ini.
(Keterangan Video: kiriman dari seorang teman, Bripda Marselina Oktavianti, PAM TPS, Pengamanan serta pengawalan logistik pemilu 2019 di Desa Kualan Hulu, Kec. Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Beberapa tahun yang lalu saya pernah tinggal di Simpang Hulu dan berkunjung ke desa tersebut)
Rabu, 17 April 2019
FENOMENA ITU BERNAMA JOKOWI
Beberapa saat lalu sebelum pemilu berlangsung,
aku mendapat sebuah kiriman video tentang sejarah hidup singkat Bapak Jokowi,
calon presiden nomer 01 di tahun 2019. Dalam video tersebut, Pak Jokowi
bercerita tentang sejarah singkat hidup beliau yang digambarkan dengan animasi
kartun. Sekilas video itu tampak sederhana dan tak ada sesuatu yang istimewa.
Tidak ada prestasi yang amat menonjol dari hidup seorang Pak Jokowi. Tapi aku
tertarik dengan salah satu kisah yang beliau ceritakan saat kuliah dulu. Cerita itu adalah saat beliau jatuh cinta
kepada seorang gadis bernama Iriana, yang sekarang adalah istri beliau.
Diceritakan oleh beliau bahwa demi bertemu Iriana, Jokowi muda yang tengah
berkuliah di UGM rela bolak-balik Jogja-Solo menggunakan angkutan umum. Dalam
video, ditampilkan gambar bus dengan tulisan Mira, bus antar kota antar
propinsi Jurusan Jogja-Surabaya. Sebagai seorang anak yang terlahir di Klaten
dan bapakku berasal dari Jogja, jalan Jogja-Klaten menjadi begitu istimewa
bagiku. Hingga akhirnya aku kuliah di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
pun, jalan Jogja-Klaten selalu kulalui ketika aku hendak pulang kampung ataupun
kembali ke kampus di Jogja. Aku juga sering menggunakan angkutan umum bus antar
kota-antar propinsi. Cerita Pak Jokowi ini begitu membuatku terharu, karena
ternyata jalan yang sering kulalui, juga dulu sering dilalui oleh Pak Jokowi
yang sekarang ini adalah Presiden Indonesia ke-7 dan tengah maju ke Pilpres
tahun 2019-2024. Cerita sederhana beliau menyentuh sisi emosionalku, bahwa
seorang Presiden Indonesia ternyata tidak jauh berbeda dari rakyat kecil
sepertiku. Aku juga merasa, ternyata seorang rakyat kecil macam Pak Jokowi pun
bisa jadi pemimpin negara besar, bangsa besar, bangsa Indonesia ini.
Langganan:
Postingan (Atom)


