Sabtu, 13 Juli 2013

Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Kamis, 11 Juli 2013



Pada hari Kamis ini, tema studi dalam Bulan Pastoral pada hari ini adalah penelusuran tentang  Imamat dari Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Narasumber dari sessi ini adalah Rm. Indra Sanjaya, dosen Kitab Suci Fakultas Teologi Wedabhakti, dulu dosenku juga. Judul yang diangkat oleh Rm. Indra adalah Imamat: Dari Presbiter ke Sacerdos. Romo Indra menelusuri  pemahaman tentang imamat berdasarkan Kitab Suci, dimulai dari Perjanjian Lama, hingga Surat Ibrani. Sessi ini berlangsung kurang lebih 7,5 jam. Sejak pagi setelah sarapan, hingga pukul 21.00. Sessi ini lumayan berat, karena teori Kitab Suci membuat kita semua memikirkan tentang banyak hal terkait dengan pemahamanan imamat. 

Aku sendiri merasa agak kesulitan mengikuti sessi ini, karena begitu penuh dengan pemikiran-pemikiran sejarah serta biblis yang tidak mudah untuk dipetakan serta dipahami. Namun aku berusaha untuk memahami, meski juga tidak sepenuhnya ketat dengan topik yang dibahas. Aku mencoba untuk memahami dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak langsung terkait dengan materi. Aku merasakan bahwa untuk duduk diam mendengarkan seperti mengikuti kuliah kembali, bukanlah hal yang mudah. Apalagi harus mendengarkan materi yang cukup berat selama kurang lebih 6 jam.

Dalam sessi itu, aku lebih banyak sibuk dengan diriku sendiri, mencoba untuk tidak bosan dan terus berusaha mengikuti alur pembicaraan yang terjadi. Namun sekali lagi, aku merasa banyak hal yang tidak mampu kutangkap. Beberapa hal yang mungkin dapat kupetik dari sessi ini adalah tentang pemahaman imamat yang ditelusuri dari kitab suci. Pada awalnya, imamat sangat terkait dengan apa yang disebut sebagai sacerdos (bahasa Latin) yang artinya adalah imam (pemimpin ibadat kultis). Ini disebabkan karena dulu pada zaman  Perjanjian Lama, imam terkait erat dengan kaum Lewi yang tugasnya adalah pemimpin ibadat di Bait Allah. Konsep tentang presbiter (penatua) belum ada. Presbiter itu mulai ada ketika jemaat perdana berkumpul dan memecah-mecah roti. Meski pada saat itu juga, mereka masih mengikuti Yudaisme.

Akhirnya aku menyadari bahwa pemahaman imamat di dalam Kitab Suci ini tidaklah mudah untuk dipahami dalam waktu satu hari. Romo Indra mengajak untuk melihat kembali peran imam di dalam perkembangan konsep tentang imamat itu serta melihat konteks sosial hidup masyarakat yang dipimpinnya. Romo Indra mengajak untuk melihat tantangan-tantangan yang bisa dihadapi oleh presbiter pada zaman ini, menyangkut: sekularisme, individualisme dan juga relativisme. Jika imamat hanya dipahami sebagai melulu sacerdos, maka tantangan-tantangan ini akan semakin perlu untuk ditanggapi, sebab tantangan-tantangan itu menyangkut tentang iman serta teologi yang mengalami krisis di zaman ini.

Akhir sessi, Romo Indra mengajak para peserta untuk mempelajari Surat Ibrani, terkait dengan imamat. Surat Ibrani berbicara tentang imamat Yesus Kristus, yang mengatasi imam agung Melkisedek, yakni ketika Kristus itu adalah korban, imam dan altar. Pada saat ada korban itulah, imam mendapatkan fungsinya, yakni ialah yang melaksanakan korban.  Meski begitu, Romo Indra mengatakan bahwa teks Ibrani tidak dapat digunakan secara eksplisit untuk mendasari pemahaman tentang imamat sekarang ini. Atas itu semua, aku bersyukur, semoga aku mampu menjalankan peran sebaik-baiknya, sebelum Tuhan menyatakan bahwa waktu hidupku di dunia ini, sudah cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar