Selasa, 09 Juli 2013

Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Sabtu, 6 Juli 2013



Kursus Bulan Pastoral pada hari ini cukup menarik. Tema yang diangkat adalah soal dialog dengan agama Islam. Setelah kemarin mencoba mengenali tantangan-tantangan dialog sosial anthropologis budaya yang sering kali menjadi konflik serta pertikaian, hari ini diajak untuk mengerucut lagi tentang persahabatan dengan saudara-saudari kita muslim yang tentu memiliki pandangan beranekaragam dalam menghayati imannya serta dalam memandang agama non-muslim. Hari ini, kita semua dibantu oleh ibu Fatimah Husein, seorang ibu dosen UIN Kalijaga dan juga UGM tentang kajian Islam di Indonesia. Pada awal pemaparannya, ibu Fatimah mengajak kita semua (para peserta Bulpas) untuk menelusuri kembali hal-hal sejarah yang masih menjadi alasan bagi saudara muslim untuk tetap tidak toleran dengan saudaranya yang non muslim. Salah satu hal tersebut adalah sejarah dihapusnya 7 kalimat dalam Piagam Jakarta.

Setelah itu, secara cerdas, ibu Fatimah mengajak kita semua untuk berpikir kritis terhadap penghayatan agama, tanpa harus mengalami reduksi iman ataupun bersikap ekslusif terhadap agama sendiri. Inilah salah satu buah dari pendidikan, ketika manusia mulai memiliki sikap terbuka, meski bukan untuk mengobral keyakinan, tapi untuk menjadi saksi atas keyakinan imannya. Pendidikan telah mengubah ibu sedemikian rupa, sehingga memiliki pandangan yang amat baru dalam menjalani hidup, agama, prinsip universal, serta dalam menanggapi setiap persahabatan yang mulai muncul di tengah ancaman fanatisme golongan agama tertentu.

Beberapa kali aku bertanya pada ibu Fatimah, karena memang pengalaman real di masyarakat Jawa pada khususnya, akan sangat sering terjadi, yakni soal dialog dengan saudara muslim. Aku merasa perlu untuk terus menemukan pintu dialog, dengan siapapun, di tengah situasi apapun, dengan karakter apapun, dengan resiko apapun. Pada sessi ini, paling tidak aku diajak juga untuk selalu kritis dengan pemikiran diri sendiri, sikap diri sendiri, dan juga setiap pandangan yang muncul sebagai pandangan subyektif. Memang pandangan subyektif itu orisinil, namun perlu untuk terus menerus dikritisi sesuai dengan prinsip nilai-nilai universal.

Sore hari, sessi dilanjutkan dengan ulasan Romo Heru Prakosa tentang Islam di masyarakat Indonesia. Menyambung pembahasan dari ibu Fatimah, Romo Heru mengungkapkan tentang keberanian untuk terbuka pada agama lain menjadi bagian dari perjuangan iman.  Romo menunjukkan pada kita semua tentang perlunya belajar percaya, dan membangun persahabatan dengan ‘yang lain’. Memang tidak sesederhana seperti yang dipikirkan, namun kenyataan ini menjadi hal yang menantang iman kita untuk terus mengupayakan persaudaraan sejati.

Diajak untuk berpikir sedemikan banyak tentang realitas-realitas hidup sebagai tantangan pastoral ke depan, aku sungguh merasa begitu bodoh dengan itu semua. Aku merasa tidak mampu untuk mencerna semuanya, namun paling tidak ada sesuatu yang tetap tinggal di dalam jiwaku, sebagai bekal untuk melangkah dalam perjuangan mengkomunikasikan Allah di dalam nilai-nilai universal itu bagi siapapun juga. Mungkin juga karena ketidakmampuanku ini, aku tidak bisa setia untuk terus memperhatikan narasumber. Aku lebih banyak sibuk dengan diri sendiri, dan menulis kembali novelku yang sempat tersendat. Aku sadar, aku ingin menyelesaikannya, namun aku kadang tak mengerti harus melanjutkannya seperti apa. Semoga, iman membantuku, juga termasuk dalam menghadapi hal-hal yang tak pasti, yang membahayakan, bahkan mematikan. Dan biarlah dalam menghadapi itu semua, aku boleh memiliki hati, seperti hati-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar