Kamis, 28 Maret 2013

Yesus Sang Guru Sejati (Renungan Untuk Kamis Putih)



Perayaan Hari Kamis Putih adalah perayaan pemberian diri Tuhan bagi manusia.  Marilah kita memahami peristiwa yang ditulis dalam Kitab Suci tentang Perjamuan Terakhir dan tentang Pembasuhan Kaki para murid ini dengan pemahaman yang sederhana. Yesus yang adalah  Sang Guru Sejati telah mengetahui bahwa diriNya akan disalib, memberikan ajaran terakhirNya bagi manusia. Ajaran itu bukanlah sebuah ajaran yang sulit diterima oleh nalar, namun sangat sederhana. Bahkan ajaran yang diberikan oleh Yesus pun tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Ajaran itu adalah Kasih hingga akhir. Kasih itu diwujudkan dengan penyerahan diri, menjadi pelayan bagi sesamanya, khususnya bagi mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Sebagai seorang guru, Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai wujud hakikatnya yang sejati sebagai seorang Guru.

Dalam hidup ini, kita seringkali dikotak-kotakkan dalam kelas-kelas sosial yang membuat kita berjenjang dengan yang lain. Ada yang memiliki pangkat atau kedudukan lebih tinggi, dan ada yang lebih rendah. Bahkan dalam hidup ini, kita sering dikejar-kejar oleh keinginan dan perjuangan supaya menjadi yang nomer satu, atau menjadi yang terutama. Tata dunia ini telah diatur sedemikian rupa supaya setiap orang berkompetisi untuk menjadi yang terbaik, yang tersukses, yang terpandai, yang tertinggi, yang paling berkuasa, dan sebagainya. Tidak jarang untuk memperoleh yang terbaik, yang tersukses, yang terpandai, yang tertinggi, dan yang paling berkuasa, orang lantas menggunakan cara-cara menyingkirkan orang lain. Sebagai contoh misalnya: ketika orang hendak memperoleh pekerjaan tertentu, ia harus membayar uang yang paling banyak, agar diterima bekerja di posisi tersebut; atau kisah seorang lurah/bupati/kepada daerah yang mengalahkan pihak saingannya dengan menggunakan uang sogokan. Dan tentu masih banyak contoh yang lain. Jika demikian yang terjadi, maka di Indonesia ini akan selalu ada penindasan dan ketidakadilan. Orang yang kaya semakin kaya, sementara orang miskin, makin miskin; Orang berkuasa semakin berkuasa, sementara orang miskin semakin dilupakan dan disingkirkan. Terjadinya ketidakadilan di bumi ini adalah ketika masing-masing orang tidak memiliki kasih yang sejati, mereka masih berpamrih, dan tidak mau melayani.

Pada hari Kamis Putih, Yesus memberi teladan pada kita semua tentang bagaimana menjadi seorang pelayan sejati. Dialah Guru Sejati yang memberi ajaran para muridNya tidak hanya dengan kata-kata hikmat, namun dengan penyerahan diri. Dia yang adalah Guru, tidak malu, tidak sungkan, tidak jijik, dan tidak berpamrih dalam membasuh kaki murid-muridNya. Tindakan Yesus ini tidak dimaksudkan sebagai sebuah pencitraan agar diriNya dipandang sebagai seorang guru yang baik, tetapi sungguh muncul dari hati yang penuh cinta. Kenapa begitu? Karena apa yang dilakukannya ini merupakan rangkuman dari seluruh pelayanan yang telah dilakukanNya bersama dengan murid-muridNya. Kenapa rangkuman? Karena Yesus akan dipersembahkan sebagai korban penebusan, di salib, yang adalah Puncak KasihNya bagi manusia. Ia mengasihi manusia tidak hanya melalui ajaran-ajaranNya, tetapi berikut hidupNya, diriNya sepenuhnya, seutuhnya, dari awal hingga akhir.

Dari kisah tentang Pembasuhan Kaki para murid ini,  Yesus mengajak kita supaya memiliki kasih pelayanan yang murni sebagaimana telah dibuatNya. Kasih yang murni itu tidak mengenal pengkotak-kotakan berdasarkan status sosial maupun kedudukan. Justru pada diri mereka yang sering kali tidak dipandang oleh dunia, dan disingkirkan oleh manusia, dicurahkan kasih yang lebih besar. Sama seperti Kristus yang berkenan membasuh kaki para murid dan bukan kepala, atau tangan, atau tubuh. Kaki adalah anggota tubuh kita yang selalu melayani kita untuk berjalan. Kaki bersentuhan langsung dengan tanah, dengan segala debu dan kotoran dunia. Setiap hari, kaki berjuang menopang tubuh untuk berjalan. Meski begitu, kaki jarang sekali mendapat pujian dari orang-orang (kecuali kalau pemain sepakbola atau atlit yang mengandalkan kaki mereka untuk berlomba). Orang lebih sering memuji anggota tubuh selain kaki, misalnya: wajah tampan, badan tegap, tangan kekar, dst. Jarang sekali kaki disebut untuk maksud sebuah pujian kepadanya. Yesus membasuh kaki para murid-Nya itu menunjukkan pada kita bahwa kasih yang murni itu mengangkat yang hina dina supaya menjadi SESAMA. Yesus menjungkirbalikkan segala kebiasaan manusia yang seringkali mengkotak-kotakkan dan membuat penyingkiran-penyingkiran sesamanya karena pamrih. Yesus justru mengajak kita semua menjadi satu, sama, dan saling melayani.

Sudahkah kita melayani, mengasihi, dan mengabdi dengan tulus seperti Yesus? Masihkah kita melihat ‘rupa’ namun tidak melihat ‘hati’? Sebab dihadapan Allah, setiap ‘hati’ manusia itu dicintai oleh-Nya. Jika demikian halnya, kenapa justru kita sendirilah yang telah membuat pembedaan itu? Sudahkah kita mengasihi tanpa banyak alasan kata-kata, namun nyata dalam pilihan, perjuangan, dan juga kerendahan hati mendengarkan orang lain, memberikan waktu bagi yang lain, tidak pilih-pilih dalam bersahabat dan bersaudara, serta selalu berpikir positif terhadap orang lain. Peristiwa pembasuhan kaki para murid ini menjadi teladan konkret dari Yesus tentang mengasihi sampai akhir. Yesus hendak mengatakan bahwa sekali Dia sudah memilih untuk mengasihi, maka Ia akan menyerahkan sepenuhnya pada kasih itu. Ia tidak menyisakan apapun bagi diriNya sendiri. Ia tidak mempertahankan gengsiNya, Ia tidak menggunakan statusNya sebagai guru agar dilayani, tapi justru melayani dengan sepenuh hati, hingga wafat di kayu salib. Inilah wujud solidaritas sejati dari diri Yesus, satu-satunya manusia yang benar, yang tidak menolak untuk dipaku pada kayu salib bagi manusia. Satu-satunya manusia yang tidak berdosa, namun bersedia menanggung segala hukuman akibat dosa manusia agar manusia dibebaskan dari belenggu dosa.
Sungguh indah jika setiap jiwa mampu menangkap keagungan cinta Yesus ini dan menghidupinya dalam setiap langkah waktunya. Pemimpin yang sebenarnya adalah Dia yang berani menyerahkan hidupNya bagi kebahagiaan orang lain yang dipimpinNya, dan Guru Sejati adalah seorang yang berani memberikan diriNya sebagai ajaran bagi para murid-muridNya. Ajaran yang utama itu terungkap, ketika Yesus bersedia mengalami penderitaan yang teramat ngeri yang berawal di Taman Getsemani, ketika Dia sungguh ditinggalkan, dilupakan dan benar-benar sendirian, hingga Ia menerima salib untuk menebus seluruh umat manusia dari dosa, dan menyatakan bahwa cinta sejati itu merupakan satu-satunya senjata utama melawan segala kejahatan dan penderitaan. Yesus tidak hanya mengajarkan itu, tapi Yesus melakukannya. Yesus tidak banyak berkata-kata, Ia melaksanakan itu dengan ketaatan sederhana, namun teguh. Ia menjalankan itu sebagaimana manusia biasa, namun dengan kerendahan hati yang teramat agung. Dan Ia menerima itu dengan kepasrahan yang amat indah demi manusia yang seringkali memberontak dak tidak bertahan dalam ketaatan.
Di dalam kehinaan yang begitu dahsyat namun tetap setia pada kebenaran dan ketaatan yang luar biasa pada kehendak Allah inilah penyelamatan terjadi, penyelamatan terwujud, dan kesejatian terungkap. Ia-lah kehadiran Allah dalam realitas sejarah manusia. Dialah sabda Allah. Dia-lah kebenaran.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar