Selasa, 09 Juli 2013

Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Jumat, 5 Juli 2013



Acara Kursus Bulan Pastoral pada hari ini memiliki tema tentang Pluralitas di Indonesia dan juga tentang Pastoral lingkungan hidup. Dalam mengikuti acara demi acara, aku mengalami saat dimana ketertarikan terhadap tema serta kenyataan kemampuan akal budiku terasa memiliki rentang yang begitu jauh. Aku ingin mengerti, namun pemahamanku terkadang tidak cukup untuk mencerna dan menginternalisasikannya. Ada semacam keterasingan dalam diri, ketika menyadari beratnya tugas serta tantangan yang hendak dihadapi. Kesadaran akan kenyataan diri ini terkadang membuat gamang akan segala yang akan dilalui.

Tema tentang Pluralitas di Indonesia yang dibawakan oleh Rm. Ismartono,SJ sungguh menantang diri untuk mau berjuang sebagai insan dialog, manusia yang hadir sebagai sahabat, serta berorientasi pada pembangunan bersama, bukan demi diri sendiri ataupun kelompok (golongan) belaka. Jika semua ini masih dalam tataran teori, maka itu semua mudah ditemukan serta dipikirkan, namun ketika sudah dihadapkan pada realitas, hal ini tentu tidak sesederhana yang dipikirkan. Aku mencoba untuk menerima itu semua dengan sederhana juga, menjadi diri sendiri, meski tetap taat dengan aturan yang berlaku. 

Pada sessi Romo Andang, aku merasa dapat menangkap alurnya, hanya setelah sampai pada titik kreativitas, aku merasa apa yang kubuat selama ini belum menampakkan kekreativitasan dalam karya pastoral, meskipun sebenarnya bisa dilakukan. Aku merasa begitu menyia-nyiakan waktuku yang akhirnya berlalu begitu saja. Aku tidak ingin duduk diam saja, tetapi juga masih bingung untuk membuat gerakan apa? Apakah selama ini aku sudah berbuat sesuatu? Atau masih diam saja?

Ada perasaan terasing yang muncul di dalam benakku, ketika menyadari bahwa aku belum berbuat apa-apa. Ada banyak kegagalan yang terjadi dalam hidupku dan seolah aku diam saja dengan itu semua. Atau ada kecenderunganku untuk tetap memelihara sifat pelupa, tidak mau repot dan juga egosentris, yang akhirnya membuatku tidak berani membuat keputusan untuk melakukan suatu gerakan tertentu. Akan tetapi, apa yang telah kuperoleh ini paling tidak memberikan padaku sebuah gambaran konkret mengenai dunia senyatanya, realitas yang ada, yang menjadi medan perjuangan dalam mewartakan kasih Allah dalam diri Yesus Kristus. Membayangkan perjuangan yang tidak mudah ini terkadang membuat diri sedikit merasa takut, apakah aku akan mampu menjalani, menghadapinya. Tetapi dengan terus mengupayakan untuk belajar, mendengarkan, rendah hati, aku mencoba menjalaninya dengan hati yang jujur. Semoga Tuhan membantu perjalanan, perjuangan, dan juga kiprah kita semua.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar