Jumat, 19 Juli 2013

Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Selasa, 16 Juli 2013



Tema kursus pada hari ini adalah tentang Gereja Asia dengan FABC-nya dan juga tentang Integritas dalam Pelayanan. Pada hari ini, sessi dibimbing oleh Rm. Purwatma. Mempelajari Gereja Asia diperlukan untuk menyatukan gerak langkah bersama dengan para uskup di Asia yang mencoba mengenali dan memahami umat beriman dalam konteks Asia. Romo Purwatma memulai sessi dengan mengungkapkan tentang latar belakang munculnya FABC, yang merupakan wadah persaudaraan uskup-uskup Asia dalam mewartakan Kristus di Asia. Selanjutnya, romo mengajak untuk mengenali beberapa rekomendasi yang muncul dari FABC bagi pelayanan pastoral di Asia demi mewartakan Kerajaan Allah di bumi Asia. Beberapa pokok tantangan yang dapat diperjuangkan adalah tentang dialog dengan kebudayaan, agama dan juga kemiskinan. Ini diupayakan agar Gereja sungguh mengakar di masyarakat setempat. Menjadi Gereja yang sejati di masyarakat setempat. Selain itu, dalam menjalankan dialog itu, kita perlu  menyadari bahwa karakter Gereja Asia adalah communion of communities yang ditujukkan dengan beranekaragam komunitas, budaya dan agama. Upaya-upaya inkulturasi iman juga mendapat perhatian khusus dalam mewartakan Kristus di tanah Asia.

Romo Purwatma mengajak untuk berefleksi tentang perjuangan FABC ini di paroki masing-masing. Dari beberapa rekomendasi ini, bagian manakah yang sungguh mengena dalam perjuangan mewartakan Kabar Gembira di paroki masing-masing? Kami melakukan refleksi di dalam kelompok baru kami. Masing-masing mengungkapkan pengalaman pastoralnya yang sungguh mengena, sesuai dengan rekomendasi FABC. Aku tidak dapat menangkap banyak tentang point-point pokok yang dihasilkan dari pembicaraan ini, tetapi aku berusaha untuk memahami, bahwa dalam tingkat praksis, Gereja Asia sungguh unik. Untuk mewartakan Kabar Gembira di tanah Asia, paling tidak kita perlu untuk mengenali, memahami dan hidup bersama dengan umat, realitas, dan perjuangan di konteks Asia.
Sessi sore masih bersama dengan Romo Purwatma dan juga Romo Madya Utama, tentang Integritas dalam Pelayanan. Tema ini diangkat untuk menyadari tentang pentingnya Integritas dalam Pelayanan. Hal-hal yang dibicarakan adalah Prinsip-prinsip dan Standar-standar Pelayanan yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Standar Profesional Konferensi Waligereja Australia. Prinsip ini muncul karena adanya latar belakang terjadinya sexual abuse dan sexual harrasment oleh para pelayan pastoral. Prinsip ini dibuat agar para pelayan pastoral tidak mudah jatuh di dalam pelanggaran-pelanggaran itu, tetapi sungguh memiliki Integritas pribadi dalam melayani. Romo Purwatma dan Romo Madya menyebutkan rangkuman isi prinsip-prinsip tersebut dengan disertai contoh-contoh yang terjadi. Hal ini diberikan sebagai bagian dari upaya untuk semakin menjadi pelayan pastoral yang berakar pada Sabda Allah.
Tema ini begitu menarik, karena sungguh real dialami oleh Gereja akhir-akhir ini. Dengan demikian, kita semua yang adalah pelayan pastoral ini diajak untuk memegang prinsip-prinsip pelayanan demi membangun integritas pribadi. Romo Madya mengungkapkan tentang perjuangan keadilan yang diupayakan oleh Gereja bagi para korban yang telah menjadi korban dari para pelayan pastoral itu.  Akhirnya, kita semua diajak untuk semakin sadar, semakin rendah hati, semakin setia, dan semakin tulus di dalam mewartakan Injil, di tanah Asia, dan juga di tengah-tengah konteks hidup dunia sekarang ini, yang tentu mengedepankan  pertanggungjawaban yang obyektif, pelayanan murah hati dan juga dengan integritas pribadi yang menghasilkan buah berlimpah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar