Sabtu, 13 Juli 2013

Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Selasa, 9 Juli 2013



Pada hari ini, setelah dibuka dengan perayaan ekaristi pagi, lalu makan pagi, sessi dilanjutkan oleh pemaparan Rm. Purwatma tentang Komunitas Murid-murid Tuhan. Di dalam pengolahan tema itu, kita (para peserta) diajak untuk memahami kisah terbentuknya komunitas para murid Tuhan. Peristiwa Pentakosta menjadi moment munculnya komunitas murid-murid Tuhan. Romo Purwatma menggunakan gambar-gambar tentang model komunitas yang ada di dalam Gereja. Dalam gambar-gambar itu, kita semua diajak untuk mengenali serta mengkritisi model-model komunitas yang ada.

Lalu ketika masuk ke dalam kelompok untuk berdiskusi, kita diajak untuk belajar menghadapi kasus tentang pemekaran lingkungan dan juga penggabungan lingkungan. Tentang komunitas lingkungan yang sudah berjumlah begitu besar, maka pemekaran menjadi salah satu kebijakan pastoral yang dapat dibuat untuk mengembangkan komunitas. Namun ketika lingkungan yang mau dimekarkan itu mengadakan penolakan, maka dapat dideteksi apakah usaha untuk membangun sebuah komunitas di lingkungan tersebut sungguh sudah baik. Demikian juga sebaliknya, jika ada lingkungan terpencil dan sedikit jumlah kepala keluarganya, mengalami penolakan, maka perlu diberi penyadaran tentang perlunya terbuka pada komunitas yang lebih besar. Unsur-unsur yang membentuk komunitas antara lain bahwa antar anggotanya saling menerima, saling mengembangkan, dan memberdayakan. Selain itu, faktor jumlah serta jarak suatu komunitas turut mempengaruhi tumbuh kembangnya komunitas tersebut.

Aku mencoba memahami itu semua meski dengan tertatih. Satu pokok yang sempat kucatat dari sessi ini adalah soal komunitas Kerajaan Allah. Bagaimana komunitas murid-murid Tuhan yang hendak mengusahakan hadirnya Kerajaan Allah itu terlibat dan berpusat pada Kristus. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu”, begitulah Sabda Tuhan. Dengan begitu, tidak ada demokrasi di dalam Gereja, namun pokok perjuangannya adalah mewujudkan Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Dengan begitu, komunitas Gereja sebagai murid-murid Kristus itu dipanggil untuk terlibat bersama dengan orang miskin untuk memperjuangkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan perkara masa yang akan datang, tetapi perkara saat ini. Komunitas Kerajaan Allah menghadirkan Kerajaan Allah saat ini. Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Roma 14:17). 

Diskusi menjadi menarik karena Romo Madya menambahkan tentang pilihan konkret ketika kita hendak berpihak pada orang miskin. Dan akhirnya beberapa teman menanggapi dengan mengungkapkan perjuangan Gereja di dalam berpihak pada orang miskin. Gereja mau tidak mau juga mengusahakan dana untuk dibagikan bagi orang miskin demi hidup serta kemandirian mereka. Dan aku tetap saja agak kesulitan mencerna itu semua. Ketika dikatakan perjuangan yang telah dicoba untuk diupayakan dalam membantu orang miskin, aku merasa belum berbuat apa-apa. Di dalam pembangunan komunitas pun, aku belum berbuat apa-apa. Namun aku tetap bersyukur bahwa panggilan dan perutusan untuk menjadi bagian dari komunitas murid-murid Tuhan ini adalah panggilan menuju kepada Kerajaan Allah. Dan dengan bahasaku sendiri, aku memahami Kerajaan Allah itu sebagai KEBENARAN. Jika setiap orang diajak untuk hidup dalam kebenaran, bukankah itu perjuangan untuk selalu memaknai hidup ini. Hidup yang bermakna adalah hidup yang di dalam kebenaran, dan itu tidak pernah diperjuangkan sendirian, tetapi di dalam kebersamaan dengan sesama, serta alam semesta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar