Jumat, 19 Juli 2013

Catatan Harian Mengikuti Bulan Pastoral: Senin, 15 Juli 2013



Hari ini, genap dua tahun aku mendapatkan SK untuk melaksanakan tugas sebagai pastor pembantu di Paroki St. Perawan Maria Fatima Sragen. Pada tahun kedua ini, aku sudah diminta untuk menjalani Bulan Pastoral yang menjadi persiapan bagiku untuk diberi tugas baru, sebagai misionaris domestik.  Hari ini, perasaanku tidak menentu, entahlah karena apa, aku juga tidak tahu. Tetapi itulah yang terjadi. Maka, ketika diawal mula sessi hari ini dengan diajak untuk merefleksikan tentang perasaan selama Minggu II, aku menjawab apa adanya, bahwa aku merasa bodoh dengan segala materi yang diberikan secara fullday, penuh dalam satu hari itu. Aku terkadang merasa kewalahan menerimanya sehingga kadang menyibukkan diri dengan aktivitas yang tidak membuatku ngantuk ataupun jenuh. Pada hari ini pula, komposisi kelompok diskusi dibuat baru. Aku masuk ke kelompok dua bersama: Rm. Karel, Rm. Ferdy, Rm. Prima dan Rm.Toro.
Sessi berikutnya adalah kuliah tentang globalisasi dari Bp. Francis Wahono. Bapak Francis Wahono ini pernah memberikan kuliah pada program S2 di FTW bersama dengan Romo I Wibowo,SJ yang meninggal karena kanker. Aku mencoba mengingat kembali tentang globalisasi ini yang seakan melanda setiap jiwa manusia.  Bapak Francis mengungkapkan tentang berbagai macam usaha yang dilakukan untuk mencoba memahami paradigma neo-liberal ini serta kiprahnya yang mengalami pasang surut. Sementara di Indonesia sendiri, neo-liberal justru terkait erat dengan pemerintah yang berkuasa, dalam arti tertentu, neo liberal diterapkan secara politis yang akhirnya tetap saja tidak memberi akses yang berarti bagi masyarakat miskin (rakyat kebanyakan). Aku teringat dengan sebuah buku yang belum sempat aku baca: The Shock Doctrine yang ditulis oleh Naomi Klein. Sungguh menarik mempelajari globalisasi yang terkait dengan dominasi soal ekonomi, sosial, ideologi, agama dan budaya oleh korporasi-korporasi yang mengatasi negara-negara ini. Karena akhirnya Bapak Francis mengajak kita semua untuk kembali kepada nilai-nilai Injili, dan juga Ajaran Sosial Gereja, sebagai prinsip untuk menegakkan keadilan, bonum commune, serta kelestarian lingkungan alam.

Sore hari, kami diajak untuk memahami globalisasi serta penindasan terhadap kaum miskin secara struktural melalui permainan-permainan. Kami diajak untuk memahami tentang keadilan bagi semua. Mengenali model-model masyarakat dengan segala kekuatan dan kelemahannya yang terkait dengan pembagian sumber daya alam secara adil. Ternyata dalam hidup ini, perjuangan untuk memperoleh keadilan itu tidaklah mudah, mensyaratkan kehendak baik, dan perjuangan tulus terus menerus dari banyak pihak, termasuk sistem/paradigma yang jelas melindungi masyarakat secara umum (bonum commune). Akhirnya, Pak Francis juga mengaja untuk memahami sejarah kartu yang sering digunakan untuk main kartu yakni tentang perlawanan rakyat Perancis yang memunculkan revolusi Perancis.

Ada banyak hal yang dilakukan dalam perjuangan menegakkan keadilan, karena dalam sistem masyarakat kita, keadilan seringkali masih jauh mengawang-awang. Kita hanya perlu jeli mengenali bentuk-bentuk ketidakadilan itu di sekitar kita, lalu mulai melibatkan nalar, banyak orang, dalam mengusahakan keadilan yang tidak hanya berhenti pada konsep. Kita semua diajak untuk semakin peka, dalam rangka mewartakan Injil Tuhan dalam karya nyata demi Kerajaan Allah. Syukur atas pengalaman ini, meski aku tahu, ada banyak hal yang masih harus diperjuangkan dan diperbarui terus menerus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar