Selasa, 09 Juli 2013

Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Kamis, 4 Juli 2013



Pada hari ini, kursus Bulan Pastoral 2013 membicarakan tentang persoalan diskriminasi berdasarkan gender di masyarakat. Dengan narasumber Ibu Yustina Rostiawati, kami para peserta diajak untuk memahami tentang gender dan juga segala realitas yang tinggal, mengemuka, serta kompleks di dalamnya. Pada awal pembicaraan, aku merasa agak tidak bisa mengikuti, karena alur yang dibuat menjadi sedemikian rumit. Kita disuruh mendiskusikan tentang nilai-nilai serta ajaran tradisi yang muncul pada saat masa kecil, remaja hingga dewasa. Nilai-nilai dan ajaran serta tradisi itu ditelaah sebagai bagian dari proses pembagian peran-peran yang dikonstruksikan oleh masyarakat tentang pria dan wanita. Di dalam konstruksi tersebut, terdapat hal-hal yang membelenggu kaum tertentu dan telah sedemikian terkristalisasi hingga berciri diskriminatif.

Tema yang dibicarakan sebenarnya tidak sangat jauh dari kehidupan sehari-hari terkait dengan keadilan antara laki-laki dan perempuan, namun telaah yang dibuat tidak serta merta mudah untuk dilakukan. Kita semua diajak untuk jeli, kritis di dalam menyadari realitas gender itu di tengah hidup masyarakat. Sebab di dalam berpastoral, kita berhadapan dengan dunia kongkret, yang pasti nyata di tengah dunia. Dalam mengikuti sessi tersebut, aku merasakan begitu banyak kebingungan, karena tidak sungguh mudah memahami adanya realitas ketidakadilan itu. Kita semua diajak untuk lebih kritis di dalam melihat suatu persoalan tentang keadilan.

Meski begitu, aku berusaha untuk memahami satu persatu, dan mencoba untuk memetakan pemahaman itu di dalam benakku. Meski tidak sempurna dalam memahami, paling tidak aku menangkap bahwa persoalan pastoral itu menyangkut soal pendampingan, perjuangan menjadi seorang sahabat yang terus ada di antara mereka, hingga akhirnya mereka tetap terus melanjutkan hidup. Pastoral pun bukan untuk menjawab serta menemukan semua solusi dari setiap persoalan, namun lebih dalam pendampingan yang tidak berkesudahan agar orang lain pun menemukan solusi dari setiap persoalan. Di samping itu, pastoral mengajak kita untuk mau belajar dalam memahami, peka terhadap situasi, menentukan langkah-langkah pendampingan, dan kemudian gerakan pencerahan yang mungkin bisa dibuat.

Sessi ini terus berlanjut hingga malam. Penutup sessi ini adalah dengan menyaksikan film Pertaruhan. Aku punya filmnya, namun belum sungguh-sungguh menyaksikannya. Setelah menyaksikan kisah pekerja seks di Gunung Bolo, Tulungagung, aku diajak untuk memahami lebih jelas lagi tentang adanya ketidakadilan yang nyata di sekitar kita. Ketidakadilan ini menjadikan mereka yang berada di posisi paling lemah dan rendah, akhirnya menjadi korban. Hal ini jelas dialami oleh para perempuan miskin dan tidak berpendidikan. Sehingga, untuk mempertahankan hidup ini, mereka seakan mempertaruhkan hidup mereka sendiri.

Dari sessi ini, paling tidak aku diajak untuk mau mendengar, mau melihat, mau memahami, dan kemudian menganalisa yang obyektif dan jernih, tentang persoalan-persoalan ketidakadilan yang terjadi. Hal ini amat penting sebagai bagian dari kasih pastoral (caritas pastoralis) yang bersentuhan langsung dengan realitas penderitaan di tengah-tengah umat. Terima kasih atas refleksi yang boleh digulati selama sehari ini tentang gender bersama ibu Yustina, semoga aku semakin mau dan mampu  untuk terus belajar dalam mewartakan karya kasihNya di tengah-tengah dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar