Sabtu, 19 November 2011

Urip Kuwi Sejatine Mung Mampir Ngguyu

ada sebuah teka-teki dari Budhisme: "How can one prevent a drop of water from ever drying up?" dan jawabannya adalah: "By throwing it into the sea". Kita ini seperti sebuah tetesan air...yang akan segera kering. Satu-satunya cara agar setetes air itu tidak kering adalah dengan melemparkannya ke laut. Laut adalah analogi dari Sang Sumber, yang akan membuat setetes air itu tidak pernah kering. Hanya dengan bersatu dengan DIA, Sang Sumber-lah, kita yang rapuh dan berdosa ini tetap hidup dan tidak musnah seperti setetes air di tengah padang gurun.....

Pengantar

Salah satu peristiwa yang tak terelakkan bagi manusia adalah maut atau kematian.  Suatu ketika, manusia pasti mengalami kematian. Atas peristiwa itu, sering manusia bertanya: lantas setelah mati, kemanakah jiwa kita? Apakah jiwa kita ikut mati dan musnah? Atau tetap hidup namun seperti apa? Secara logika empiris, pertanyaan itu tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Memang ada orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan melihat dunia orang mati (situasi jiwa manusia setelah mati), namun hal itu tidak pernah menjadi suatu kecakapan bagi manusia pada umumnya. Hanya orang-orang tertentu yang mampu melihatnya, dan itu juga bukan merupakan suatu kenyataan yang dapat dilihat dengan mata kepala normal.
Pertanyaan tentang kematian adalah pertanyaan eksistensial tentang hidup manusia. Sebab dengan bertanya tentang kematian, manusia sekaligus bertanya tentang kehidupannya yang tidak bersifat abadi di dunia ini. Jika kematian menjadi kepastian, apakah hidup ini lantas mempunyai makna?Dan dari pertanyaan-pertanyaan itu pula, manusia mulai mempertanyakan tentang keilahian, asal muasal dan tujuan hidupnya. Pertanyaan ini pun menghantar manusia untuk berjumpa dengan Tuhan, Sang Pemilik kehidupan dan kematian. Tulisan ini hendak mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kematian badan dari sudut pandang iman Katolik mulai dari segi biblis hingga ajaran Gereja saat ini.


Tentang Kematian menurut Kitab Suci Perjanjian Lama

Kitab Suci adalah buku iman. Kisah maupun ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci adalah kisah maupun ajaran iman. Tema tentang kematian sebagai bagian dari hidup beriman telah muncul dalam Kitab Suci (Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru). Kematian menjadi tema yang menarik untuk direnungkan karena kematian sendiri mengandung misteri.  Sejak permulaan dunia, kesadaran akan kematian ini telah menjadi bagian dari pergulatan iman. Hal ini terungkap dalam kesadaran manusia bahwa ia diciptakan dari debu dan akan kembali menjadi debu. Dengan kata lain, hidup di dunia dengan tubuh ini bukanlah hidup yang abadi tetapi mengenal masa dimana tubuh akan hancur musnah kembali menjadi debu (Kej 2:7). Kenyataan bahwa hidup manusia di dunia ini tidaklah abadi begitu menggelisahkan dan menakutkan manusia. Seolah semua yang ada di muka bumi ini sia-sia ketika berhadapan dengan kematian (Kitab Pengkotbah). Lantas apakah hidup ini sebuah kesia-siaan seluruhnya karena akan berakhir pada kematian? 
Pada titik inilah pergulatan tentang kematian lalu mengarahkan kepada  iman bahwa setelah kematian badan, jiwa ini tetap hidup dan menghadapi pengadilah Allah, Sumber Segala Sesuatu. Kepercayaan akan kebangkitan badan inilah yang mengarahkan manusia untuk selalu setia kepada Allah sebab hanya dengan menaati segala firmanNya, manusia akan hidup abadi. Dalam Kitab Suci, hal ini diungkapkan dengan adanya Perjanjian antara Allah dan umat Israel. Allah telah berkenan memilih umat Israel sebagai umatNya, dan umat diminta untuk setia kepada perjanjian tersebut. Jika umat setia kepada Allah, maka keselamatan akan dianugerahkan bagi umat pilihanNya.
Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, kisah tentang kebaikan Allah kepada manusia ini tergelar hingga para nabi.Para nabi mengingatkan umat untuk setia kepada perjanjian tersebut, dan dengan demikian akan diselamatkan, akan mendapatkan anugerah hidup kekal.


Kematian menurut Kitab Suci Perjanjian Baru

            Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, kasih Allah semakin tampak nyata di dalam diri Yesus Kristus, Putra-Nya yang bahkan memberikan diri untuk mengalami sengsara dan maut untuk menyelamatkan manusia agar manusia masuk ke kehidupan kekal. Berulang kali Kristus mengajarkan tentang kehidupan kekal setelah kematian badan. Dalam Injil Yohanes 10: 25-30: Yesus menjanjikan hidup kekal kepada domba-domba-Nya yang mendengarkan suara-Nya. Lalu dalam Yoh 11:25 Yesus mengatakan bahwa Dialah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaNya akan hidup meski ia sudah mati. Dalam ajaranNya mengenai rumah Bapa, Yesus pun mengatakan bahwa di rumah Bapa banyak tempat tinggal dan Yesus hendak mempersiapkan bagi umatNya. (Yoh 14).
Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, iman akan hidup kekal setelah kematian badan ini amat tampak. Hidup kekal ini merupakan bagian dari janji Allah karena kasihNya yang begitu besar bagi manusia (umatNya). Hal ini ditegaskan oleh Paulus di dalam pewartaan Injilnya bagi bangsa-bangsa. Dalam Suratnya Kepada Jemaat di Roma, Paulus menulis: Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan. Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. (Rm 2:5-8). Kehidupan kekal menurut Paulus juga dapat diartikan sebagai saat dimana kita dapat memandang Allah dari muka ke muka (1 Kor 13:12). Anugerah hidup kekal ini diberikan kepada kita berkat sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus yang telah mematahkan kuasa maut serta mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2 Tim 1: 10).


Kotbah St. Yohanes Maria Vianney tentang Kematian

Suatu hari akan datang, mungkin tak lama lagi, saat kita harus mengucapkan selamat tinggal kepada hidup, selamat tinggal kepada dunia, selamat tinggal kepada sanak saudara, selamat tinggal kepada para sahabat dan teman. Bilakah kita kembali, anak-anakku? Tak kan pernah. Kita muncul di atas bumi ini, kita lenyap, dan kita tak kembali lagi; tubuh kita yang malang, yang kita rawat sedemikian rupa, lebur menjadi abu, dan jiwa kita, sepenuhnya gemetar, menghadap hadirat Allah yang baik. Saat kita meninggalkan dunia ini, di mana kita tak akan kembali lagi, saat kita menghembuskan napas hidup kita yang terakhir, dan kita mengucapkan selamat tinggal kita yang terakhir, tentulah kita berharap telah melewatkan hidup kita dalam keheningan, dalam kedalaman padang gurun, jauh dari dunia dan segala kenikmatannya. Ada pada kita contoh-contoh pertobatan di depan mata kita setiap hari, anak-anakku, namun demikian, kita selalu tetap sama. Kita melewatkan hidup kita dengan sukaria, tanpa pernah memikirkan keabadian. Dengan sikap acuh tak acuh kita dalam mengabdi Allah yang baik, orang akan berpikir bahwa kita tak akan pernah mati.
Lihat, anak-anakku, sebagian orang melewatkan seluruh hidup mereka tanpa memikirkan kematian. Kematian datang, dan lihatlah! mereka tidak mempunyai apa-apa: iman, harapan dan kasih, semuanya telah mati dalam diri mereka. Saat maut menjemput, apakah yang kita peroleh dari tiga perempat hidup kita? Bagaimanakah kita mengisi bagian terbesar hidup kita? Apakah kita memikirkan Allah yang baik, memikirkan keselamatan kita, jiwa kita? Oh, anak-anakku! betapa bodohnya dunia ini! Kita datang ke dalam dunia, kita pergi meninggalkannya, tanpa tahu mengapa. Allah yang baik menempatkan kita dalam dunia agar kita mengabdi kepada-Nya, menguji kita apakah kita mengasihi-Nya dan setia pada hukum-hukum-Nya; dan setelah masa ujian yang singkat ini, Ia menjanjikan ganjaran bagi kita. Tidakkah adil jika Ia mengganjari hamba yang setia dan menghukum hamba yang jahat? Adakah seorang Trappist, yang melewatkan hidupnya dengan menyesali dan menangisi dosa-dosanya, diperlakukan sama dengan seorang Kristen yang acuh, yang hidup dalam kelimpahan di tengah segala kenikmatan hidup? Tidak; tentu saja tidak. Kita ada di dunia bukan untuk menikmati segala kesenangannya, melainkan untuk mengusahakan keselamatan kita.
Marilah kita mempersiapkan diri menghadapi kematian, janganlah sampai kita kehilangan satu menit pun: maut akan datang pada saat yang tak terduga; maut akan menjemput kita dengan tiba-tiba. Lihatlah para kudus, anak-anakku, mereka senantiasa gemetar dan takut; sementara kita, yang begitu sering menghina Allah yang mahabaik, kita tak mengenal takut. Hidup mempersiapkan kita agar kita belajar menghadapi kematian dengan baik, tetapi kita tak pernah memikirkannya. Kita menyibukkan diri dengan segala hal lainnya. Pikiran tentang kematian seringkali muncul dalam benak kita, namun kita selalu menolaknya; kita menundanya hingga saat-saat terakhir. Oh, anak-anakku! Saat-saat terakhir ini, betapa pantas kita gemetar atasnya! Tetapi, Allah yang baik tidak menghendaki kita berputus asa; Ia menunjukkan kepada kita penyamun yang baik, yang tergerak untuk bertobat, mati dekat dengan-Nya di salib. Lihatlah, ia mati dekat Allah yang baik. Dapatkah kita berharap dekat dengan-Nya di saat-saat akhir hidup kita - kita, yang telah demikian jauh dari-Nya sepanjang hidup kita? Apakah yang telah kita lakukan hingga pantas memperoleh belas kasihan yang demikian? Begitu banyak kejahatan, dan tak ada perbuatan baik pada kita.
Suatu ketika, adalah seorang imam Trappist yang gemetar sekujur tubuhnya menyadari bahwa maut akan segera menjemput. Seorang bertanya kepadanya, “Bapa, apakah yang engkau takutkan?” “Pengadilan Tuhan,” katanya, “Ah! Jika engkau gemetar menghadapi pengadilan - engkau yang telah melakukan begitu banyak penyangkalan diri, engkau yang mengasihi Tuhan begitu rupa, yang telah sejak lama mempersiapkan kematianmu - lalu, apa jadinya dengan aku?” Lihat, anak-anakku, agar meninggal dengan baik, kita harus hidup dengan baik; agar hidup dengan baik, kita harus memeriksa batin kita dengan seksama: setiap sore, kita merenungkan apa yang telah kita lakukan sepanjang hari itu; setiap akhir pekan, kita meninjau kembali apa yang telah kita lakukan sepanjang pekan; setiap akhir bulan, kita meninjau kembali apa yang telah kita lakukan sepanjang bulan; setiap akhir tahun, apa yang telah kita lakukan sepanjang tahun. Dengan cara demikian, anak-anakku, pastilah kita akan dapat membenahi diri kita dan menjadi orang-orang Kristen yang saleh dalam waktu singkat. Maka, ketika kematian datang, kita telah cukup siap; kita bahagia pergi ke surga.[1]


Ajaran Kompendium Katekismus Gereja Katolik tentang Kematian

Ajaran tentang Kematian Badan dalam magisterium Gereja dapat ditemukan dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik yang diterbitkan oleh Paus Benediktus XVI pada tanggal 28 Juni 2005. Soal ‘kematian badan’ terkait dengan pokok iman dalam Syahadat iman Katolik tentang ‘Aku percaya akan kebangkitan badan’. Dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik tersebut, pada artikel 205 menyebut secara khusus tentang apa yang terjadi dengan badan dan jiwa kita sesudah kematian. Paus Benediktus XVI menyebutkan bahwa sesudah kematian, yaitu terpisahnya jiwa dengan badan, badan menjadi rusak, sedangkan jiwa, yang tak dapat mati, menghadapi pengadilan Allah dan menantikan persatuannya kembali dengan badan setelah dibangkitkan pada saat Tuhan datang kembali. Lantas apa artinya kebangkitan badan? Dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik artikel 203 disebutkan: badan kita yang fana ini suatu ketika akan hidup lagi. Dan pertanyaan mengenai bagaimana kebangkitan badan itu terjadi, melampaui kemampuan imaginasi dan pemahaman kita sebagai manusia.
Ajaran tentang kebangkitan badan dan kehidupan kekal ini memuat ajaran tentang pengadilan terakhir, adanya surga, neraka dan api pencucian. Kehidupan kekal adalah kehidupan yang mulai langsung setelah kematian. Kehidupan ini tidak mempunyai akhir, akan didahului dengan pengadilan khusus bagi setiap orang oleh Kristus yang mengadili orang yang hidup dan yang mati. Pengadilan khusus ini akan dipastikan pada pengadilan terakhir (Kompendium Katekismus Gereja Katolik, 207). Sementara itu, pengadilan khusus adalah pengadilan yang berakibat langsung, terjadi setelah kematian. Melalui jiwanya yang abadi, setiap orang akan menerima pembalasan sesuai dengan iman dan perbuatannya. Pembalasan ini bisa berarti masuk ke dalam kebahagiaan surga, secara langsung atau setelah proses pemurnian, atau masuk ke dalam kutukan abadi neraka. (Kompedium Katekismus Gereja Katolik, 208).
Lantas apakah itu surga? Surga berarti suatu keadaan bahagia yang tertinggi dan definitif. Mereka yang mati dalam keadaan rahmat Allah dan tidak membutuhkan pemurnian lebih jauh berkumpul bersama Yesus dan Maria, para malaikat, dan para kudus. Mereka merupakan Gereja surga, tempat mereka melihat Allah ‘muka dengan muka’ (1 Kor 13:12). Mereka hidup dalam kesatuan cinta dengan Tritunggal dan menjadi pengantara kita. (KKGK, 209).
Apakah itu api penyucian? Api penyucian adalah keadaan mereka yang mati dalam persahabatan dengan Allah, ada kepastian akan keselamatan kekal mereka, tetapi masih membutuhkan pemurnian untuk masuk ke dalam kebahagiaan surga. Jiwa-jiwa yang masih di dalam api penyucian ini dapat dibantu oleh orang-orang yang masih berjuang di dunia dengan mempersembahkan doa-doa untuk mereka, khususnya kurban Ekaristi. Kita juga dapat membantu mereka dengan beramal, indulgensi, laku tapa dan tobat. (KKGK, 211).
Dan apakah itu neraka? Neraka adalah kutukan kekal bagi mereka yang mati dalam keadaan dosa berat karena pilihan bebas mereka sendiri. Penderitaan neraka yang utama adalah keterpisahan kekal dari Allah yang merupakan satu-satunya sumber kehidupan dan kebahagiaan yang merupakan tujuan kita diciptakan dan yang merupakan kerinduan kita. Kristus menjelaskan realitas ini dengan kata-kata: “ Enyahlah dari hadapan-KU, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal” (Mat 25:41). (KKGK, 212). Keputusan untuk masuk ke dalam kebahagiaan atau hukuman abadi yang dijatuhkan Yesus terhadap orang-orang benar maupun orang-orang yang tidak benar (Kis 24:15) adalah saat kedatangan Kristus sebagai Hakim yang mengadili orang yang hidup dan yang mati. Pengadilan ini terjadi pada hari kiamat, dan hanya Allah yang mengetahui hari dan waktunya. (KKGK, 214-215).

Penutup

            Marilah kita mempersiapkan diri untuk selalu mengarahkan hidup kita ke surga, dengan hidup di dalam hadirat Allah melalui Kristus Putera-Nya. Marilah kita hidup seturut Kristus di dalam Gereja KudusNya. Memuji dan memuliakan namaNya dalam setiap perjalanan hidup kita. Selain itu, marilah kita mencintai Bunda Maria di dalam setiap sikap iman kita. Sebab kasih Sang Bunda akan menolong kita. Santo Yohanes Maria Vianney mengatakan: “Hati Bunda yang amat lemah-lembut ini sepenuhnya adalah cinta dan belas kasihan; ia hanya menginginkan kita bahagia. Kita hanya perlu datang kepadanya agar ia mendengar kita. Putra memiliki keadilan-Nya, tetapi Bunda tak memiliki apa-apa kecuali kasih sayangnya. Tuhan begitu mengasihi kita sehingga Ia rela wafat bagi kita; tetapi dalam hati Kristus ada keadilan-Nya, yang adalah atribut Allah; dalam hati Santa Perawan Tersuci, tak ada yang lain selain belas kasihan. Putranya siap menghukum mereka yang berdosa, Maria menengahi, ia menahan pedang keadilan, memohon dengan sangat pengampunan bagi pendosa yang malang. “Ibu,” demikian Kristus berkata kepada Bunda-Nya, “Aku tak dapat menolak apa pun permohonanmu. Bahkan jika neraka bertobat, engkau akan beroleh pengampunan baginya.”[2]

Selamat mempersiapkan pulang ke surga, sebab urip kuwi sejatine mung mampir ngguyu!!!




Sragen, 19 November 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar