Sabtu, 13 Juli 2013

Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Rabu, 10 Juli 2013



Hari ini diawali dengan perayaan Ekaristi bersama dengan Romo Kieser yang mengajak untuk merenungkan tentang Yesus yang mengutus para muridNya untuk berbuat sesuatu bagi dunia. Masih dengan gaya yang tidak biasanya (penggabungan antara ibadat ofisi serta Ekaristi), kita semua mengawali hari dengan mempersatukan diri di dalam Ekaristi. Dalam ekaristi itu, aku dipasrahi untuk menjaga komputer dan powerpoint dari Romo Kieser. Aku agak ngantuk, sehingga perlu untuk terus disemangati agar tidak bablas tidur.

Setelah sarapan, sessi berlanjut oleh Rm. Kieser yang memaparkan tentang penafsiran dekonstruktif atas teks Kotbah di Bukit (Mat 5-7). Di dalam penafsiran itu, aku diajak untuk memahami pesan utama yang terkandung dalam teks itu.  Romo Kieser mengungkapkan tentang warta KEADILAN yang ditegaskan oleh Kristus dalam kotbah di bukit itu. Keadilan memiliki beberapa hal pokok yang harus diupayakan (diperjuangkan): soal sikap terhadap sesama, jangan sampai mengesampingkan siapapun juga. Dan jika kita mengesampingkan, itu sama saja dengan membunuh.  Selain itu, untuk sampai kepada keadilan, kita juga diajak untuk membangun ‘trust’ (kepercayaan) dengan menawarkan ‘trust’. Unsur lainnya: tidak menjadikan sesama sebagai obyek, selalu setia demi kebersamaan, soal keadilan sosial itu harus dimulai dari diri sendiri, serta solidaritas itu harus diwujudkan. Apa yang diungkapkan oleh Romo Kieser ini begitu menggugah, bahwa di dalam mewujudkan keadilan, berarti melibatkan setiap orang untuk bernalar (tidak hanya sekedar menyampaikan pesan), demi kepentingan umum (bonum commune) dan juga hidup dari hati Allah. Akhirnya kita diajak untuk sempurna seperti Allah, yang memberikan hujan serta matahari, bagi siapa saja, entah orang baik, ataupun orang jahat.

Sessi sore sampai malam diisi oleh Rm. Madya Utama tentang Merayakan Ekaristi, Merayakan Kehidupan. Romo Madya mengungkapkan tentang apa itu Ekaristi dan bagaimana sesungguhnya Ekaristi itu hadir di dalam komunitas yang saling mengasihi, serta memiliki daya ubah yang signifikan untuk berani terus menerus memperjuangkan Kerajaan Allah. Romo Madya memaparkan tentang teologi Ekaristi dari  Skandal Korintus, Konsili Vatikan II, Paus Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, Gustavo Guiterez, dan juga dokumen-dokumen Gereja semacam Presbyterorum Ordinis. Itu semua mengarah pada soal pembangunan Kerajaan Allah yang saling timbal balik dengan Ekaristi. Akhirnya, marilah kita semua memiliki hidup yang semakin ekaristis, mau berbagi dan terlibat memperjuangkan KEADILAN, yang menjadi dasar dari Kerajaan Allah. Kiranya masih terus relevan jika kita sebagai para imam ini terus bertanya tentang signifikansi dan relevansi Ekaristi. Sudahkah Ekaristi menjadi pusat dan sumber hidup kita? Untuk itu, Romo Madya pun memberikan pertanyaan-pertanyaan reflektif tentang Ekaristi dan perjuangan mewujudkan Kerajaan Allah yang konkret di tengah dunia. Bagi para imam dan umat beriman, pertanyaan-pertanyaan ini dapat direnungkan:

  • Berapa jumlah umat yang Anda layani? Berapa orang dari mereka itu sungguh Anda kenal (pergulatan hidupnya)?
  • Perubahan signifikan apakah yang terjadi dalam hidup Anda, setelah sekian (ratus/ribu) kali Anda memimpin/ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi?
  • Perubahan signifikan apakah yang terjadi dalam diri umat setelah mereka ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi yang Anda pimpin?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar